
Pergerakan dari kelompok Draco kini semakin cepat, mereka sedang mengintai setiap anggota dari klan Dark Kill yang berada di markas mereka dan juga mansion utama. Sudah lama Gina menantikan hari ini, selama ini tidak ingin berurusan dengan klan yang Ray pimpin.
"Bersiaplah, tidak ada kata gagal." Tegas Gino kepada seluruh anggota klan yang ia pimpin.
"Siap!" Jawaban yang begitu lantang keluar dari mulut seluruh anggotanya.
Mereka pun bergerak dengan posisi yang sudah ditentukan, selama ini klan Draco tidak pernah berani mengusik klan Dark Kill, akan tetapi saat ini sudah berbeda. Mengetahui jika kehidupan Ray sudah sangat jauh berubah dan tidak seperti dulu lagi, mempunyai titik kelemahan yang berada pada keluarganya.
Di tempat yang berbeda, Ray tengah menikmati kumpul keluarga kecilnya. Si kembar sedang asik bercengkrama bersama kedua orangtuanya, namun secara tiba-tiba ponsel milik Ray bergetar. Melihat ada sebuah panggilan disana, namun ponsel itu berada di atas meja ruang keluarga. Sedangkan Ray berada di dapur, untuk mengambil hasil maha karyanya untuk istri tercinta.
Nisha tidak terlalu memperhatikan getaran dari ponsel tersebut, karena ia sedang bertukar cerita dengan Fio. Tapi tidak untuk Nathan, ia melirik benda bergetar itu. Membawanya ke dalam genggamannya serta menggerakkan jemari kecilnya pada layar benda pipih tersebut.
Kening itu berkerut, segera saja ia berdiri menjauh dari Nisha dan menyusul Ray. Di dalam pikirannya saat ini adalah kekhawatiran, bagaimana mereka harus menghadapi penyerangan dalam waktu yang sangat sempit seperti ini.
"Dad!"
__ADS_1
Menyerahkan benda tersebut kepada Ray, awalnya Ray ingin marah kepada putranya itu. Ketika ia melihat apa yang ditunjukkan Nathan padanya, raut wajah itu seketika berubah. Dengan cepat ia menghubungi para orang kepercayaannya, agar mereka bisa segera membentuk benteng pertahanan terutama pada mansion dimana ia berada saat ini.
"Bagaimana pergerakan mereka saat ini" Ray meletakkan hasil karyanya dengan sedikit kasar di atas meja dapur.
"Cukup berat tuan, pasukan mereka bergerak diluar kendali. Mansion utama sudah diperketat keamanannya, tanpa menimbulkan kecurigaan para penghuninya.
Hal tersebut dilakukan Ray, agar keluarganya tidak merasa ketakutan dengan apa yang terjadi. Ray menarik nafas panjangnya, menatap Natham yang masih berdiri didekatnya.
"Pinjamkan ponsel daddy padaku, aku akan membantu mengacaukan akses mereka."
"What? Apa yang kamu katakan nak, akses apa yang kamu maksud?" Ray semakin bingung dengan apa yang Nathan katakan padanya.
Entah mengapa Ray pun menuruti apa yang dikatakan Nathan begitu saja, seakan masuk dalam sebuah perintah dan tidak dapat terbantahkan. Setelah benda pipih itu berpindah tangan, mereka melanjutkan membawa hasil maha karya yang begitu dahsyat dari tangan Ray.
"Cheese cake mom." Suara Ray yang tenang agar tidak menampakkan kekhawatiran untuk Nisha.
__ADS_1
Nisha yang sedang larut dalam obrolan bersama Fio, pada akhirnya perhatian mereka teralihkan pada Ray yang menyerahkan cake. Terukir senyuman bahagia saat melihat apa yang berada ditangan Ray.
"Kamu bisa membuatnya mas, benaran nih buatan kamu?" Nisha yang masih tidak percaya akan apa yang Ray lakukan untuk dirinya.
"Hahaha, walaupun dapur menjadi korbannya sayang." Ray melingkarkan tangannya pada pinggang Nisha.
Plak!
Terlepaslah tangan yang melingkar itu akibat dari tepukan keras dari sang saingan berat Ray, Fio.
"Bisa nggak sih daddy jangan merusak suasana, Fio kan lagi asik bercerita sama mommy." Fio menyilangkan tangannya dan menatap Ray dengan tatapan yang tidak suka.
"Terserah daddy dong, mommy itu hanya milik daddy." Ray menyumbangkan dirinya.
"Daddy!" Teriak Fio yang semakin kesal dengan ulah Ray padanya.
__ADS_1
Sedangkan Nisha sudah menahan perutnya agar tidak kaget dengan aksi Ray dan Fio, untuk Nathan. Ia memilih untuk fokus pada benda pipih ditangannya, tidak memperdulikan perdebatan yang terjadi.
Melupakan perdebatan tersebut, Nisha mulai melahap maha karya Ray untuk dirinya. Rasanya tidak buruk, suapan demi suapan ia masukan ke dalam mulutnya. Cake yang berbentuk bulat kecil itu hampir habis ia pindahkan ke dalam mulutnya, akan tetapi. Tiba-tiba saja lidahnya merasakan rasa yang begitu ia benci, strawbery.