
Nisha beristirahat sejenak setelah Devi mengoleskan obat luka pada lehernya, bermaksud hanya memejamkan mata sesaat namun pada akhirnya ia tertidur.
Sebelum kejadian...
Dalam perjalanan menuju tempat yang telah disepakati bersama salah satu kliennya bisnis mereka dari dunia bawah, Ray merasakan jika ada sesuatu yang sangat menganjal pada dirinya. Berusaha untuk tetap fokus menghadapi kliennya kali ini, yang ia ketahui sebagai orang yang lirik dan juga penuh tipu daya. Jika lengah, maka akan memperpanjang urusan mereka.
"Boleh saya melihat barangnya?" Pria bernama Robert itu meminta untuk pihak Ray menunjukkan barang yang telah mereka sepakati sebelumnya.
Ray menggerakkan bola matanya, sebagai arahan kepada anggotanya untuk menunjukkan barang yang mereka bawa. Peti besar yang telah dilapisi dengan potongan dari kayu berkualitas baik, kini telah dibuka pada permukaannya.
"Silahkan." Ray memberikan salah satu barang mereka yang berasal dari kotak tersebut kepada sang pembeli.
Robert menerima dan melihatnya secara terperinci dan sangat teliti, setelah merasa yakin jika berang tersebut baik. Robert mengembalikan barang tersebut yang berupa peralatan senjata dalam kualitas yang cukup baik, Henley yang menerima kembali barang tersebut merasakan ada yang aneh pada tangannya. Saat barang akan diletakkan kembali pada tempat sebelumnya, tangan Henley tidak bisa terlepaskan dari barang tersebut. Betapa kegetnya Henley saat mendapati sinyal merah yang menempel dibaliknya.
"Tuan, mereka menipu kita!" Teriak Henley kepada Ray, ia pun berusaha untuk melepaskan tangannya.
"Breng****ek!!" Ray yang menyaksikan tangan Henley seperti itu, ia menjadi semakin geram dan tersulut emosinya.
"Hahaha, dunia bisnis tidak selamanya berjalan mulus tuan Ray. Sangat disayangkan sekali, orang yang begitu disegani oleh semua kelompok dunia bawah ini. Ternyata dengan sangat mudahnya tertipu oleh orang sepertiku, sungguh memalukan." Robert dengan begitu percaya diri menunjukkan jika dirinya sudah berhasil menipu dan mengambil alih situasi yang ada.
Berbagai senjata dan juga anggota dari kelompok Ray sudah berhasil dikepung dan diamankan oleh pihak Robert, Ray yang sudah diamankan dengan keadaan tangan dan kaki yang terikat serta sebuah senjata menempel pada sisi samping kepalanya.
"Katakan jika kau telah kalah, Ray. Aku akan mengambil alih semua kekuasaan ini, dan kau. Bersiaplah untuk membusuk bersama para anggotamu ini, hahaha."
Dalam keadaan dan situasi yang cukup mencekam, Robert merasa telah menang dari situasi yang ada. Namun disaat ia mengerahkan anggotanya untuk melenyapkan pihak Ray, ada sesuatu kejadian yang tidak terduga.
"Lenyapkan mereka sekarang!" Teriak Robert mengintruksikan semua anggotnya untuk segera melenyapkan pihak lawan.
Namun tidak ada pergerakan apapun dari seluruh anggota kelompok Robert, tangan Henley yang tidak bisa terlepaskan dari barang yang berupa granat terbaik diseluruh negara dan siap meledak dengan sensor yang sudah diletakkan oleh pihak Robert sebelumnya. Kini tangan itu berbalik arah, bisa terlepaskan dan dengan mudahnya Henley mematikan sistem sensor yang sudah menyala.
__ADS_1
"A ap, i ini tidak mungkin. Serang mereka semua, kenapa kalian diam saja, hah! Cepat serang!" Robert kembali berteriak dengan begitu panik saat melihat seluruh anggotanya tidak ada yang melakukan apapun.
Ikatan pada tangan Ray terlepas dengan begitu mudahnya, hal itu menambah kepanikan pada Robert yang sudah tidak ada siapapun untuk membantunya. Kini keadaan sudah berbalik arah, pihak Ray melakukan serangan kepada pihak lawan mereka. Terjadilah aksi serang menyerang diantara dua kelompok tersebut, Ray terlebih dahulu telah mengincar Robert. Gerakan yang begitu cepat dan tidak tertandingkan, membuat Robert tidak bisa melakukan apapun.
