Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
91.


__ADS_3

Pada kehamilan Nisha kali ini tidak seperti kehamilan sebelumnya, ia lebih santai dan menikmati semua prosesnya.


"Mom, mommy yakin bisa menghabiskan semuanya?" Ray menatap hidangan di hadapan Nisha dengan tidak percaya.


Hampir semua jenis makanan ringan, berat dan juga buah-buahan terhidang disana. Melihatnya saja sudah membuat Ray merasa kenyang, ia membayangkan jika Nisha yang memakannya.


"Kan makannya tidak langsung semuanya mas, kalau perutnya terasa penuh. Ya berhenti dulu, nanti baru dilanjutkan lagi. Hehehe." Dengan senyuman manisnya, Nisha seperti bergurau saja.


"Hhmm, ya sudah tidak apa-apa. Nanti mas akan bantuin ngehabisinnya, gimana?" Ray juga tiba-tiba merasa tertarik dengan makanan tersebut.


Saling memandangi satu sama lain, yang pada akhirnya mereka berdua berakhir dengan tertawa. Pada kehamilan yang sudah memasuki bulan ke enam, Nisha terlihat seperti tidak sedang mengandung saja. Tubuhnya tidak banyak mengalami perubahan, hanya saja pipi dan perutnya yang semakin mengembang.


"Mommy!" Suara keras terdengar mengisi seluruh ruangan mansion besar itu.


Bagi penghuni mansion, suara itu sudah sangat biasa terdengar dan juga mereka mengetahui siapa pelakunya. Fiona, gadis kecil itu memiliki suara seperti pengeras suara pada umumnya. Si kembar saat ini sudah pulang dari sekolahnya, Bibby adalah orang yang mereka percayai untuk menjadi pengantar dan menjemput mereka kemana pun.

__ADS_1


"Mommy, halo adek. Kakak Fio sudah pulang, adek lagi apa?" Fio langsung memberikan kecupan hangat pada kening Nisha dna berlanjut mengusap perut yang sudah terlihat membesar.


"Adeknya lagi tidur kakak Fio, tukar pakaian dulu ya nak. Nanti kita lanjut makan siang bersama. Abang mana? Kok tidak bersama pulangnya?" Mata Nisha mencari keberadaan putra pertamanya yang belum terlihat.


"Oh abang, masih di luar sama uncle Bib. Oke mom, ih ada daddy. Pasti mau disamping mommy terus, daddy pergi kerja saja." Dengan menyilangkan tangannya, Fio merasa kebersamaannya dengan Nisha menjadi terkikis atas keberadaan Ray disana.


"Eh, memangnya kenapa kalau daddy mau disamping mommy terus? Fio tidak suka?" Ray semakin larut untuk mengerjakan putrinya itu.


"Kalau ia, kenapa? Daddy sama abang, sama-sama ngeselin, mommy." Renggek Fiona kepada Nisha.


Suasana tampak begitu tenang, hanya suara hentakan dari sendok maupun alat makan lainnya yang mereka gunakan. Karena Ray memang tidak menyukai pembicaraan disaat mereka sedang makan bersama, terlihat Nathan yang selesai lebih cepat dari biasanya dalam menghabiskan makanannya.


"Mau kemana bang?" Tanya Nisha melihat Nathan yang akan beranjak dari tempat duduknya.


"Abang mau kekamar duluan mom, tidak apa-apakan? Abang hanya mau mencoba menemani uncle Bib yang mencoba game terbaru." Nathan tidak berani menatap Nisha secara langsung, karena Nisha akan mengetahui ia berbohong atau tidak.

__ADS_1


Karena tidak ingin membatasi ataupun mengatur apa yang dikerjakan oleh anak-anaknya terlalu ketat, Nisha memperbolehkan hal tersebut selama ada orang yang lebih dewasa untuk mengawasi mereka.


"Baiklah, jangan terlalu lama bermain gamenya."


Mendekati mommynya dan mendarakan kecupan sebagai ungkapan kasih sayang serta terima kasihnya, Nathan segera berlalu dari sana karena mata tajam Ray yang sudah memperlihatkan ketidaksukaan.


"Mas, sama anak sendiri kok seperti itu." Nisha mengusap lengan Ray, mengetahui sifat suaminya yang tidak suka berbagi perhatian.


"Anak itu selalu saja mencuri start duluan untuk membuatku kesal." Ketus Ray yang sudha selesai dengan makannya.


"Rasain, Mommy itu juga milik Fio dan juga abang. Bukan milik daddy sendiri, Fio akan mendukung abang." Gerakan super cepat dan gesit juga Fio nampaknya dihadapan Ray.


"Love U mom." Fio juga mencontoh apa yang sebelumnya Nathan lakukan dan berlari menghindar.


"Fio!" Teriak Ray yang lagi-lagi kecolongan.

__ADS_1


Betapa ramainya suasana itu, membuat penghuni lainnya menjadi tertawa atas kecemburuan Ray yang sudah begitu tinggi. Sejak si kembar memasuki usia tiga tahun, mereka sudah seperti itu. Saling berlomba untuk mendapatkan perhatian dari Nisha ataupun mengungkapkan rasa sayang mereka, karena Ray akan selalu membuat Nisha selalu berada disisinya.


__ADS_2