Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
101.


__ADS_3

"Ucapkan selamat tinggal pada mereka, Ray. Hahaha."


Situasi yang benar-benar membuat Ray dilema, jika ia melepaskan Gino begitu saja. Maka akan ada banyak nyawa yang hilang dari tindakannya itu, namun jika ia membiarkan hal ini terjadi. Maka nyawa Nisha dan kedua anaknya akan berada di ujung tanduk, sungguh keputusan besar yang harus Ray ambil. Felix dan Heru hanya bisa menahan pergerakan dari lawan mereka, akan tetapi Felix berkeyakinan jika tuan mudanya bisa mengatasinya.


"Tarik mundur anggotamu, maka akan aku biarkan kau selamat. Cepat!" Ray menegaskan perkataannya.


"Hahaha, tidak semudah itu Ray Tamoez. Aku ingin kau benar-benar hancur!" Gino tidak mau mengalah dan berkeyakinan jika dirinya akan menang.


Ray semakin tidak terkontrol emosinya, tangan itu sudah semakin keras menekan titik saraf leher Gino. Dengan nafas yang tersendat, Gino mengisyaratkan kepada anggotanya yang berada di lantai dua untuk bergerak.


"Gino!" Teriak Ray agar Gino menghentikan aksi anggotanya.


Akan tetapi hal itu tidak berhenti sedikitpun, membuat Ray dan yang lainnya menjadi panik. Melepaskan begitu saja lawan yang sudha berada dalam genggamannya, Ray berlari menuju mansion untuk menyelamatkan keluarga kecilnya yang berada di dalam sana. Melihat pergerakan Ray, Gino mengambil senjata yang ia sembunyikan dari dalam saku jaket yang ia kenakan. Mengarahkannya pada Ray yang sedang berlari, menarik platuknya dan ...


Dor!


Dor!


Brakh!


Seketika target terjatuh akibat terken tembakan yang mengenai organ vitalnya, jantung dan kepala, target pun tewas seketika. Sang penembakan pun tersenyum, tidak ada rasa ketakutan sama sekali yang ia perlihatkan saat melepaskan tembakan tersebut.


"Wow!" Heru tercengang dengan apa yang ia saksikan saat ini, sungguh pemandangan yang luar biasa.

__ADS_1


Begitu pun pada Felix, pria itu menegang saat melihat siapa pelaku dari penembakan tersebut. Ingin ia mengucapkan kalimat pujian, namun lidah itu terasa begitu kaku. Hanya bisa mengedipkan matanya berulang kali, selebihnya sudha terwakilkan oleh Heru dan anggota lainnya.


"Sayang!" Ray pun ikut kaget dan berhenti dari gerakan kakinya.


Mendapati targetnya sudah tidak bernyawa, sang penembakan pun memberikan senyuman yang cukup manis.


"Sorry." Suara lembut namun membuat orang lain merinding.


Ray melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhentikan saat melihat sang penembak melakukan aksinya, memasuki mansion yang sebelumnya sudah terkepung oleh para anggota dari klan Draco. Namun saat ini, begitu sunyi.


"Apa yang terjadi disini?" Sebuah tanda tanya yang sangat besar bagi Ray melihat situasi saat ini.


Melanjutkan langkahnya melewati tubuh yang sudah tak bernyawa, yang kemudian suara pengawal istrinya membuat Ray kaget.


"Hem, jelaskan ada apa ini?" Bertolak pinggang dan mengusap wajahnya dengan kasar, Ray meminta penjelasan dari mereka.


Dengan penuh keraguan untuk memberikan penjelasan kepada tuannya, Mery dan yang lainnya terdiam dan menunduk. Tidak ada satu pun yang berani untuk membuka suara, sampai akhirnya Ray yang sudah begitu lelah membuat semuanya tersentak.


"Katakan! Jangan diam saja, kalian punya mulut!"


"Dad."


Mengalihkan tatapannya kepada sumber suara, Mery dan yang lainnya menghembusjan nafas panjang. Ray segera menuju lantai atas untuk menjumpai sang pemilik suara, Ray lalu menyamakan tubuhnya agar bisa memandangi wajah itu.

__ADS_1


"Dad, lama sekali." Fio, sang pemilik suara yang memanggil Ray.


"Maafkan daddy sayang." Ray memeluk tubuh gadis kecilnya dengan begitu lega.


"Masuklah dad, kami sudah menunggu daddy. Dasar daddy payah, menunggu itu adalah hal yang membosankan." Gerutu Fio yang memang sudah dalam mode kurang baik.


"Jangan marah nak, sepertinya daddy membutuhkan banyak penjelasan dari kalian. Dan juga mommy, ayo masuk."


Membawa Fio dalam pelukannya dan mereka pun masuk ke dalam kamar utama, didalam san asudah menunggu dua orang yang sudah membuat jantung Ray hampir berhenti berdetak.


Menurunkan Fio dan Ray beralih menatap Nathan, seperti biasa. Wajah anak itu tampak begitu tenang dang juga dingin, tak salah jika Nathan memiliki garis keturunan dari seorang Ray Tamoez. Ingin rasanya Ray menanyakan langsung kepada putranya itu, akan tetapi wanita yang kini sedang menatapnya lebih utama dari segalanya.


"Bagaimana baby?" Ray menghampiri Nisha yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur.


Mengusap perut besar itu dengan perlahan, memberikannya kecupan hangat agar senantiasa terbiasa dengan kehadiran daddy nya.


"Sedikit kaget, maaf." Nisha menghamburkan dirinya masuk kedalam pelukan Ray.


"Maafkan mommy dad, tiba-tiba saja baby ingin berlatih menembak." Kicauan Nisha dalam pelukan Ray.


Menghembuskan nafas beratnya, Ray mengusap punggung Nisha perlahan. Bagaimana bisa Ray tenang dalam situasi seperti ini, dalam keadaan genting dan hampir melibatkan nyawa keluarganya. Dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk melindungi istri dan anaknya, namun kali ini ia dikagetkan dengan kejadian diluar dugaannya.


"Kalian semuanya berhutang penjelasan padaku daddy, begitu juga padamu mom. Bisakah daddy mendapatkan jawabannya?"

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, si kembar sudah menganggukkan kepalanya dan begitu juga pada Nisha. Memang mereka harus memberikan penjelasan atas semuanya, namun Nisha dan Ray akan semakin kaget dengan apa yang telah si kembar lakukan dengan kemampuan yang mereka miliki.


__ADS_2