Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
8.


__ADS_3

Seakan mendapatkan keberuntungan, Lensi dengan senyum kemenangan menatap Nisha yang berjalan menghampiri dirinya dan Soraya.


"Nek, lebih baik duduk didalam saja. Nanti biar Nisha yang ngeberesin polusi suara ini." Hal tersebut disambut oleh Soraya yang berjalan menjauhi keduanya.


Melihat kedua tangannya ke depan, Lensi menatap Nisha dengan tatapan yang begitu tajam dan juga seperti meremehkan.


"Berani juga ni anak, sudah mulai mencari mangsa orang kaya untuk menutupi kehidupan. Jadi simpanan aja kok bangga." Kalimat demi kalimat keras mulai Lensi lemparkan kepada Nisha.


Ingin rasanya Nisha menjambak rambut orang yang mulutnya setajam pisau sampai ini, namun ia berusaha menghadapinya dengan penuh ketenangan. Rasanya akan percuma saja melayani obrolan anehnya ini.


"Sudah selesai bicaranya?" Jawab Nisha dengan tenang.


"Kamu itu ya, kalau dikasih tahu malah ngeyel. Makanya kerja yang bener, jangan jual diri. Dasar ja***ng." Perkataan Lensi semakin tidak tahu arah, menuduh Nisha dengan perkiraannya sendiri dan tanpa bukti.


"Silahkan berbicara semau kamu, bila perlu nanti akan aku daftarkan kamu untuk kelas akting. Kalau tidak ada urusan ataupun belanja apapun, tolong menyingkirlah dari sini. Nanti orang-orang tidak bisa berbelanja."


"Kau mengejekku, hah! Awas saja kau ya, aku akan membuat perhitungan padamu."


Brak!!


Beberapa dagangan yang berada di atas etalase berhamburan ke bawah, tangan Lensi dengan begitu ringan menepisnya. Melihat hal itu, Nisha hanya bisa menghembuskan nafas beratnya. Begitu sakit di dadanya saat mendapatkan tuduhan seperti itu, akan tetapi ia tidak terlalu ambil pusing. Karena dirinya tidak merasa seperti apa yang dituduhkan padanya.


"Bisa jelaskan pada nenek, Nis?" Tangan yang mulai keriput itu Mengusap bahu Nisha dengan lembut.


Sedikit terkagetkan dengan sentuhan tangan tersebut, melihat wajah sang nenek yang begitu meminta penjelasan. Membuat Nisha menghembuskan nafasnya dengan berat. Membawa Soraya menuju tempat yang nyaman, Nisha memberanikan diri untuk menceritakan semuanya. Dari awal ia bertemu dengan Ray, sampai pada saatnya saat ini.


"Begitulah nek, Nisha tidak berbohong dengan semuanya ini. Bahkan saat ini, Nisha tidak ingin bertemu dengannya, tapi. Tanpa sepengetahuan Nisha, orang itu selalu membantu dan mengetahui setiap aktivitas yang Nisha jalani." Merebahkan kepalanya di atas paha Soraya, Nisha memeluk pinggangnya dengan erat.


Hiks hiks hiks...

__ADS_1


"Jangan menangis, nenek percaya padamu nak. Sepertinya, pria itu sangat menyukaimu." Tangan yang mulai keriput itu mengusap kepala Nisha dengan perlahan.


"Nisha takut, jika semuanya ini hanya akan membuat kita semakin mendapatkan hinaan dan cacian orang lain nek." Isakan tangis masih begitu terasa pada Soraya yang menjadi tumpuan kepala cucunya.


"Hidup akan selalu dihiasi dengan ujian dan berbagai proses untuk mendapatkan kebahagian. Jangan jadikan itu semua sebagai sesuatu yang dapat membuat kita semakin terpuruk, Nisha cucu nenek. Adalah seseorang yang begitu kuat dan juga tangguh dalam menghadapi itu semua, nenek sangat bangga padamu nak." Soraya membawa Nisha untuk menegakkan kepalanya, sehingga mereka saling berhadapan.


"Nenek."


Keduanya saling berpelukan, beruntungnya Nisha memiliki seorang nenek yang begitu bijaksana.


Setelah puas berdiam diri dirumah, kini Nisha kembali lagi untuk beraktivitas seperti biasanya.


"Nisha!" Suara teriakan bergema saat Nisha memasuki tempat kerjanya.


