
Beberapa peralatan medis terpasang pada tubuh kecil Nisha, kini keadaannya sudah sedikit membaik dari sebelumnya. Beberapa hari di dalam ruang ICU, dengan keadaan yang cukup mengkhawatirkan.
"Luka pada perutnya tidak terlalu dalam, hanya saja alergi yang ia alami sudah begitu parah dan tidak segera mendapatkan penanganan. Bersyukurlah nyawanya masih bisa diselamatkan, kau tak perlu khawatir lagi Ray." Haykal, dokter pribadi sekaligus merangkap sebagai teman, sahabat bahkan ia sudah menjadi keluarga untuk Ray.
"Hem." Ray masih dengan setia menemani disisi tempat tidur pasien.
"Hayolah Ray, kau juga harus memperhatikan dirimu. Jika dia terbangun, melihatmu dengan keadaan seperti ini. Aku pastikan dia akan lebih memilih untuk tidur lagi." Haykal menyentil Ray begitu bucinnya pada seorang Nisha.
"Bre****ek kau, jaga dia sebentar dan jangan kau apa-apakan." Tatapan tajam Ray pada Haykal seperti mata pedang yang siap menusuk targetnya.
"Iya iya, sana."
Dengan langkah beratnya, Ray memaksakan dirinya untuk menuruti perkataan dari Haykal. Benar adanya, kini penampilan Ray begitu sangat menyeramkan dari sebelumnya. Beberapa hari dirinya tidak terawat dan hanya mementingkan keadaan sang pujaan hatinya, dan kali ini ia menuruti saran tersebut.
Sungguh beruntungnya dirimu mendapatkan pria sedingin itu, kehadiranmu membuat dirinya banyak mengalami perubahan yang positif. Tapi, jika kau mengetahui siapa dirinya sebenarnya, aku harap kau bisa bertahan untuk tetap berada disisinya.
"Kau akan kehilangan penglihatanmu jika masih terus menatapnya." Ray berdiri tepat dibelakang tubuh haykal yang masih asik menatap Nisha.
"Aish kau ini, selalu saja datang secara tiba-tiba. Aku tidak akan merebut orang yang sudah membuatmu berubah sejauh ini Ray, tapi. Jika kau menghempaskannya, aku dengan sukarela akan menjadikannya ratu dikehidupanku." Haykal sengaja menggunakan kata-kata yang bisa memancing kesembuhan dan amarah dari seorang Ray.
"Kematian akan menghampiri untuk jika itu terjadi." Ketus Ray yang menyingkirkan tubuh Ray dari sisi tempat tidur Nisha.
"Hahaha, baiklah. Selamat beristirahat tuan Ray, nona. Cepatlah kau membuka matamu itu, dia sudah menunggu pawangnya untuk bangun." Bisik Haykal pada sisi kanan tubuh Nisha.
"Haykal!!" Dua oktaf lebih tinggi dari teriakan biasanya yang dilakukan Ray.
"Iya iya, kau selalu menang Ray." Sebelum pergi, Haykal menepuk pundak Ray. "Segerakan ikatan diantara kalian berdua, jangan sia-siakan wanita yang sudah berhasil mendapatkan jiwamu." Lalu Haykal berlalu dari hadapan pria yang begitu dingin.
Menatap wajah Nisha yang masih begitu pucat, perlahan tangan kekar itu meraih tangan mungil yang masih tertancap jarum pada punggung tangannya. Memikirkan setiap kata yang telah di ucapkan oleh Haykal kepadanya, bukankah itu adalah tujuan utama Ray mendekati Nisha.
"Eugh!" Leguhan itu keluar dari bibir mungil yang berwajah pucat.
__ADS_1
"Baby! Kau sudah sadar sayang." Begitu sangat antusianya Ray saat mengetahui Nisha sadar.
"Ha us."
Gerakan cepat mengambil gelas dan menuangkan air kedalamnya, memberikan sedotan yang bisa mempermudah meminumnya.
"Sudah, terima kasih mas."
"Apa ada yang kamu rasakan sayang, atau menginginkan sesuatu?" Membelai wajah wanita yang sudah membuat dirinya hampir tak bernafas dalam beberapa hari ini.
"Em, tidak ada mas. Terima kasih mas, kami sudah menyelamatkanku." Genggaman tangan itu akhirnya terbalaskan.
