
"Sa sayang! Sayang kamu kenapa? Nisha!" Ray begitu panik.
"Sshhh, sa sakit!" Nisha meringgis menahan perutnya dengan tangannya.
"Perutku sa sakit mas!" Dengan suara yang sangat berat, Nisha merasakan jika perutnya seperti hancur dengan rasa sakit yang begitu tak tertahankan.
Tubuh Nisha meronta dan mata Ray menangkap perubahan pada kasur yang Nisha gunakan, ada noda merah yang begitu basah dari bagian bawahnya.
"Ti tidak! Dokter! Dokter!" Ray berteriak dengan begitu keras, berharap suaranya didengar oleh yang lainnya.
Jackson dan Zahra yang masih berada didepan ruangan sangat kaget mendengar suara teriakan yang berasal dari dalam, mereka berdua segera berlarian untuk masuk.
"Ada apa?!" Jackson terpaku melihat apa yang terjadi.
Zahra menghampiri Nisha, ia mendapati tubuh itu menjadi dingin dan apa yang ia katakan sebelumnya kepada Ray. Kini telah terjadi, ia segera menekan tombol darurat dan mempersiapkan untuk membawa Nisha menuju ruang tindakan.
"Ada apa ini Ra?! Kenapa istriku seperti ini!" Dalam paniknya, Ray begitu tegas menanyakan keadaan Nisha.
"Sudah aku jelaskan jika keadaan keduanya tidak baik-baik saja, Ray! Ini yang aku takutkan!" Zahra juga tidak menyangka jika hasil pemeriksaan yang ia dapati terjadi begitu cepat, dimana ia berharap hal itu tidak akan terjadi.
Dalam kepanikan semuanya, Nisha masih merintih kesakitan yang sangat luar biasa. Ray berusaha menguatkan serta menenangkan istrinya, air mata itu tak terasa telah mengalir dengan sendirinya dari kedua mata orang yang terkenal begitu dingin. Hal itu tertangkap oleh mata Nisha.
"Ma mas."
"Iya sayang, bertahanlah." Menggenggam tangan Nisha dengan lembut, mengusap perut yang kini memberikan reaksi dengan cukup kuat.
"Ja jangan menangis mas." Nisha menyaksikan kedua mata Ray yang memerah dna basah dengan air mata.
"Mas tidak menangis, kamu yang kuat ya. Baby dan kamu akan baik-baik saja, mas mencintai kalian."
__ADS_1
"Te rima kasih mas, argh! Mmm..." Nisha kembali meringis dan memejamkan matanya.
"Zahra!" Teriak Ray yang panik dengan keadaan Nisha.
Dalam kepanikkan yang di alami Ray, Jackson menepuk pundaknya perlahan. Saat ini Nisha sudah dipindahkan untuk dilakukannya tindakan segera, untuk beberapa saat mereka harus menunggu. Tubuh kekar itu akhirnya terhempas jatuh ke lantai, kedua tangannya meremas kepalanya dan menarik rambut dengan cukup kuat. Jackson hanya bisa menemaninya tapi tidak untuk menahan apa yang sedang Ray lakukan, ia memberikan sedikit ruang baginya untuk meluapkan emosi yang ia rasakan.
Tap tap tap...
Suara langkah kaki mendekati Ray yang masih tertunduk dalam diamnya, tangan itu menepuk pundaknya yang membuat Ray terbangun dari dirinya sendiri.
"Ray." Zahra berdiri dihadapan Ray, dengan wajah yang tidak bisa ia tutupi lagi.
"Ada apa?" Tanya Ray yang begitu penasaran.
Hela nafas panjang dan berat keluar dari mulut Zahra, menyerahkan sebuah kertas yang berisikan persetujuan dari pihak pasien untuk dilakukannya suatu tindakan besar.
"Apa maksudmu, jangan membuatku semakin pusing Ra. Katakan!" Kertas itu sudah berubah menjadi gumpalan dalam genggaman tangan Ray.
Sepintas Zahra menoleh pada Jackson, dan tatapan itu dibalas dengan anggukan kepala dari sesama rekannya tersebut.
"Anak kalian tidak bertahan, ia menyerah dan itu harus segera dikeluarkan dari tubuh ibunya. Jika tidak, ibunya akan ikut bersama dengan anak kalian. Maaf Ray, kita semua sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan keduanya."
