Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
52.


__ADS_3

Bala bantuan petugas pun bertambah, menghadapi amukan dari masa yang sudah tidak terkendali.


"Maaf pak, ini yang kami temukan!" Anggota dari petugas berseragam cokelat itu menyerahkan beberapa barang bukti kepada pimpinannya.


Menatap seakan kaget dengan penemuan tersebut, sudah dapat dipastikan jika hal tersebut akan memperberat kasus yang sedang terjadi.


"Bagaimana nona, apa anda mempunyai alasan yang kuat agar tugas ini tidak diteruskan?" Tatapan tajam itu membuat Queen semakin kacau.


Merasa situasi sudah tidak dapat ia atasi, Queen mencari celah agar ia bisa kabur dari tempat tersebut.


"Baiklah, terserah anda mau apa. Mau geledah ataupun mau kalian bakar juga, aku tidak perduli." Begitu ketus Queen berkata kepada petugas dan berlalu dari hadapan para masa yang begitu banyaknya.


Petugas berseragam cokelat itu menyeringai dengan penuh kepuasan, bahkan ia segera memberikan kabar tersebut kepada seseorang yang sangat mereka segini .


"Semuanya sudah terselesaikan, tuan."


Pembicaraan itu terhentikan dan semuanya kembali fokus dalam kasusnya saat ini, Sementara pabriknya mendapatkan penyergapan yang membuat pemiliknya menjadi kacau. Queen mencari celah melalui berbagai orangnya, berhasil menghilang dan melarikan diri untuk menghindari sesuatu yang akan mengancam nyawa dirinya.


.


.


Tubuh pria kekar itu masih setia berada disisi wanitanya, sudah dua hari lamanya wanita itu begitu nyaman berada dalam alam bawah sadarnya. Tubuh kecil itu harus menahan rasa sakit dan serangan dari berasal dari racun pada cambuk yang sudah dipersiapkan, sedikit terlambat untuk membuat racun itu agar tidak menyebar dan menimbulkan efek yang sangat fatal.


"Bagaimana, apa dia sudah membuka matanya?" Heru yang baru saja tiba, mengagetkan Ray dengan kehadirannya.


"Belum." Hanya suara yang terdengar namun tidak dengan tubuhnya, berbalik pun tidak.


Membiarkan suasana kembali senyap, Heru memilih untuk keluar sejenak untuk mencari sesuatu.

__ADS_1


Begitu pun dengan Ray, melihat Nisha yang masih terpejam. Ia memilih untuk membersihkan tubuhnya dahulu, agar suatu waktu Nisha terbangun dan melihat keadaannya dengan baik.


Disaat Ray berada didalam kamar mandi, perempuan yang terpejam itu tiba-tiba menggerakkan bola matanya. Membuka perlahan dan menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke matanya, melihat sekitarnya dengan memutar bola matanya.


Perlahan membuat tubuhnya yang terasa begitu sangat pegal itu untuk duduk, walaupun punggungnya masih menimbulkan rasa sakit. Terdiam pada pinggiran tempat tidurnya, menghela nafas sejenak.


Dalam ketenangan itu, ia merasakan sentuhan pada tubuhnya. Terlihat tangan kekar kini melingkar pada perutnya, tersadar dan menyadari pemilik dari tangan tersebut.


"Apa ada yang sakit?" Hembusan nafas terasa pada puncak kepala Nisha.


Masih berusaha berdamai dengan kondisinya saat ini, Nisha kembali menghela nafas panjangnya.


"Masih sakit sekali." Jawaban itu seketika membuat tangan itu terlepas.


Dan yang mengejutkan lagi, Ray sudah berpindah tempat dan berada dihadapan Nisha.


"Bagian mana yang sakit? Bertahanlah, Haykal sebentar lagi akan tiba." Kalimat tersebut terdengar sangat khawatir dan juga panik.


"Jangan menangis sayang, jangan menangis."


Untuk beberapa saat, mereka terhanyut dalam suasana yang cukup menguras emosi keduanya. Mengundurkan pelukannya dan menatap wajah yang sudah sangat ia rindukan, menekuk kedua lututnya agar bisa memandangi wajah tersebut dengan sangat jelas.


Klek!