"Apa lagi yang akan kau rencanakan, dasar ceroboh." Ray tersenyum sinis kepada Robert yang sudah tidak berkutik dibawah kekuasaannya.
Krak!!
Krak!!
"Arrghh! Ti tidak!" Robert berteriak saat kaki dan tangannya merasakan kesakitan yang sangat luar biasa.
"Jangan berteriak, suaramu itu sangat membuat telingaku sakit." Ray berbisik pada telinga Robert dan rupanya tidak hanya sampai disana. Ray kembali menggerakkan tubuhnya.
Crash!
Crash!
"Bagaimana, aku rasa kau masih cukup kuat untuk yang berikutnya." Tangan Ray menepuk-nepuk wajah Robert dengan seringai yang cukup membuat orang menjadi takut.
"Ti tidak Ray, sudah cukup! Kau benar-benar berhati iblis! Arrgh!" Erang Robert yang mendapatkan luka yang cukup dalam, setelah Ray mengayunkan benda kecil yang menyebabkan wajah dan juga tubuhnya menderita goresan yang cukup dalam.
Senyuman seringai menghiasi wajah Ray, ia sudah terlebih dahulu mengetahui siapa yang menjadi patner ataupun kliennya yang ingin menjalin kerjasama padanya. Semua anggota yang Robert miliki sudah berada dalam kuasa Henley dan juga Bibby, orang kepercayaan Ray yang sangat ia percayai.
"Tuan!" Tiba-tiba saja Henley menghampiri Ray yang masih berjongkok menghadapi Robert.
Segera Ray berdiri dari posisinya, Henley membisikkan sesuatu pada telinga Ray. Seketika itu juga raut muka Ray berubah menjadi tegang dan begitu menyeramkan, kepalan tangannya sangat kuat terlihat dari urat-uratnya yang begitu jelas dipandang.
Terjadi perubahan yang Ray tampakkan, Bibby menyadari sesuatu yang ia sadari dengan perubahan Ray. Tanpa disadari, Robert memanfaatkan kelengahan yang terjadi.
__ADS_1
"Akan ku..." Robert menyerang Ray yang sedang lengah.
Jleb!
" Tuan!" Henley dan anggota lainnya menyadari hal tersebut, serangan kembali mereka lakukan pada Robert.
Dor!
Dor!
Bugh! Bugh!
Bertubi-tubi serangan diberikan kepada Robert oleh Henley dan lainnya, mereka begitu panik ketika Robert bangkit dan menyerang tuan mereka dengan senjata yang digunakan Ray sebelumnya. Dan kini, ia harus meregang nyawa akibat dari ulahnya sendiri.
"Tuan, luka anda." Bibby menyadari adanya perubahan warna pada pakaian yang digunakan Ray saat itu pada bagian punggungnya.
Senjata tajam itu masih menancap pada punggung Ray, dengan mudahnya ia menarik begitu saja senjata tajam itu dari tubuhnya. Darah yang mengalir deras dari luka tersebut tidak Ray harapkan sedikitpun, ia terus berjalan menjauh dari tempat tersebut
Henley mengarahkan anggotanya yang lain untuk membereskan tempat tersebut, lalu mereka mengejar Ray yang sudah terlebih dahulu meninggalkan mereka.
"Tuan, lebih baik luka itu ..." Bibby bermaksud untuk mengobati luka Ray yang terlihat cukup parah, namun usahanya itu sia-sia saja.
"Kita pulang sekarang, persiapkan kebernagkatanku." Ray melepaskan pakaiannya dan mengantikannya dengan pakaian yang baru, namun luka itu masih terbuka.
"Ta pi tuan, lukanya..."
"Siapakan kepulanganku saat ini juga, cepat!" Jawaban yang diberikan Ray sungguh membuat Henley dan Bibby tercegang.
Persiapan kepulangan Ray yang mendadak, membuat semua anggotanya harus bertindak cepat. Jika tidak, mereka akan mendapatkan hal yang buruk sebagai hukuman. Pesawat pribadi yang sudah mendapatkan informasi tentang kepulangan tuannya, kini telah siap.
__ADS_1
Penerbangan selama kurang lebih sepuluh jam, membuat Ray semakin gelisah dan dengan luka yang belum mendapatkan penanganan.