
Duduk pada kursi miliknya, dengan tatapan wajah yang tidak biasa. Ray masih menatap setiap orang yang berada didalam ruangan tersebut, banyak sekali ekpresi yang mereka perlihatkan.
Felix melayangkan sebuah rekaman pada layar proyektor diruangan tersebut, disana menampilkan beberapa orang sedang melakukan transaksi penjualan bahan baku dari perusahaan mereka kepada salah satu bandar terlarang yang sering memasok ke berbagai negara.
Melihat rekaman tersebut, semua wajah menampakkan kepanikan. Karena wajah pada rekaman tersebut sudah di blur, maka hal tersebut membuat rasa penasaran pada wajah para pelakunya semakin besar.
"Aku akan mempersilahkan bagi kalian yang ingin menjelaskan dan mengetahui hal tersebut." Suara Ray begitu datar namun terdengar menyeramkan untuk semuanya.
Tidak ada yang berani untuk membuka suara mengenai perihal video rekaman yang sedang Felix putar, Ray sengaja menunggu para pelaku untuk membuka suara sendiri tanpa harus ia berikan pancingan. Namun semakin lama, membuat Ray merasa jengah. Hampir satu jam lamanya, tidak ada satupun dari mereka membuka suaranya untk memberikan penjelasan.
Brakh!
Sebuah meja terlempar dan hancur, tepat dihadapan semua peserta rapat benda itu mendarat. Semuanya nampak kaget dan semakin ketakutan, hal itu membuat Ray benar-benar sudah berada di batas kesabarannya. Bahkan Felix sendiri sangat merasa aneh dengan apa yang sedang ia lihat saat ini.
...Apa ini benar tuan Ray? Tidak biasanya tuan menunggu dalam waktu yang cukup lama seperti ini. Sangat aneh!...
Setelah menendang meja yang berada dihadapannya, ia juga merasa kesal ponsel yang ia genggam tidak menunjukkan notifikasi yang ia tunggu. Seketika pria bertubuh kekar itu berdiri dari tempat duduknya, terasa aura mencekam semakin mendominasi isi ruangan rapat.
Tiba-tiba saja...
Ddrrrtt...
"Mas."
Raut wajah dingin itu langsung berubah menjadi sangat bersahabat, ada sedikit tarikan dari sudut bibirnya seorang Ray.
"Terima kasih sayang." Ray menutup pembicaraan keduanya dan kembali fokus dengan apa yang sedang berlangsung.
Hanya beberapa detik saja mereka bisa merasakan udara segar yang bisa dihirup, namun pada detik berikutnya. Mereka harus dihadapankan kembali dengan ketegangan yang sebelumnya sudah sangat mencekam.
__ADS_1
"Masih ingin bungkam?" Perkataan Ray kembali bergema.
"Felix!" Nada suara Ray begitu tinggi, menandakan tidak ada waktu lagi untuk bermain-main.
Mendengar namanya disebut, Fekix mengetahui apa yang harus ia lakukan. Kembali lagi layar tersebut menayangkan rekaman video yang sesungguhnya. Wajah yang sebelumnya tidak terlihat, dan saat ini semuanya terlihat begitu nyata dan sangat jelas.
"Kalian! Benar-benar tidak bisa disangka, ternyata kalian yang selama ini bermain kucing-kucingan dengan tuan Ray." Seorang kepala divisi tidak menyangka jika sesama rekan kerja sendiri yang sudah melakukan kecurangan tersebut.
"Tidak disangka, kalian yang melakukannya!"
"Enak saja kalian, kami semuanya harus menanggung ketakutan selama ini akibat dari ulah kalian. Hukum saja mereka tuan, membuat resah saja."
"Ma**i saja kalian! Baru tahu rasa."
Berbagai gumaman dari seluruh yang hadir disana, bahkan tidak sedikit dari mereka menganjurkan untuk hukuman semaksimal mungkin karena sudah berani berkhianat.
Mempersilahkan semua orang yang tidak terlibat untuk segera keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan beberapa orang yang tubuhnya masih bergetar dan tidak berani untuk menatap wajah dari sang pemilik perusahaan dimana mereka bekerja.
Crash!
Crash!
"Argh!!" Teriakan secara bersamaan dari orang-orang yang melakukan kesalahan,ada delapan orang terlibat dalam kasus tersebut.
