
Kehamilan Nisha membawa kebahagian yang cukup besar bagi Ray, bahkan sang nenek kini begitu semangatnya membuatkan pakaian bayi yang ia sulam sendiri.
"Sayang, ayo kita berangkat." Rya begitu semangat saat akan memeriksakan kehamilan Nisha.
Melihat suaminya itu begitu bersemangat, Nisha tidak ingin membuatnya kecewa. Menuruti sikap suaminya yang super protective dan juga posesif, namun Nisha menganggapnya itu sebagai bentuk kasih sayangnya.
Setibanya dirumah sakit, mereka tidak menunggu namun langsung saja memasuki ruang pemeriksaan. Bukan Ray namanya jika tidak menggunakan kekuasaannya untuk melihat perkembangan kesehatan istri dan anaknya, bahkan Zahra pun dibuat pusing dengan hal itu.
"Ini rumah sakit bukan markas, Ray! Pasienku sudah menunggu sangat lama, tapi kamu malah menerobos begitu saja." Umpat Zahra yang sedang menanggapi kehadiran Ray diruangannya.
"Lakukan saja tugasmu, simpan omelanmu itu untuk yang lain saja." Tanpa perduli Ray tetap melakukan apa yang dia inginkan.
"Mbak Zahra, maaf ya."Nisha merasa tidak enak dengan sikap suaminya.
"Sayang." Ray merenggek agar Nisha tidak menurunkan derajatnya dihadapan orang lain.
Mereka kemudian duduk dihadapan Zahra, Nisha yang mengambil alih untuk pemeriksaan saat itu. Bisa dibayangkan jika Ray yang berbicara, akan banyak hal yang ia protes.
"Karena istriku ini sangat baik, kali ini kau kumaafkan. Ayo Nish." Mengarah Niaha untuk berbaring di atas tempat tidur.
"Hei, mau kau apakah istriku?" Ray berulah kembali.
"Mas, jika ngomel lagi. Lebih baik mas menunggu diluar saja." Tegas Nisha yang mulai jengah dengan sikap yang berlebihan dari Ray.
Mendapatkan ultimatum dari sang istri, Ray hanya bisa mengikutinya tanpa harus melawan. Disituasi seperti ini, ia akan memilih lebih baik bertarung mengejar musuh daripada berhadapan dengan wanitanya.
"Dasar pria menyebalkan." Zahra menatap Ray dengan sangat tajam.
__ADS_1
"Aish, kalian berdua ini. Disini aku pasiennya, jika kalian berdua terus-terusan seperti ini. Akan ada baiknya aku pulang saja dan teruskan urusan kalian."
"Tidak!" Zahra dan Ray berteriak bersamaan, dan hal itu membuat Nisha memutar bola matanya dengan sangat malas.
Akhirnya, Zahra melakukan tugasnya dengan baik. Ray pun mengikuti proses pemeriksaan untuk melihat kondisi calon anak dan juga istrinya.
"Untuk saat ini, semuanya baik-baik saja. Hanya saja, kondisi kandungan Nisha sangat lemah. "
"Maksudmu?" Ray yang begitu kaget dari perkataan Zahra.
"Benar, walaupun terlihat tidak ada reaksi apapun dari tubuh sang ibu. Namun kondisi janin mengalami beberapa kendala, untuk itu. Ada baiknya Nisha bedrest total selama trimester pertama, itu akan membantu. "Jelas Zahra kepada Ray dan Nisha.
"Apa itu tidak berbahaya?" Tanya Nisha yang cukup kaget dengan keadaan yang ia alami.
"Sebenanrnya itu sangat penting Nish, karena pada tiga bulan pertama adalah proses dari perkembangan awal ia akan membentuk menjadi janin. Itu sangat rentan sekali, dan kau! Ingat, sudah mau menjadi seorang ayah. Jangan asal melenyapkan nyawa orang, pepatah orang lama hal itu akan berpengaruh kepada calon anakmu." Zahra mempertegas ucapannya kepada Ray.
"Lain kali, kita jadwalkan saja mas sama mbak Zahranya. Tidak enak menerobos antrian yang memang sudah seharusnya punya pasien lain, dasar kamu." Nisha menggeleng pelan dan penepuk lengan suaminya yang selalu menempel.
Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Ray, ia selalu mengutamakan orang-orang yang sangat ia cintai. Kebahagiaan mereka setelah melihat sendiri kondisi dari calon anaknya, walaupun masih sangat kecil dan belum berbentuk dengan sempurna. Namun disaat mereka akan menaiki mobil, tanpa disengaja ada seseorang yang dengan sengaja menabrakan diri dengan Ray. Sorot mata tajam itu memandangi orang tersebut, dengan perlahan Nisha mencoba menenangkan suaminya yang terlihat sangat emosi.
"Mas, kamu tidak apa-apa kan?" Mengelus pundak Ray yang kekar, berharap emosi itu akan mereda.
Orang yang bertabrakan itu bermaksud menegur dan meminta maaf atas kesalahan yang tidak sengaja itu kepada Ray, namun niat baik itu terhalang dengan emosi yang mudah sekali untuk pecah.
"Tuan, anda tidak apa-apa? Maafkan saya, saya benar-benar tidak sengaja." Seorang pria yang menegur Ray, menundukan dirinya.
Akan tetapi, Ray seakan-akan sedang berpikir sejenak. Lalu ia membalikkan tubuhnya untuk menatap orang tersebut, bukan Ray yang kaget melainkan Nisha.
__ADS_1
"Tu tuan saputangan!" Suara Nisha membuat mata dan telingga Ray memerah serta melebar.
"Nona!" Pria tersebut adalah yang menolong Nisha saat kejadian di Cafe, dia adalah Niki Maxxam.
Tidak ingin belahan jiwanya berbicara dengan pria tidak dikenal, jiwa posesifnya membesar beserta kecemburuannya.
"Masuklah, biar aku mas yang menyapanya!" Perkataan Ray sedikit, namun berhasil membuat Nisha patuh dan merinding.
Heru dan Felix menangkap sinyal tidak enak dari raut wajah tuannya, Heru memindahkan posisi mobil mereka agar tidak terlalu dekat dengan tempat awal. Felix berdiri tepat dibelakang Ray, ia tidak ingin terjadi sesuatu terhadap tuannya.
"Jangan mendekati istriku." Tegas Ray dengan perkataannya yang ia tujuan kepada pria tersebut.
"Ah maaf tuan, apa saya mempunyai salah kepada anda? Saya rasa, itu bukan alasan untuk anda marah pada saya." Niki menyeringai dengan menaikan sudut bibirnya.
Tangan kekar Ray mengepal dengan sangat kuat, terlihat urat-uratnya membekas pada kulitnya. Walaupun mereka baru bertemu, namun Ray dapat merasakan sesuatu yang sangat berbeda dari orang tersebut. Feling Ray tidak bisa ditipu, ia bahkan dapat melihat jika orang tersebut bukanlah orang yang biasa.
"Tuan, nona menunggu anda." Felix segera melerai tuannya, mereka mengkhawatirkan keadaan Nisha.
Jika berhubungan dengan istrinya, Ray akan lebih memilih istrinya dibandingkan dengan yang lain. Melepas begitu saja orang yang ia curigai, namun tidak begitu saja ia melepasnya. Berjalan menuju mobilnya, Ray dengan tenang memejamkan matanya sejenak saat berjalan bersama Felix.
"Selidiki pria itu, jangan sampai melibatkan Nisha." Ray kemudian memasuki mobil mereka yang dimana Nisha sudah menunggu.
Mendapatkan perintah tersebut, Felix dapat menduga jika pria tersebut memiliki maksud tertentu yang mengakibatkan tuan mereka menjadi sangat curiga.
"Kenapa lama mas?" Tanya Nisha yang merasa ada sesuatu yang aneh dari sikap Ray saat masuk ke dalam mobil.
Suasana menjadi hening, tidak ada jawaban sepatah katapun yang keluar dari mulut Ray. Sampai pada akhirnya mereka telah tiba di mansion, Ray masih dalam mode silentnya. Hal itu membuat Nisha menjadi bingung dengan perubahan yang terjadi pada suaminya, ingin rasanya ia menanyakan hal tersebut langsung kepada Ray. Namun semuanya itu tidak jadi ia lakukan, melihat wajah Ray ketika saat itu saja sudah membuatnya merinding.
__ADS_1