"Auw, aku ceroboh. Permisi." Haykal yang langsung saja membuka pintu kamar ruang perawatan Nisha tanpa mengetuk terlebih dahulu, ia diperlihatkan pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat.


"Masuk saja." Nisha mendorong tubuh Ray untuk menjauh darinya, ia menolak saat Ray ingin membantunya untuk merebahkan kembali tubuhnya.


Tidak ingin membuat suasana hati istrinya semakin buruk, Ray hanya bisa diam dan melihatnya. Haykal pun tak kalah panik saat mendapat tatapan tajam dari Ray, Seolah-olah nyawahya kali ini benar-benar sedang dipertaruhkan.

__ADS_1


"Lukanya sudahlah mengering dengan cepat, tidak perlu khawatir lagi. Apa ada sesuatu yang kamu rasakan?" Berharap cepat selesai dan kabur dari hadapan manusia kejam ini, Haykal mempercepat pemeriksaannya.


"Iya dok, bisakah kamu membantu untuk mengobatinya?"


"Sebagai dokter, aku akan membantu pasienku untuk segera sembuh. Apa itu?"


Tatapan Ray semakin tajam, ia sedang berperang sendiri dengan pikirannya.


"Seluruh organ tubuhku merasa sangat tidak nyaman dengan keberadaan seseorang disini, bisakah kami membantu untuk membawanya keluar dari sini dok? Aku butuh istirahat panjang dan lama." Jelas saja ucapan Nisha itu membuat Ray dan Haykal melebarkan kedua matanya.


Merasa oksigen di dalam ruangan itu semakin menipis, Haykal sudah bisa menilai sendiri apa yang terjadi disana. Dengan cepat ia mengambil kesimpulan dan keputusan yang menurutnya sangat tepat untuk saat ini, apalagi manusia kejam itu sudha kembali pada sifat aslinya.


"Itu bukan tugasku nona, aku harus segera,,, aaaa."


Brakh!


Langkah kaki panjangnya Haykal telah membantunya selamat dari itu semua, ia tidak ingin terlibat dalam urusan pribadi dari dua pasangan yang sangat membuatnya pusing. Ia berhasil kabur dan menutup pintu ruangan tersebut dengan cukup keras, menyelamatkan nyawanya adalah hal yang utama.


Melihat kaburnya Haykal, membuat Nisha menjadi kesal. Karena dokter aneh itu telah membuat dirinya semakin terbawa suasana yang cukup mencekam.


"Jangan bersifat kekanak-kanakan seperti ini, jika ada permasalahan yang harus diselesaikan. Bicaralah dan jangan diam!" Nada bicara Ray sedikit meninggi dari biasanya.


Kali ini Nisha benar-benar dibuat kaget dengan cara Ray bicara, tidak seperti biasanya ia akan bicara dengan sangat lembut dan penuh perhatian kepadanya. Ray sudah berhasil membuat Nisha mengetahui sifat suaminya itu yang sebenarnya, entah mengapa ia tidak merasa takut sedikitpun dengan hal tersebut. Yang ada saat ini, Nisha memicingkan kedua matanya dalam menatap Ray.


"Silahkan keluar jika tidak mau bicara dan bersama dengan orang yang sangat kekanakan ini, pintunya disana." Setelah berbicara seperti itu, Nisha merebahkan tubuhnya tanpa menatap Ray yang juga tak kalah kagetnya mendapati istri kecilnya ini sudah sangat banyak berubah hanya dalam beberapa waktu.


Merasa tidak ada pergerakan dari Ray, Nisha berkali-kali menarik nafasnya yang benar-benar membuat dirinya harus menitikkan air mata kembali. Mengabaikan luka yang masih terasa sakit, Nisha beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu.


"Tidak akan mas biarkan kamu pergi lagi, maaf." Ray meraih tubuh Nisha dari arah belakang dan mendekapnya dengan begitu hangat. Membenamkan wajahnya pada leher Nisha, terdengar isakan tangis dari pria yang berbadan kekar dan kejam itu.

__ADS_1


"Jangan pergi lagi." Suara itu begitu sangat menyedihkan terdengar di telinga.


Namun suara tangisan itu seakan berlomba, keduanya mengeluarkan tangisan yang cukup menyedihkan. Bahkan bahu Nisha terlihat bergerak naik turun dan Ray merasakan hal tersebut, ia semakin terbawa suasana.


__ADS_2