Sang pemilik nama hanya tersenyum dan menghampirinya, pelukan erat diberikan oleh Devi. Sahabat yang sedang merindukan dirinya, begitu juga Satria yang tak kalah antusias dengan kedatangan Nisha.


"Sudah netas berapa telur lu Nis, betah banget dirumah." Satria dengan mode ingin tahu.


"Nggak kok Dev, kalau aku berhenti. Nanti tambahan buat warung dapat darimana, mau kerja dimana lagi akunya." Dengan nada bercanda, Nisha menjawab pertanyaan Devi padanya.


"Sudah-sudah, wawancaranya nanti dilanjutkan nanti saja. Lihat tu, pak Erwin sudah melotot sama kita. Nis, semangat." Satria menggerakkan kepalan tangannya kepada Nisha.


Walaupun sempat mendapatkan pertanyaan dari beberapa teman yang lainnya dan juga sang manager, kini suasana Cafe tersebut sudah kembali lagi seperti sedia kala.


"Nis, tolong anterin pesanan untuk VIP ya."


Menganggukkan kepalanya atas perintah yang diberikan kepadanya, Nisha dengan semangat membawanya menuju ruangan tersebut. Alangkah kaget dirinyanya saat melihat ada beberapa orang berpakaian serba hitam berjaga disana, membuat tubuh Nisha seketika merinding.


Kenapa aku jadi merinding kayak gini ya, apa tamu didalam adalah ... Ih, parnoan deh aku.

__ADS_1


Memasuki ruangan dan mendapatkan penjaga sebelumnya menundukkan sebagian tubuhnya pada kedatangan Nisha, lagi-lagi membuat pikiran Nisha berpetualang entah kemana.


"Ini pesanannya tuan, silahkan dinikmati." Meletakkan nampak berisikan makanan dan minuman tersebut ke atas meja.


Seorang pria yang sedang duduk dengan tatapan mata yang begitu tajam dan juga tidak teralihkan saat kaki Nisha memasuki ruang tersebut, ada perasaan yang tidak begitu enak dalam benak Nisha. Ia pun segera beranjak dari ruangan tersebut, agar dirinya tidak terlalu kepikiran.


Tap!


Tangan yang begitu kokoh telah menahan lengan kecil tersebut, saat itu juga keseimbangan Nisha tidak begitu baik. Sehingga tubuh kecil itu jatuh pada dekapan seseorang, yang merupakan tamu dalam ruangan tersebut.


"Akh!" Tangan Nisha mencekram bahu orang tersebut.


Kedua pandangan mata mereka saling bertemu, senyuman yang cukup manis terlihat pada wajah orang tersebut.


"Sepertinya kau begitu nyaman, baby."


Teng!


Otak Nisha segera bekerja untuk sebutan nama yang begitu tidak asing pada telinganya, saat ia menyadari dalam pandangan tersebut. Wajah pria yang selalu membuat dirinya ketakutan, seketika itu juga Nisha mendorong bahunya dan memberontak untuk melepaskan diri.


"Jangan memberontak, baby. Atau kau lebih memilih aku untuk melakukan sesuatu yang lebih dari ini padamu." Ray, dengan gemasnya membisikkan perkataan itu pada telinga Nisha.


"Tu tu an, to long lepaskan saya tuan."


"Untuk apa sayang, temani aku untuk sarapan. Karena kau sudah beberapa hari tidak menghantarkan bekal makan siangku, itu membuat nafsu makan memburuk. Ayo." Dengan perlahan, Ray merangkul pinggang Nisha dan membawanya untuk ikut duduk serta bersamanya.


"Daripada melamun, lebih baik tanganmu memberikan suapan yang membuat perutku terisi sayang." Ray mendapati Nisha yang mengalihkan pandangannya untuk tidak berhadapan dengannya.


Tap!

__ADS_1


Ray mengambil alih tangan Nisha dan menuntunnya untuk membawa makanan itu ke dalam mulutnya, hal itu sangat membuat Nisha kaget dan tak bisa menarik tangannya yang sudah berada dalam kuasa Ray.


"Aku sudah mengatakan padamu, untuk tidak bekerja lagi. Tapi itu tidak kau indahkan, baby." Melepaskan sendok yang berada pada tangan Nisha dan menggenggam tangan yang sudah bergetar itu ke dalam kepalan tangan kekar seorang Ray.


__ADS_2