
Didalam ruangan utama, Ray sangat tidak sabar untuk segera menikmati masakan yang dibawa oleh sang istri. Disaat Nisha membuka bekal yang ia bawa, dari aromanya saja sudah membuat Ray tergugah seleranya.
Hal tersebut terus berulang selama satu bulan lamanya, bahkan menu makanan yang Ray inginkan membuat Nisha merasa pusing dan kewalahan.
"Mas, kok selera makan kamu semakin hari semakin aneh-aneh." Gerutu Nisha yang kini sedang menyuapi sang suami.
"Tidak sayang, ini biasa saja. Kan tidak salah kalau seorang suami maunya masakan istri, lagian juga. Masakan di luar sana rasanya kurang nendang, kalau masakan kamu sudah dapat dipastikan pasti cocok sama selera mas. Itu asinannya sayang, pas banget rasanya." Entah sudah keberapa kalinya Ray meminta Nisha untuk membuatkan asinan buah dan juga sayur dalam sebulan ini.
Jika saja perut orang normal, makan asinan dalam satu hari itunsatu kali akan terasa sangat nikmat. Namun tidak bagi Ray, dalam satu hari dia bisa berkali-kali makan asinan dalam jumlah yang banyak.
"Terserah kamu saja mas." Nisha yang sudah tidak bisa menasihati suaminya lagi dalam hal makanan.
Seperti biasa, setelah menemani Ray makan. Nisha akan merebahkan dirinya di dalam kamar pribadi milik suaminya yang berada, melepaskan rasa lelah setelah berperang didapat untuk membuatkan makanan keinginan suaminya itu.
Tanpa terasa hari menunjukkan semakin senja, Nisha terbangun dari tidurnya dan mendengar sesuatu.
"Huek huek.."
...Suara apa itu, seperti suara seseorang yang sedang muntah. Tapi siapa ya?...
Nisha mencari asal dari suara tersebut, menajamkan pendengarannya dan mendapatkan suara itu dari kamar mandi.
"Mas Ray!" Nisha sangat kaget saat mendapati Ray yang sedang mengeluarkan isi perutnya.
Bahkan pria yang terkenal dingin dan kejam itu terkulai lemas didepan closet kamar mandi, Nisha membantu untuk memijat tengkuk leher suaminya itu agar dapat mengurangi rasa tidak enak pada tenggorokannya.
Membantu Ray untuk merebahkan diri di tempat tidur, melepas beberapa perlengkapan yang digunakan pada tubuhnya.
"Mas, masih mual?" Tanya Nisha yang sedang mengusap wajah Ray dengan kain kecil hangat.
"Emm." Ray masih menutup matanya, mencoba menetralkan rasa mual yang masih ia rasakan.
Mencari sesuatu yang dapat digunakan untuk mengurangi rasa mual, Nisha mencari keberadaan Meri.
"Mer, kamu punya sesuatu untuk mengurangi rasa mual tidak?"
__ADS_1
"Tidak ada nona, nona mual?"
"Tidak, tapi mas Ray yang habis muntah. Apa ya," Nisha mencoba berpikir sejenak, akan tetapi suara berat itu kembali bergema.
"Sayang! Sayang!" Suara Ray terdengar sangat keras.
Menghembuskan nafasnya dengan cepat, ingin rasanya Nisha berteriak dengan sangat keras saat ini.
"Iya mas, ada apa?" Nisha kembali menghampiri Ray.
"Jangan jauh-jauh sayang." Ray langsung melingkarkan tangannya dan memeluk Nisha yang baru saja duduk disini tempat tidur.
Merasakan semakin aneh saja, Nisha menggunakan ponselnya untuk berkomunikasi dengan Heru. Dan hasilnya, Heru datang dan masuk ke dalam ruang pribadi Ray.
Dengan keadaan Ray terlihat, membuat Heru mengkerutkan keningnya. Ada apa dengan keadaan manusia yang terkenal tak pernah sakit itu, namun kali ini sungguh memprihatinkan.
"Kak, bisa bawa mas Ray ke rumah sakit? Haykal sedang ada operasi, aku takut nanti semakin parah keadaannya."
"Sakit? Heh, sakit apanya. Tapi kalau dilihat wajahmu sungguh sangat pucat tuan, baiklah kalau begitu kita ke rumah sakit saja."
