
Acara berbelanja dipenuhi keriwehan diantara empat orang, Nisha menghubungi Heru dan Jihan untuk dapat menemaninya.
"Bayi kalian itu perempuan apa laki-laki Cha?" Jihan memperhatikan kedua pakaian bayi yang berbeda jenis di tangannya.
"Aku belum tahu, biar jadi kejutan saat mereka lahir nanti." Jawab Nisha yang juga sedang melihat beberapa pernak-pernik yang ada.
"Yah, susah itu pilihnya." Dengan muka cemberut, Jihan harus menghelas nafasnya.
Melihat sikap temannya itu, membuat Jihan tersenyum dengan lingkaran tangan Ray pada pinggangnya. Ray begitu sangat berhati-hati menemani istrinya yang dalam keadaan perut besar, berada ditengah keramaian orang-orang yang tidak mereka kenal. Beberapa penjaga tetap menemani mereka, namun mereka menggunakan pakaian biasa dna membaik bersama dikeramaian.
Pada akhirnya mereka memilih untuk membeli perlengkapan yang berwarna netral, bisa digunakan pada perempuan maupun laki-laki. Begitu juga pada perlengkapan yang lainnya, tidak terlalu banyak. Ray mengatakan jika nantinya mereka akan kebanjiran hadiah, jadi lebih baik tidak terlalu banyak membeli perlengkapan bayi.
"Kamu benar sekali mas, mereka juga nantinya akan cepat melalui masa bayinya. Kenapa kamu begitu yakin akan mendapatkan banyak hadiah?" Nisha
mengkerutkan dahinya sambil menatap wajah sang suami.
"Hahaha, nanti kamu tunggu saja sayang. Bahkan kamu bisa shock dengan apa yang mereka berikan." Ray tertawa mendengar Nisha mempertanyakan masalah hadiah nantinya.
Benar sekali apa yang dikatakan Ray, hanya saja Nisha belum mengetahui seperti apa teman-teman yang berada disekitar suaminya ini. Untuk pekerjaannya pada dunia bawah saja dirinya tidak terlalu mengetahui, juga kehidupan pribadinya yang sepenuhnya.
Melanjutkan acara berbelanjanya, hingga membutuhkan hampir lima jam lamanya mereka berlari dari toko satu ke toko lainnya. Barang-barang tersebut yang telah mereka beli akan dikirimkan oleh pihak toko langsung ke mansion, ada rasa kepuasaan tersendiri dalam diri Nisha. Karena ia bisa secara langsung melihat dan membeli perlengkapan yang akan digunakan oleh calon anak-anaknya nanti.
__ADS_1
"Mas, aku lapar." Rengek Nisha pada Ray.
"Makanya, terlalu asik dengan perlengkapan si bayi. Sampai-sampai mommy lupa untuk memberikan asupan untuk mereka, mau makan apa? Dimana Heru?" Dari toko kedua, Ray tidak melihat lagi wajah Heru dan juga Jihan.
"Biarkan saja mas, entar juga mereka akan menelfon jika sudah kebingungan." Nisha menarik lengan Ray mencari tempat makan yang ia inginkan.
Rumah makan bernuansa korea dipilih oleh Nisha, lidahnya menginginkan makanan yang beraroma khas negara tersebut. Ray memenuhi keinginan istrinya, ia merasa sangat bersalah kepada wanita yang sedang mengandung calon anak mereka itu. Selama pernikahan yang mereka jalani, ia belum bisa membawa Nisha untuk pergi menikmati masa pernikahannya. Berada terus-terusan di dalam mansion, membuatnya merasa jenuh namun tidak ia ungkapkan.
Ddrrtt...
"Hem."
"Kalian dimana? ..." Heru menghubungi Ray.
"Patahkan lehermu ke kanan." Ray melambaikan tangannya dan mengakhiri sambungan telfon yang ada.
"Ada apa mas?" Nisha menghentikan suapannya saat mendapati suaminya melambaikan tangan.
"Siapa lagi kalau bukan pasangan siput." Menyebut Heru dan Jihan sebagai pasangan yang sangat lamban dalam berbagai hal.
Hanya menganggukkan kepalanya dan melanjutkan acara makan yang tertunda, dengan begitu lahap Nisha menikmatinya.
__ADS_1
"Kalian benar-benar ya, dicariin dimana-mana dan nggak tahunya enak-enakan makan disini." Kicauan Heru tidak mendapatkan respon apapun dari Ray maupun Nisha.
"Cha, haus. Ni orang kayak robot yang nggak butuh minum dan makan." Kini Jihan langsung duduk disamping Nisha dan mengambil salah satu gelas yang sudah berisikan minuman sari buah segar.
Dalam hitungan detik, isi gelas tersebut kandas. Mau tidak mau, Heru ikut mendaratkan tubuhnya untuk bergabung bersama.
Acara makan pun kembali hikmat, mereka menikmati hidangan yang telah dipesan dan menghabiskannya, namun tiba-tiba Nisha merasakan dirinya ingin buang air kecil.
"Mas, aku kekamar mandi sebentar ya."
"Mas temenin."
Tidak ada penolakan dari Nisha, karena ia tidak ingin berdebat dengan Ray yang memang sangat menyebalkan jika dalam kondisi berdebat. Para wanita melirik Ray yang merangkul pinggang Nisha, namun semuanya itu tidak ia hiraukan.
"Sudah selesai?" Ray menyambut Nisha yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya mas, kamu banyak sekali penggemarnya ya. Wah, suamiku ini ternyata sangat dikagumi oleh banyak wanita." Goda Nisha pada Ray yang memang sedang menahan rasa kesalnya dengan banyaknya wanita membicarakan dirinya.
"Apa perlu mata mereka mas buat gantungan kunci!" Kalimat yang Ray ucapkan sangat tegas dan terkesan dingin.
Bukannya takut, Nisha malah semakin membuat Ray kesal.
__ADS_1
"Uluh uluh, daddynya anak-anak malah. Jangan marah sayang, walaupun kamu banyak penggemarnya. Tapi, hanya akulah yang jadi pemenangnya. Benarkan?" Memainkin matanya seperti akan menggoda, Nisha semakin terlihat menggemaskan.
Benar-benar sudah sangat menggemaskan, Ray tidak sanggup untuk menahannya lebih lama lagi.