Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
79.


__ADS_3

"Sayang! Sayang buka matamu, Nisha! Buka matamu, Nisha!" Ray memeluk tubuh Nisha yang kedua matanya sudah terpejam.


Menangani Vansh yang kini diamankan oleh anggota Dark Kill lainnya, Ray dan Heru fokus kepada Nisha.


Dress yang digunakan Nisha tersingkap pada bagian kakinya, dan pada saat itulah Ray menyadari kecerobohannya. Menyentuh ujung kaki Nisha dengan tangan yang bergetar, mengusap noda darah dengan telapak tangannya. Segera Ray mengendong tubuh Nisha.


"Cepat siapkan mobil!" Teriak Ray dengan sangat keras, membuat Heru tercengang.


"Ada apa?"


"Cepat, Nisha berdarah! Cepat!" Ray berteriak sambil berlari membawa Nisha.


Mendengar ucapan Ray, membuat Heru tidak bisa berpikir apa-apa. Hanya bisa menggerakkan kakinya lebih cepat dan menyiapkan mobil yang akan digunakan, saat Ray dan Nisha sudha berada di dalam mobil. Felix yang baru saja tiba langsung mengambil alih kemudi, ia tidak bisa membiarkan Heru mengemudi dalam keadaan seperti itu dan sangat berbahaya.


"Sayang, bangun sayang." Ray mengusap wajah Nisha, berharap kedua matanya akan terbuka.


"Jangan membuatku takut sayang, buka matanya."


Dunia Ray seakan hancur kala melihat sang istri dalam keadaan tidak baik-baik saja, nyawa Nisha dan kedua buah hatinya saat ini sedang terancam. Suhu tubuh Nisha perlahan menjadi dingin, bibir merah itu berubah kebiruan.


"Cepat, kenapa kalian lamban sekali! Istriku dalam bahaya, cepatlah!!" Ray semakin panik dengan keadaan Nisha.

__ADS_1


Kecepatan mobil sudha tidak dapat dibayangkan, berbagai aparat keamanan berusaha mengejar mobil mereka. Namun disaat mengetahui siapa yang berada didalam sana, mereka berubah menjadi pembuka jalur perjalanan bebas hambatan. Akan tetapi, kendaraan mereka jauh tertinggal dari mobil yang dikawal. Felix menggunakan keahliannya dalam menggemudi, bahkan seorang pembalap kelas dunia akan tersaingi olehnya (maaf ya, halu nya outhor saja).


Seakan keberuntungan sedang berpihak pada Ray, tangan dingin itu tiba-tiba saja membalas genggaman tangannya.


"Sa sayang! Bertahanlah, kita akan sampai. Mas mohon bertahanlah."


Mata yang tertutup perlahan membuka dengan perlahan, namun pandangan itu tidak begitu jelas melihat. Tidak ada ucapan apapun yang keluar dari mulut Nisha, hanya senyuman yang ia berikan kepada Ray.


"Bertahanlah sayang, jangan tersenyum seperti itu. Mas mohon, bertahanlah." Suara Ray bergetar, ia sangat ketakutan akan kehilangan.


Sampai saatnya mereka tiba dirumah sakit, genggaman itu tidak terlepas namun kedua mata itu kembali tertutup. Zahra yang sudah mempersiapkan semuanya, mengerti akan situasi saat ini. Ia memperbolehkan Ray untuk ikut masuk dalam ruang tindakan, dibantu oleh dokter lainnya untuk mensterilkan tubuhnya hanya pada bagian atas. Karena genggaman tangan itu masih sangat kuat, hati Ray begitu sakit berada dalam situasi seperti ini.


"Oek oek!"


"Laki-laki." Zahra berteriak menyebutkan jenis kelamin bayi yang baru saja lahir itu.


Memberikan bayi tersebut kepada dokter anak yang berada disana, Zahra melanjutkan langkah selanjutnya untuk mengeluarkan bayi kedua. Akan tetapi, Zahra menemukan sedikit permasalahan. Tiba-tiba saja detak jantung Nisha melemah, semuanya dibuat panik dan segera mencari cara agar kondisi Nisha tetap stabil. Membutuhkan waktu dua puluh menit, namun tekanan jantung semakin melemah. Mau tidak mau, Zahra harus mengeluarkan bayi kedua walaupun sangat berisiko.


"Perempuan, cepat!" Teriakan Zahra menandakan tidak baik-baik saja.


Setelah bayi itu ditangani oleh ahlinya, karena bayi kedua tidak menangis dan mengalami keracunan air ketuban. Zahra kembali fokus untuk menyelamatkan nyawa Nisha, genggaman tangan yang semula sangat kuat dan kini melemah dan terlepas. Ray menyadari hal itu dan langsung menangis.

__ADS_1


"Ti tidak sayang, berjuanglah. Kamu kuat, kamu kuat Nisha."


Brak!


"Kau, keluarlah." Zahra menarik Ray sehingga membentuk meja kecil.


"Tidak, nyawa istriku dalam bahaya. Kau menyuruhku keluar, cepat selamatkan Nisha!!" Ray kembali menuju tempat dimana Nisha masih berbaring, namun lagi-lagi dirinya terhuyung.


"Kau akan membunuhnya dengan keras kepalamu itu, Ray! Keluarlah!"


Tidak ada respon apapun dari Ray, ia hanya ingin tetap menemani istrinya berjuang. Zahra keluar dari dari ruang operasi dan melihat Bibby, Felix serta Heru disana. Menegaskan kepada mereka untuk membawa Ray keluar dari ruang operasi, dan benar saja. Mereka bertiga berhasil membawa Ray keluar, dengan sekuat tenaga dan berbagai ancaman dari tuan mereka.


"Tunggu!" Ray berteriak saat melihat Zahra akan memasuki kembali ruang operasi.


"Apa? Aku tidak punya banyak waktu." Bernada ketus kepada Ray, Zahra bertolak pinggang dihadapan Ray.


"Selamatkan istriku, kumohon."


"Tanpa kau mengucapkannya, itu adalah tujuanku." Zahra meninggalkan mereka dan kembali memasuki ruang operasi.


Berbagai hal yang terjadi saat menyelamatkan nyawa ibu dari dua bayi kembar yang telah lahir, dengan berusaha semaksimal mungkin agar nyawa wanita itu selamat.

__ADS_1


__ADS_2