Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
72.


__ADS_3

Hubungan Heru dan Jihan semakin erat, bahkan Heru sudah tidak mau menutupi perasaannya kepada wanita yang sebelumnya memiliki sifat sangat bar-bar itu.


"Kamu tidak pergi bekerja?" Jihan berkata saat Heru sedang duduk manis dengan secangkir kopinya hitam dipagi hari.


"Entahlah." Jawabnya dengan singkat sambil meneruskan membaca berbagai email yang masuk melalui ponselnya.


"Jawaban apa itu? Tidak biasanya kamu akan bersantai-santai seperti ini. Orang itu kalau mau sukses ya harus giat bekerja, kalau begini sih namanya makan gaji bu..."


Cup!


Suasana menjadi hening seketika, Jihan yang mendapatkan perlakuan secara tiba-tiba berubah pucat.


"Itu akan kamu dapatkan jika terus-terusan mengomel, dan satu lagi. Bisakah panggilan 'kamu' itu diganti menjadi lebih dekat?" Kini Heru berpindah tempat dan berdiri disamping Jihan.


Meraih tubuh wanita itu ke dalam pelukannya, mendaratkan kepalanya di bahu Jihan.


"Terima kasih sudah hadir dalam kehidupanku, hanya kamu satu-satunya wanita yang berhasil memikat hatiku." Heru memejamkan matanya saat ia mengucapkan apa yang dirinya rasakan.


Tak mampu untuk mengucapkan apapun, Jihan berusaha mendamaikan perasaannya. Walaupun dirinya masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, pertemuannya dengan Nisha sampai pada akhirnya ia bisa berada disisi Heru saat ini.


"Kamu tidak mau memberikan ucapan apapun untukku?" Heru menarik dirinya dan menatap wajah Jihan.

__ADS_1


"Apa yang harus aku jawab?" Kening Jihan berkerut dengan sangat banyak.


Cletak!


"Auw, kenapa suka sekali sih memukul kepala orang! Pukul tu kepala sendiri yang isinya mesum saja." Jihan mengelus keningnya yang sudah nampak memerah akibat dari ulah Heru padanya.


"Apa katamu, mesum? Huh! Biasanya kamu itu selalu cerewet dan menyebutkanku seperti batu es yang terlalu beku, tapi setelah sikapku itu mencair. Kau malah yang pura-pura tidak paham akan semuanya, susah emang punya kekasih yang otaknya rada-rada gimana." Heru menghela nafas panjangnya dan bertolak pinggang dihadapan Jihan.


"Kamu bicara tentang aku ya?" Jihan semakin membuat emosi Heru meningkat tajam.


Memutar kedua bola matanya dengan begitu malas, Heru kemudian mempunyai ide untuk membuat Jihan mengakhiri semua aktingnya pura-puranya. Mendekatkan dirinya sampai tidak mempunyai jarak sedikitpun diantara mereka berdua, ekpresi wajah Heru terlihat seperti orang yang sedang mabuk. Hal itu membuat Jihan bergerak mundur, dirinya merasa jika Heru sedang tidak baik-baik saja.


"Kenapa? Takut?" Semakin menekan jarak yang ada, Heru menyeringai begitu puasnya.


"Ya, aku memang sudah tidak waras. Dan itu disebabkan oleh wanita yang berada dihadapanku ini, benarkan?"


"Apa sih! Jangan ngadi-ngadi ya, aku akan laporin kamu sama polisi! Mundur sana, syuh syuh." Jihan semakin ketakutan karena ulah Heru.


"Lapor polisi? Silahkan saja." Sikap tengil Heru semakin menjadi-jadi.


Ketika wajah keduanya hanya berjarak beberapa centi saja, terdengar suara orang yang mereka segani.

__ADS_1


"Sah dulu, nanti baru kalian berdua bisa lebih dekat." Soraya tiba-tiba saja sudah berada dibelakang Heru.


"Nenek!" Keduanya tampak terkejut dengan kehadiran Soraya disana.


Denga menahan senyumannya, Soraya menarik tangan keduanya untuk ikut bersamanya dirinya. Kini mereka berada diruangan keluarga dirumah Heru, melirik keduanya yang memiliki wajah kebingungan.


"Tidak baik mempermainkan Jihan seperti itu, seorang pria sejati tidak akan tega menyakiti hati ataupun perasaan wanita yang ia cintai. Walaupun itu terkesan hanya bercandaan, tapi tidak menurut orang yang menerimanya."


"Jadi, kapan kalian akan meresmikannya? Nenek juga ingin rumah ini ramai dengan canda tawa cicit-cicit Nenek, dua dari Nisha dan Ray serta dari kalian. Heru, kapan itu nak?" Soraya menegaskan pada Heru untuk memutuskan waktu untuk segera meresmikan hubungannya bersama Jihan.


"Kalau aku, menunggu Jihan siap nek. Kapanpun itu, aku akan menunggunya."


Mendengar hal itu, telinga serta wajah Jihan semakin memerah. Isi kepalanya sudah tidak bisa ia pikirkan lagi, terlalu banyak jika harus ia jabarkan satu persatu.


"Jihan, bagaimana nak?" Soraya menyadarkan Jihan dari lamunannya.


Cukup lama Jihan terdiam untuk memilih kata-kata yang tepat dalam menjawab semua pertanyaan pada dirinya, tidak ingin tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.


"Eeemm, aku belum bisa menjawabnya nek. Untuk saat ini, aku hanya fokus untuk bekerja."Dengan sangat hati-hati Jihan mengucapkannya.


"Heru?" Soraya meminta pendapat pada Heru atas perkataan Jihan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa nek, aku akan tetap menunggu dirinya siap." Heru tersenyum kepada Jihan, ia juga tidak ingin terlalu memaksakan kehendak kepada Jihan.


Tidak berani menatap Heru secara langsung, Jihan menundukkan wajahnya dan hanya menatap jemari kakinya yang ia gerak-gerakkan untuk menghilangkan gugup yang ada. Soraya pun berharap jika keduanya nanti bisa bersatu,.


__ADS_2