Ray menatap kosong pada ujung kakinya, betapa hancurnya seorang Ray Tamoez disaat ia harus merelakan calon anaknya yang belum di izinkan untuk menatap dunia bersama kedua orangtuanya.
"Selamatkan Nisha."
Kedua Dokter yang berada disana cukup lega akan jawaban dari Ray, bagaimana pun juga mereka harus memilih diantara keduanya. Zahra segera kembali memasuki ruang tindakan untuk menjalankan tugasnya, Jackson menatap Ray dengan perasaan yang tidak bisa ia artikan sendiri.
Ddrrtt...
__ADS_1
Ponsel milik Jackson bergetar, terdapat panggilan masuk yang berasal dari Heru. Keadaan mansion saat itu masih kacau, banyak sekali penyusup yang berhasil menipu mereka agar bisa masuk kesana. Jackson terpaksa harus menjauh dari Ray untuk berbicara pada Heru, mengenai kondisi dan situasi saat ini.
"Bagaimana kalian disana?" Jackson berharap tidak akan terjadi hal yang begitu berat.
"Entahlah, aku pun masih bingung dengan apa yang terjadi. Bibby sedang mengamankan kamera pengawas dan juga mengintrogasi semua pelayan disini, bagaimana mereka bisa menyusup masuk dengan pengamanan ketat di mansion utama itu yang masih diselidiki. Bagaimana keadan nona dan Ray?" Heru belum mengetahui apa yang telah terjadi.
Untuk sesaat, Jackson memilih diam seribu bahasa. Ia sungguh tidak menyangka ini semua akan terjadi, bahkan menjelaskan bagaimana keadaan Ray ia merasa bingung.
"Hei, kenapa kau diam hah! Ada apa Jackson?" Heru merasakan ada sesuatu hal yang aneh terjadi dari perubahan sikap seorang Jackson yang menjadi pendiam.
"Jackson, apa yang terjadi?!" Berulang kali Heru berteriak untuk mendapatkan jawaban.
"Hah, kau ini sangat cerewet sekali. Kita semuanya sedang berduka." Jackson menjelaskan peristiwa yang terjadi dengan sangat jelas, agar Heru tidak bertanya lagi padanya.
"Sekarang, bagaimana keadaan Nisha dan Ray?"
"Untuk yang jelasnya, nanti saja kau mengetahuinya. Kau selalu memberikan pertanyaan seperti aku sedang ujian saja, sangat mengesalkan sekali kau ini! Jangan kau bertanya lagi, Heru. Selesaikan saja tugasmu disana, jangan biarkan sekecil apapun terlewai bahkan tersisa. Jika tidak, kau yang akan aku habisi." Itulah Jackson, ia begitu malas jika harus berhubungan dengan Heru.
Pembicaraan itu terhentikan, Jackson sengaja memutuskan secara sepihak agar Heru berhenti melemparkan pertanyaan demi pertanyaan yang membuatnya menjadi kesal. Sudah satu jam berlalu, Ray masih menunggu selesainya tindakan.
Klek!
Ray segera menghampiri seseorang perawat yang keluar dari ruang tersebut, dimana ia menjelaksan bagaimana proses tindakan berjalan dengan lancar dan menanyakan apakah Ray ingin melihat janin yang merupakan calon anaknya tersebut.
Akan tetapi, Ray menatap Jackson yang merupakan perintah jika Ray menugaskan dirinya untuk melakukan hal tersebut. Dengan menghembuskan nafas kasarnya, Jackson menganggukkan kepalanya, lalu Ray masuk untuk melihat keadaan Nisha.
...Dasar manusia menyebalkan, jika bukan calon keponakanku yang hilang. Aku tidak sudi untuk melihatnya!...
Walaupun mengumpat Ray didalam hatinya, Jackson tetap melakukan hal tersebut. Betapa mirisnya ia melihat calon keponakannya itu yang sebelumnya sudah mempunyai detak jantung dalam kehidupannya dan masih belum sempurna terbentuk, namun kini ia sudah harus kembali lagi pada sang pencipta. Mengambil gambarnya sebagai kenangan yang tak terlupakan, lalu ia menyiapkan pemakaman yang terbaik. Tanpa terasa, dari sudut mata seorang Jackson meneteskan air mata, bahkan dirinya sendiri baru merasakan kembali air mata itu menetes dari matanya setelah bertahun-tahun lamanya tidak terjadi bahkan ia sangat tidak menyukai hal tersebut.
__ADS_1