
Benar-benar hari yang melelahkan dan memusingkan, selesai dari ruang kerjanya. Ray menghampiri Nisha yang sedang menata hasil masakannya di atas meja makan, Nisha pun peka akan kehadiran dari suaminya.
"Jangan terlalu banyak pikiran mas, percayakan pada mereka untuk menjalankannya." Nisha menghampiri Ray dan sedikit memberikan pijatan pada bahunya yang kekar.
"Entahlah sayang, mempercayakan semuanya kepada anak-anak itu terasa sangat berat. Apalagi mereka mewarisi ketampanan dariku, itu yang membuat semakin memperkeruh keadaan."
Plak!
"Eh, kenapa sayang?" Ray yang mendapatkan hadiah dari tangan Nisha mendadak protes.
"Mulai narsisnya keluar, ingat umur ya. Kalau masih suka lupa, nanti akan aku rombak habis kamu mas." Senyum seringai yang Nisha berikan, membuat Ray semakin gemas dengan wanita pemilik jiwanya itu.
Memeluk tubuh kecil itu dari belakang, merekatkan kedua tangannya pada pinggangnya. Ray merasakan kehidupan yang berwarna setelah bersama dengan Nisha, mempunyai tiga buah hati yang benar-benar sangatnluar biasa.
"Apalagi yang anakmu perbuat, sehingga kamu pusing seperti ini." Nisha mengajak Ray untuk menikmati makanan yang sudha terhidang di atas meja.
__ADS_1
Meletakkan nasi beserta lauk padanya ke dalam piring, lalu diberikan kepada Ray. Pria itu menikmati makanan tersebut dengan begitu nikmatnya, melupakan sejenak permasalahan yang membuat dirinya pusing.
Bersama Ray, Niaha juga mendapatkan banyak pengalaman hidup yang sangat berarti. Kini kita tiga buah hatinya sudah dewasa, mereka pun memilih untuk menikmati masa dimana lebih banyak waktu berduanya.
"Dimana mereka?" Ray belum menjawab dan mempertanyakan keberadaan anak-anak.
"Abang belum pulang dan Revan, seperti dia ada di dalam kamarnya. Ada apa mas?" Nisha semakin penasaran atas apa yang akan suaminya ceritakan.
Menyelesaikan makanan yang ada, Ray meninggalkan meja makan dan membawa Nisha untuk masuk ke dalam kamar mereka. Merasa apa yang akan ia ceritakan adalah berita yang cukup rahasia, dan kamar adalah tempat yang cocok untuk menceritakan semuanya.
"Abang menyukai seseorang, sayang."
Mendengar hal itu, seketika kedua bola mata Nisha membesar dan menolehkan wajahnya kepada Ray.
"Dengar dulu sayang, ini sedikit rumit untuk kita. Nathan menyukai seseorang yang belum mas ketahui siapa, namun yang Felix sampaikan dan juga Revan sendiri yang memberikan bukti-bukti itu kepada mas. Jika, orang tersebut sebenarnya menyukai Revan. Orang tua dari wanita itu, rela melepaskan semua harta yang dimiliki hanya untuk mendapatkan Revan. Menurutmu bagaimana sayang?"
__ADS_1
Nisha begitu tampak kaget dengan apa yang diceritakan oleh Ray padanya, ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar langsung dari suaminya itu.
"Arkh! Sayang, kenapa dicubit?" Ray meringgis kesakitan, karena perutnya terkena tanda kasih sayang dari istrinya.
"Kamu sih mas, semua ini gara-gara kamu. Kenapa kamu memiliki gen yang begitu merepotkan? Akibatnya begini kan jadinya, dasar." Nisha membalik tubuhnya dan memunggungi Ray.
"Loh, kok aku yang salah?" Heran Ray yang mendapat tuduhan dari Nisha.
"Ya iyalah salah kamu mas, kenapa kamu punya wajah tampan seperti ini. Semuanya itu turun pada anak-anak kita mas, dan akhirnya itu juga yang membuat mereka dalam masalah."
Mendengar ucapan Nisha, bukannya marah tapi Ray malah menahan tawanya. Sungguh ucapan yang begitu sangat jujur dari istrinya, bagaimana anak-anak mereka tidak memiliki perasaan yang menarik kalau kedua orangtuanya saja sudah cantik dan tampan.
"Mas, apakah Revan tidak punya rasa apapun dengan wanita itu? Aku takut, nantinya malah akan semakin rumit."
"Kamu adalah orang yang tepat untuk menanyakan hal tersebut mom, anak-anak hanya bisa berkata jujur dan lemah lembut hanya kepadamu. Kesabaranku akan melampaui batasnya jika sudah berhadapan dengan mereka, terutama Revan. Temukan jawaban itu mom."
__ADS_1