Sebuah senjata tajam dalam bentuk sangat kecil, dengan sangat cepat melayang dan memberikan salam perkenalan pada tubuh mereka. Sayatan yang cukup lebar telah menggores lengan mereka semuanya, kekuatan dan keahlian dari seorang Ray tidak perlu diragukan lagi.
"Tu tuan, maafkan saya. Saya benar-benar tidak bermaksud melakukannya, saya terpaksa tuan." Pria dengan menggunakan kacamata itu bersujud dihadapan Ray yang terhalang oleh tubuh Felix.
Yang lainnya hanya ikut berlutut dan tidak mengucapkan apapun, karena mereka tahu jika seorang Ray tidak akan memberikan mereka keringan sekecil apapun itu untuk menghukum pengkhianat ataupun pembangkang.
__ADS_1
"Atas dasar apa, aku harus memaafkan kalian?" Ray duduk di atas meja lainnya yang ada.
Orang-orang tersebut dengan tidak sabar berusaha memberikan keterangan atas apa yan sudah terjadi, hal tersebut biasa terjadi sesaat setelah diberikan sedikit salam perkenalan.
Merasa puas dengan apa yang sudah mereka jelaskan, berharap akan mendapatkan ampunan dari hukuman yang akan mereka dapatkan. Hanya ada satu orang yang masih menunduk tanpa bersuara sedikitpun, hal itu mengundang perhatian Ray.
"Kau, jelaskan!" Ray melempar pandangannya kepada orang tersebut, mendengar suara Ray membuatnya menampakkan wajahnya.
"Ee..."
Dalam keadaan tubuh yang masih bergetar hebat, orang tersebut menatap semua rekannya satu persatu. Pandangan terakhirnya tertuju pada Ray, penuh rada ketakutan saat mulutnya hendak mengeluarkan suatu perkataan.
"Tuan akan menjamin keselamatan keluargamu, tanpa terkecuali." Felix memperlihatkan ponselnya kepada orang tersebut, disana terhubung dengan pihak keluarga orang tersebut dan tepatnya adalah sang istri.
Selesai berbicara, Felix menarik kembali ponselnya dan mempersilahkan orang tersebut untuk berbicara.
"Tu tuan, sa saya minta maaf. I i ni semua adalah perintah dari seseorang yang sering disebut dengan sebutan 'Black' tuan, dia hanya memberikan kami perintah melalui sambungan telfon. Tidak pernah bertatap muka secara langsung, dia menjanjikan kami imbalan yang sangat besar dan juga mengancam keluarga kami untuk dibunuh jika rencana itu gagal."
Merasa informasi yang diberikan oleh orang tersebut sudah sangat jauh dari kesepakatan yang ada, orang-orang lainnya segera menghalau informasi itu dengan memasang tubuh mereka sebagai perisai atas informasi tersebut. Berbagai spekulasi yang mereka berikan agar bisa menutupi kebenaran dari semuanya, namun yang ada hanyalah suara angin menjawabnya.
"Serahkan bukti yang kau punya, akan aku pertimbangkan semuanya untukmu." Ray melipat kedua tangannya dan memberikan senyuman yang seakan-akan bisa menahan nafas seseorang.
Semakin terbukanya informasi yang ada mengenai kasus yang terjadi, orang-orang tersebut sangat gusar dan ada tiga diantara mereka memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan menggunakan cairan racun yang mereka bawa sendiri. Tidak bisa mencegah hal tersebut, sehingga ketiganya tewas dalam sekejap mata.
Tidak ingin menunggu lagi, Ray menatap Felix, tatapan itu berisikan perintah. Dan hanya Felix dan beberapa orang kepercayaannya yang mengetahui hal tersebut. Dalam hitungan detik, orang-orang yang masih bernafas terkecuali orang yang sudah memberikan informasi ikut tewas seketika.
"Bereskan mereka, kali ini berikan santunan kepada keluarganya. Dan dia, bawa ke markas dan berikan kepada Bibby." Ray meninggalkan ruangan itu begitu saja.
Menarik nafas dengan sangat dalam, Felix benar-benar dibuat bingung untuk kali ini. Ray memberikan banyak keringanan untuk para penghianat, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Nyawa mereka akan segera lenyap saat berhadapan dengan sang leader.
__ADS_1