Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
102.


__ADS_3

Di dalam kamar tersebut, keluarga kecil itu mengambil tempat ternyaman untuk mereka.


"Mom, bisa jelaskan pada daddy?" Ray menggenggam tangan Nisha dan sedikit memberikan kecupan pada punggung tangannya sambil menatap wajah yang terlihat begitu ragu.


Benar sekali, sebenarnya disaat Ray keluar dari kamar dan menyusul anggotanya. Fiona memberikan semacam racikan dari ramuan yang ia bawa kepada Nisha, dengan bantuan Mery mereka meminumkan ramuan tersebut ke dalam mulut Nisha. Tak berselang lama, kemerahan pada kulit Nisha mulai berkurang. Begitu pula pada wajahnya yang terlihat pucat, berangsur-angsur mulai berwarna. Pergerakan dari perut besar itu juga terlihat, menandakan jika sang calon adik mereka didalam sana dalam keadaan yang baik-baik saja.


"Tuan muda, ini..." Mery semakin kaget saat melihat Nathan sedang meretas sistem keamanan jaringan sebuah instansi, agar mereka mengetahui aksi penyerangan dan juga memberitahukan siapa menjadi dalang dari bisnis ilegal yang melibatkan serta membuat nama daddy mereka rusak.


"Sstthh." Nathan hanya mengisyaratkan agar Mery menutup mulutnya dan melanjutkan pergerakan jemarinya.


Benar-benar sangat membingungkan untuk dipahami, jemari kecil itu terus bergerak diatas tombol yang berada dihadapannya. Setelah selesai, mereka berdua berada disamping Nisha. Karena sejak tadi Fiona sudah memberikan beberapa penawar untuk alergi yang terjadi pada tubuh Nisha dan juga suplemen agar adik mereka dalam kondisi baik-baik saja, hingga pada saatnya Nisha membuka matanya.


Dan kini, si kembar sudah berada dalam keadaan yang pasrah dan juga siap dengan apa yang akan terjadi setelah mereka mengungkapkan yang sebenarnya.


"Mom, dad. Sebelumnya abang minta maaf..." Nathan dengan perlahan menjelaskan apa yang telah ia perbuat melalui kemampuan yang ia miliki.

__ADS_1


Baik Ray maupun Nisha merasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh putranya itu, namun sebelum mereka menemukan bukti yang lebih lagi. Fiona lanjut memberikan penjelasan sama seperti apa yang dilakukan oleh Nathan sebelumnya.


"Mas." Nisha yang terlebih dahulu memberikan respon atas apa yang dikatakan oleh kedua anaknya tersebut.


Mengangkat tangannya sebagai tanda Nisha agar tetap tenang, Ray kini menatap kedua anaknya dengan tatapan sedikit menyeramkan.


"Pembuat onar dan juga yang menjadi dewa penolong saat itu adalah kalian?!" Dengan bersedekap, Ray meluapkan apa yang ia rasakan. Anggukan kepala sebagai tanda kebenaran untuk sebuah jawaban.


"Yang meracik ramuan mommy, juga kalian?" Anggukan kepala kembali menjadi sebuah jawaban.


Begitu juga dengan Mery, ia juga tak luput dari introgasi yang Ray lakukan. Merasa sudah mendapatkan penjelasan yang cukup, Ray mendekati putranya itu.


"Tunjukan pada daddy." Ray meminta pada Nathan agar memperlihatkan kemampuan yang ia miliki.


Tanpa rasa segan ataupun kesna menutup nutupi lagi, Nathan beraksi dengan benda pipih berlayar datar dihadapnnya kini. Bahkan Nisha sudah mengusap perut besarnya agar tidak kram kembali atas tegangnya situasi saat ini, membuat emosinya menjadi tidak stabil.

__ADS_1


"Jangan hukum uncle Felix dad, abang masuk ke akses utama kalian."


Bagaikan terkena sengatan listrik beraliran tinggi, Ray meraih benda tersebut dan melihat hasil karya putranya. Nathan meretas akses utama milik klan dan juga perusahaan yang Ray pimpin, dan itu hanya dalam waktu yang begitu singkat.


Bahkan hacker yang ahli seperti Felix, membutuhkan waktu yang berbeda. Kepala Ray mulai berdenyut, akan tetapi ia juga tidak bisa menyalahkan putranya.


"Siapa saja yang sudha mengetahui ini? Jangan abang bilang, kalau daddy orang yang kesekian mengetahuinya." Ray menatap tajam kepada Nathan.


"Benar dad, uncle Bib yang pertama. Maka dari itu, tolong daddy memberikannya bonus."


Bonus disini adalah mengganti keuangan milik Bibby yang telah mereka gunakan dalam membeli benda mainan yang berguna dalam melakukan aksinya. Jumlah yang begitu fantastis untuk mainan anak se usia mereka, karena hal itulah yang sudah membuat Bibby uring-ringan.


Menghela nafas panjangnya, yang menjadi pikira Ray adalah Nisha. Apakah istrinya itu bisa menerima apa yang telah kedua anaknya lakukan, menyembunyikan dan memanfaatkan kemampuan yang mereka miliki seperti saat ini. Dan hal yang membuat Ray kembali menjadi terdiam, karena apa yang ia pikirkan sebelumnya malah berbanding terbalik.


Sebuah tangan mengusap punggung lebar milik Ray, Nisha tersenyum dengan begitu manis kepada Ray.

__ADS_1


"Jangan salahkan mereka, mereka berdua mewarisi sifat dan keahlian yang kamu miliki mas. Darahmu mengalir didalam tubuhnya, jangan marah. Tidak ada gunanya kita mengeluarkan amarah, bimbing dan arahkan kemampuan mereka pada hal-hal yang baik. " Nisha mengusap kembali punggung lebar tersebut.


__ADS_2