"Aku yang salah, jika aku tidak menugaskanmu. Maka itu tidak akan terjadi, sudahlah. Oh ya, nenek selalu menanyakanmu sayang. Yang ia tahu kau sedang dalam perjalanan dinas dariku, nenek aman disana." Menyakinkan Nisha untuk tidak menjadi khawatir.
"Iya mas, terima kasih. Emm, apakah kak Vansh tertangkap?" Begitu ragunya Nisha menanyakan hal tersebut, ia takut Ray akan marah padanya.
"Ah, pria itu. Dia sampai saat ini masih belum ditemukan, maaf sayang."
"Sepertinya begitu, mulai detik ini kamu dipecat."
"Apa?! Kok main pecat-pecat begini si mas, tidak adil." Nisha menggunakan wajah kesalnya pada Ray.
"Adil kok, kamu akan berpindah penugasan menjadi nyonya Ray. Tugasmu hanya mengurus diri dan juga yang berhubungan dengan kehidupan kita, untuk yang lainnya. Itu adalah tugasku, baby." Mengecup tangan mungil dengan begitu menghayati.
"Maksudnya mas?" Nisha sudah bisa mencerna perkataan yang Ray ucapkan, namun ia ingin memastikan kebenaran dari semuanya itu.
"Mari menikah, dan kau tahu aku tidak mengenal kata penolakan baby. Sudah cukup kejadian ini untuk membebaskanmu, aku tidak ingin hal serupa terjadi lagi."
"Tapi, kenapa ..."
"Aku tidak membutuhkan alasan apapun lagi darimu, sayang. Satu minggu lagi, kita kan menikah." Ray berdiri dan sedikit menjauh dari Nisha, ia tahu Nisha akan menyerangnya.
__ADS_1
"Dasar pria egois, seenaknya saja mengambil keputusan. satu minggu lagi, kenapa tidak besok saja sekalian." Nisha terus menggerutu dengan keputusan yang sudah Ray ambil.
Senyuman lirik pun tersunging di wajah Ray, ada sesuatu hal yang sangat menarik perhatiannya.
"Aku mendengar ucapanmu sayang, baiklah. Besok kita akan menikah, persiapkan dirimu."
"Apa?! Benar-benar egois kamu mas!" Bantal melayang di udara menuju Ray.
Bugh
Tepat sekali mengenai wajah pria dingin itu, berjalan mendekati Nisha yang sudah memasang wajah cemberutnya. Ray sungguh ingin melahap wanita tersebut saat ini juga, membuat dirinya semakin tergoda.
"Ma mas, mau apa?"
Ray mendekati Nisha yang sudah begitu ketakutan akan dirinya, wajah mereka berdua kini hanya berjarak beberapa centi saja.
"Kamu selalu berpikiran jelek padaku, baby."
Dalam keadaan yang begitu kaget, Ray perlahan menatap wajah pujaan hatinya. Sang pemilik jiwanya yang kini sedang berhadapan dengan dirinya, lalu ia menyatakan kedua bibirnya untuk bersatu bersama. Ray lebih mendominasi keadaan tersebut, Nisha yang pada awalnya akan menolak hal tersebut. Entah mengapa ia mulai menikmatinya, hingga pada saat ia harus memukul dengan begitu kuatnya dada Ray.
"Kenapa?" Tanya Ray yang baru saja melepas pautannya.
"Hah hah hah, dasar tidak punya perasaan. Aku tidak bisa bernafas mas, mau membunuhku?" Menundukkan kepala dan menyibukkan diri dengan mengatur nafasnya, Nisha begitu menahan rasa malunya dihadapan Ray.
Mendengar Nisha mengatakan hal tersebut, membuat Ray tersenyum. Ia mengetahui jika wanitanya itu sedang menahan rasa malu atas kejadian sebelumnya.
"Tidak ada yang menyuruhmu untuk tidak bernafas, baby. Kamu akan terbiasa nanti, beristirahatlah. Besok akan butuh tenaga untuk pernikahan kita, apa kamu mempunyai sesuatu yang harus dipersiapkan untuk semuanya? Tapi sepertinya kmu akan setuju dengan apa yang aku rencanakan, lebih baik beristirahat saja, oke baby." Ray kembali menggenggam tangan Nisha dan sedikit menepuk-nepuknya.
Mata itu melihat ke arah wajah pria yang sudah dengan begitu enaknya mengajaknya untuk menikah, tidak ada celah untuk dirinya berbohong.
Apa benar semua yang kamu katakan itu mas, pernikahan adalah suatu hal yang sakral dan tidak main-main.
__ADS_1