
Prang!
Piring cake yang berada ditangan Nisha terlepas dan jatuh ke lantai, membuat perdebatan berakhir dan fokus pada benda pipihpun ikut berakhir.
"Mom!" Ketiganya bergumam bersamaan.
Memejamkan matanya sejenak, Niaha berusaha menetralkan emosinya. Sungguh makanan yang aneh ia rasakan, tiba-tiba saja rasa pada lidahnya berubah menjadi seperti itu.
"Mas, kamu yakin membuat cheese cake tanpa rasa lain kan?" Pertanyaan Nisha yang membuat kening Ray berkerut.
"Apa maksudmu mom, itu benar-benar cheese cake." Yakin Ray pada Nisha.
"Memangnya ada apa mom? Cake buatan daddy pasti tidak enak kan, memang daddy tidak bisa membuat mommy makan cake nya." Fio semakin senang melihat Ray tersudutkan.
"Fio itu putri daddy atau bukan sih, sebegitu senangnya melihat daddy seperti ini. Wah, kau memang selalu berhasil membuat daddy terpojokkan."
Kembali terjadi perdebatan diantara keduanya, di satu sisi. Nathan meraih kedua tangan Nisha yang terasa dingin, keringat besar mulai mengalir di wajah cantik sang mommy.
"Mom, katakan." Nathan menatap Nisha dengan tatapan yang curiga serta khawatir.
__ADS_1
Tak lama kemudian tangan itu bergetar, Nisha menutupkan kedua bola matanya seperti sedang menahan sakit pada tubuhnya. Hal itu membuat Ray panik, meraih kedua tangan Nisha dari putranya.
"Sayang! Ada apa?" Panik Ray.
Seakan tidak bisa untuk mengucapkan sesuatu disaat sedang menahan rasa sakit, Ray beralih mengambil sisa potongan dari cake buatannya dan memakannya. Tidak ada sesuatu yang aneh, namun lama kelamaan ras itu berubah menjadi rasa yang sangat Nisha tidak suka.
"Strawbery! Tidak mungkin!"
Getaran pada tubuh Nisha semakin kuat, bahkan kini nafas wanita itu seperti terputus-putus. Sesak yang begitu menyiksa, Nisha menggerakkan tangannya dan memukulkannya pada dadanya. Bermaksud untuk membantu agar nafas itu menjadi normal kembali, namun semuanya itu tidak ada gunanya. Rasa sesak itu semakin menyiksa.
Tak tahan melihat Nisha yang begitu tersiksa, Ray bermaksud untuk membawanya segera kerumah sakit. Namun situasi saat itu sudah tidak mendukung, mansion mereka telah dikepung oleh sejumlah pasukan dari klan Draco.
Tidak ada cara lain lagi, Ray harus menghubungi Jackson untuk saat ini. Untuk keluar dari mansion pun terbilang hanyalah keinginan yang sia-sia, dalam keputus asa an. Ray tidak bisa berbuat banyak, untuk meninggalkan Nisha dalam keadaan seperti ini akan sama saja ia melenyapkan nyawa keduanya. Sedangkan diluar sana, Heru dan lainnya sudah mengambil alih penyerangan tersebut.
"Bertahanlah sayang." Ray masih mencari celah agar bisa membawa Nisha untuk mendapatkan pertolongan, untuk Jackson ia sedang terhalang oleh pasukan Draco.
Baru Ray sadari, jika tidak ada pergerakan lagi dari Nisha. Mendapatkan hal itu, semakin membuat Ray tertekan.
"Tidak, tidak! Sayang bertahanlah, buka matanya buka matamu Nisha!" Suara Ray meninggi.
__ADS_1
Tiba-tiba saja si gadis kecil itu berlarian menuruni anak tangga dengan sangat tergesa-gesa, lalu ia menghampiri kedua orang tuanya. Memeriksa denyut nadi pada bagian belakang telinga Nisha, terlihat pada tangan kecil itu sebuah alat suntikan.
"Apa yang kau lakukan, Fio?!" Ray tidak percaya akan apa yang dilakukan Fio saat ini.
"Tenang saja dad, ini akan membantu mommy untuk menetralkan kondisi tubuhnya." Fio mengambil ancang-ancang untuk menancapkan benda kecil itu pada tubuh Nisha, namun terlebih dahulu tangan Ray mengahalaunya dengan cepat.
"Jangan membuat mommy kalian semakin buruk Fio! Kamu belum mengerti nak." Ray Tidak yakin jika putri kecilnya itu tahu mengetahui dunia farmasi.
"Daddy, kondisi mommy akan semakin memburuk jika dibiarkan saja seperti ini. Tangan daddy terlalu kasar, tangan Fio jadi sakit."
Nampak sekali pergelangan tangan gadis kecil itu memerah terkena cengkraman kuat dari tangan Ray, namun hal itu tetap tidak ia izinkan.
"Dad, percayalah pada kami. Abang akan ceritakan semuanya nanti, untuk saat ini biarkan Fio menyelamatkan mommy."
Betapa kagetnya Ray saat mendapati Nathan menepis tangannya dengan sangat kuat, tidak ada cara lain lagi selain menuruti apa yang dikatakan oleh kedua anaknya karena tubuh Nisha semakin dingin dan pucat.
Dalam keadaan seperti ini, Ray harus membuang semua ke ke egoisannya. Membiarkan gadis kecilnya menancapkan benda kecil yang berada ditangan pada tubuh Nisha, setelah melakukan hal itu. Fio meminta Ray untuk membawa Nisha ke dalam kamar mereka, menyakinkan pada Ray akan menjaga mommynya. Keadaan semakin tidak stabil, dimana Ray sangat dibutuhkan diluar sana.
"Jaga mommy kalian baik-baik, daddy percayakan semuanya kepada kalian berdua." Ray memeluk si kembar dan segera keluar dari kamar tersebut untuk melihat situasi dan kondisi di luar mansion.
__ADS_1
Si kembar hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengatakan iya atas apa yang dikatakan Ray kepada mereka berdua.