
Saat sudah diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit, Ray semakin ketat untuk menjaga sang istri. Bahkan untuk ke kamar mandi saja ia akan ikut masuk ke dalam, namun hal itu tidak ada bantahan sedikitpun dari Nisha. Karena ia mengerti akan kekhawatiran suaminya, peristiwa yang lalu menjadikannya sebagai acuan untuk tidak mengulanginya lagi.
"Sayang, ini semuanya mau dibawa?" Tanya Ray yang sedang merapikan beberapa perlengkapan yang akan dibawa saat Nisha melahirkan.
"Tidak mas, hanya satu tas biru saja." Jawab Nisha yang melihat suaminya sedang kebingungan untuk memilih.
"Hanya yang biru? Apa itu cukup sayang, kenapa tidak bawa dua atau tiga." Ray merasa heran, hanya membawa satu tas yang tidak terlalu besar ukurannya.
Tersenyum dengan menggelengkan kepalanya, Nisha tidak menjawab pertanyaan Ray lagi. Karena ia malas untuk berdebat dengan suaminya itu, saat ini untuk berjalan pun Nisha sudah merasa sangat kesusahan. Bobot berat badannya sangat tidak mendukung dirinya untuk berjalan, dalam jarak yang pendek saja ia sudah membuatnya seperti tidak bisa bernafas dengan lega.
Sebelumnya Zahra sudah memberikan beberapa wejangan menjelang persalinan, karena Nisha memiliki riwayat yang sebelumnya. Dengan kondisi Nisha yang seperti ini, membuat Ray semakin memperpanjang masa kerja Felix dan Caca dan itu membuat keduanya semakin geram pada Ray.
__ADS_1
"Mas, kamu tidak ke perusahaan? Sudah lama loh, nanti perusahaan kamu sudah berganti nama." Nisha heran dengan sikap Ray seperti itu.
"Berganti nama? Itu tidak akan terjadi sayang, kalaupun itu terjadi. Mereka akan lenyap dari muka bumi ini, dan itu sudah dipastikan." Sangat tegas dalam berkata, Ray tidak akan melepaskan orang-orang yang berani mengusiknya.
"Terserah kamu sajalah mas." Nisha berjalan keluar dari kamarnya meninggalkan Ray yang masih sibuk untuk membawa perlengkapan sang anak.
Keluar dari kamarnya, Nisha mendengar kegaduhan yang cukup ramai. Betapa kagetnyania saat melihat siapa yang berada didalam kegaduhan tersebut, tidak ingin terlibat dalam suasana disana. Nisha memilih untuk berjalan menuju taman di belakang mansion. Ia sangat ingin melihat Wiley saat itu, tanpa siapapun yang mendampinginya.
Mendengar suara tuannya, Wiley berlari menghampiri Nisha. Ia bergerak memutar pada bagian kaki perempuan itu, meluapkan rasa gembiranya bertemu Nisha. Namun tiba-tiba saja hewan itu berhenti dan menatap pada satu arah dengan cukup tajam, membuat Nisha bingung dengan apa yang dilihat oleh Wiley. Seperti mengerang, Wiley meninggalkan Nisha.
"Argh! Lepaskan a***g sialan! Lepas!" Orang tersebut berteriak cukup kencang saat rahang kokoh itu menggigit lengannya.
__ADS_1
Vansh, orang yang menjadi sumber kegaduhan dan kini muncul dihadapan Nisha. Insting Wiley tidak akan pernah meleset, ia tahu bahaya akan mengancam tuannya.
"Kan Vansh!" Memegangi perutnya yang besar, Nisha bergerak mundur untuk menghindar dari Vansh.
Segerombolan pengawal yang sudah mengepung Vans, mereka kecolongan akan keberadaan orang tersebut. Alarm bahaya telah menyala, Ray baru menyadari jika sang istri tidak berada bersamanya. Dengan berlarian Ray keluar dari kamar dan menuju taman belakang yang sudah diberitahukan oleh orang-orangnya, matanya langsung tertuju pada tubuh Nisha yang berada disudut taman dengan Wiley yang masih tidak melepaskan gigitannya dari tangan Vansh.
"Sayang!" Ray meraih tubuh Nisha yang sudah sangat bergetar ke dalam pelukannya.
"Mas." Nisha langsung melingkarkan kedua tangannya memeluk Ray, wajahnya sangat begitu cemas.
"Tenanglah."
__ADS_1
Segera membawa Nisha untuk menjauh dari tempat tersebut, dengan kondisi seperti ini akan membuatnya menjadi tidak baik. Wiley mulai melonggarkan rahangnya, namun secara tiba-tiba Vansh kembali memberontak sehingga Wiley dan para anggota yang lainnya bergerak cepat mengamankan.