Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
92.


__ADS_3

Tidak ada yang mengetahui apa yang dikerjakan oleh Nathan sebenarnya, yang mereka ketahui jika anak tersebut asik bermain game bersama Bibby.


Menatap layar monitor dihadapannya, Nathan terlihat sangat fokus. Bagitupun dengan Bibby, mereka memiliki tujuan yang sangat besar atas suatu misi yang dirahasiakan.


"Wow, apa ini?! Apa yang mereka lakukan, ah sial!" Gerutu Bibby yang menemukan penyebab akses mereka dalam beberapa waktu ini menjadi terkendala.


Dengan bibir yang terus bergerak komat kamit tak tentu arah, Bibby benar-benar tidak menyangka jika jaringan akses dunia bawah mereka sedang diretas oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Wajar saja bisnis mereka mengalami penurunan yang cukup drastis, berusaha untuk mengalihkan perhatian orang tersebut agar dapat mengembalikan akses milik mereka. Akan tetapi tidak bagi sosok kecil yang tampak begitu tenang sekali menghadapi layar datar didepannya, jemari kecilnya sedang bermain dengan tombol-tombol hitam.


"Uncle, coba lihat." Nathan ingin Bibby melihat apa yang ia temukan.


Merasa sangat malas untuk menanggapi panggilan dari Nathan, Bibby mengacuhkannya dan masih saja fokus dengan pekerjaannya. Membiarkan untuk beberapa saat, Nathan kembali mengarahkan Bibby untuk melihat temuannya. Lagi-lagi tidak mendapatkan tanggapan, pada akhirnya kesabaran anak tersebut mencapai ambang batasnya.


"Bisnis daddy akan hancur, jika uncle masih mengabaikanku. " Ucap Nathan yang sudah terdengar meninggi.


Seketika itu juga Bibby menghentikan pekerjaannya, penekanan nada bicara yang Nathan ucapkan sudah berhasil membuatnya penasaran. Menggeser sedikit benda berlayar datar dari hadapannya, ia melihat ke arah monitor benda milik Nathan.


"Hah!" Sontak saja kedua bola mata itu seperti ingin keluar akibat apa yang ia lihat.

__ADS_1


"Ba bagaimana kamu bisa mendapatkannya?!" Bibby mengambil alih benda tersebut dan menelusurinya dengan perlahan.


Jemari itu bermain untuk menemukan apa yang sudah ia cari, mengeluarkan umpatan dan menggerutu tidak jelas. Namun itu hanya sebagian yang Nathan perlihatkan kepada Bibby, untuk selebihnya. Ia merahasiakannya untuk bahan permainan untuk dirinya, ia ingin menghancurkan melalui tangannya sendiri terhadap orang-orang yang mengganggu daddynya.


"Siapa pelakunya Nath?" Pandangan mata masih tertuju pada layar.


"Uncle cukup menekannya saja, babak akhir. Serahkan padaku." Seringai Nathan yang terkesan begitu dingin jika orang lain melihatnya, bahkan Bibby oun merasakan aura yang berbeda pada anak itu.


Melanjutkan apa yang akan mereka atasi, raut wajah Bibby berubah pias saat mendapati nama klan mereka menjadi salah satu penyuplai barang haram berupa obat-obatan terlarang dan juga persenjataan ilegal. Hal itu membuat Bibby menjadi cemas, ia harus segera memberitahukan kepada Ray akan peristiwa tersebut.


Sebelumnya ia memberitahukan hal itu kepada rekan mereka yang lainnya, sehingga mereka harus bertindak dan menstabilkan keadaan. Langkah Bibby yang super cepat keluar dari kamar tersebut dan segera menemui Ray, mereka pun memasuki ruang kerja Ray dan meninggalkan Nisha untuk berkumpul bersama Soraya dan lainnya.


Tanpa menjawab sepatah kata pun, Bibby menunjukkan temuan yang ia dapatkan. Sebenarnya itu adalah hasil dari jemari kecil yang terlihat begitu polos namun sebenarnya membuat orang lain waspada, akan tetapi belum banyak orang yang mengetahuinya terkecuali Bibby.


Ray mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat, terlihat urat-uratnya begitu jelas. Ia duduk dengan memijat keningnya dengan jemari tangan, isi kepalanya harus segera menemukan solusi dan pelaku dari kasus tersebut.


"Apa kalian sudah melakukan pencegahan? Gunakan akses utama untuk melacaknya." Ray menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya, memejamkan mata sesaat.

__ADS_1


"Kenapa selalu saja mencari masalah disaat aku sudah tenang." Gumaman Ray dalam keadaan mata yang tertutup.


"Kita semuanya sudah melakukan pencegahan tuan, tapi akses utama kita telah diserang oleh mereka terlebih dahulu sehingga hal itu tidak bisa kita gunakan dalam situasi seperti ini." Sedikit ragu untuk menyampaikan kendala yang ,ereksi hadapi saat ini, namun itu adalah keadaan yang sebenarnya.


Kepala Ray semakin terasa penuh dan sesak, dunianya pun seakan berputar-putar. Sebelumnya Ray sudah mengamankan semua akses milik klan dan juga perusahaan, tapi itu semua ternyata tidak cukup kuat. Tiba-tiba saja ponsel milik Ray bergetar, sebuah panggilan tertera disana dengan namanya Felix.


"..."


Pembicaraan itu terhentikan setelah beberapa saat, wajah Ray sudah tidak bisa di artikel lagi.


"Argh!"


Brakh!


Kaki jenjang itu menendang meja kerjanya dengan cukup kuat, membuat benda itu hancur. Beruntungnya ruangan kerja milik Ray kedap akan suara, sehingga tidak menimbulkan kericuhan.


Dalam pembicaraan Ray melalui telfon bersama Felix, dimana Felix memberitahukan saham perusahaan menurun drastis dan banyak investor lainya mulai menanyakan nilai saham mereka. Baik Ray maupun anggota yang lainnya tengah disibukkan dengan peristiwa ini, namun tidak untuk si kecil.

__ADS_1


Menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kepanikan pada daddynya maupun yang lainnya, senyuman yang begitu dingin dan datar ditampakkan.


"Daddy daddy, kalian akan aman selama mommy selalu tersenyum. "


__ADS_2