"Kalau mas masih keras kepala, lakukan semuanya sendiri tanpa bantuan orang lain! Sudah kak, lebih baik kita pulang saja. Orang ini benar-benar keras kepala dan tidak mau mementingkan keadaannya, yang dia tahu hanyalah marah, marah dan marah saja." Nisha menarik tangan Heru keluar dari kamar tersebut.
Melihat istrinya keluar begitu saja dalam keadaan kesal kepadanya, Ray beranjak untuk mengejarnya. Namun keberuntungan tidak sedang berpihak padanya, rasa mual itu kembali menyerangnya dan ia segera berlari lagi masuk ke dalam kamar mandi. Mengeluarkan apa yang saja yang berada didalam perutnya, walaupun itu hanya angin.
Mendengar suara Ray yang sedang muntah, membuat Nisha berlari kembali menemani Ray.
"Mas, jangan keras kepala lagi ya. Kalau mas sayang sama aku, ikuti apa yang aku katakan. Oke, kalo ini mas tidak boleh membantah dan menolak. Biar tahu gimana rasanya orang yang suka mas intimidasi, ayo."
Mau tidak mau, dengan keadaan yang sudah sangat lemas. Ray akhirnya menuruti semua perkataan Nisha, sedangkan Heru menahan tawa yang sudah sangat ingin pecah, melihat tuannya yang biasanya tidak terbantahkan dan dingin. Tapi tidak untuk kali ini, Ray benar-benar terlihat seperti anak kecil yang sedang manja kepada orangtuanya.
Tiba mereka di rumah sakit, drama kembali terjadi. Ray lagi-lagi menolak mengatakan kalau dirinya sedang sakit.
"Apa yang anda rasakan tuan?" Tanya dokter yang sedang menangani Ray.
"Tidak ada, hanya mereka yang terlalu khawatir." Ray dengan wajah dinginnya membantah untuk tidak mengatakan apa yang ia rasakan.
__ADS_1
"Tapi tuan, "
"Aku bilang tidak apa-apa, aku mau pulang!" Ray beranjak dari tempat pemeriksaan.
"Mas."
Brugh!
Tubuh besar dan kekar itu terhuyung dan jatuh ke lantai, tubuh begitu lemas dan tidak bertenaga lagi.
"Menyerahlah untuk kali ini Ray, kasihan Nisha. Dia begitu khawatir denganmu." Heru membantu Ray untuk kembali melakukan pemeriksaan dan membaringkan tubuhnya di atas brankar.
"A a ku tidak apa-apa, sayang."
"Aku mohon mas, untuk kali ini saja kamu menuruti apa yang akan lakukan." Dengan wajah yang begitu tegang, Nisha berusaha membujuk Ray yang masih keras kepala.
Pada akhirnya Ray menyerah, ia bersedia untuk diperiksa dengan tangan yang terus menggenggam tangan Nisha. Heru dan Meri hanya menjadi penonton setia disana, hingga selesai pemeriksaan.
"Bagaimana dok?" Tanya Nisha saat dokter telah selesai dengan tugasnya.
"Sepertinya anda harus melanjutkan pemeriksaan lagi tuan."
"Maksud dokter?" Nisha yang bingung dengan perkataan dokter tersebut kepadanya.
"Saya hanya dokter umum nona, dan tuan harus diperiksa pada dokter spesialis kandungan. Nanti akan saya rekomendasikan dokternya."
"Apa?! Dokter kandungan? Apa dokter tidak salah diagnosa? " Heru berteriak kaget mendengar dokter kandungan.
Dokter tersebut hanya tersenyum dan memberikan rujukan untuk segera menuju pemeriksaan selanjutnya, bahkan Ray sudah tidak bisa berkata-kata. Tubuhnya seakan tidak memiliki tenaga lagi, bahkan ia merasa tidak memiliki tulang juga.
Tiba-tiba seseorang yang mereka kenali berjalan menghampiri, masih dalam balutan pakaian biru lengkap dengan topi dan juga masker pada wajahnya.
"Wow, siapa ini? Sepertinya sudah tidak ada kesempatan untuk bernafas lagi, aku dengan sangat senang hati menjaga Nisha." Dengan menahan tawa, suara itu menjadi tersendat-sendat.
"Akan aku lenyapkan nyawamu, Haykal!!"
__ADS_1