Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
29.


__ADS_3

Menjadi sepasang suami istri, membuat Ray mengalami perubahan dalam bersikap. Walaupun itu hanya pada saat sedang berhadapan dengan istrinya, selebihnya ia tetap menjadi Ray yang dingin. Dua bulan usia pernikahan mereka, namun Ray belum sama sekali menyentuh Nisha sedikitpun.


"Baby, aku akan ke negara seberang selama beberapa hari." Ray menggenakan pakaian jasnya yang biasa dibantu oleh Nisha.


"Memangnya ada apa disana?" Tanya Nisha yang mendengar jika Ray akan pergi jauh.


"Perusahaan disana ada sedikit kendala, sayang. Tidak apa-apakan jika aku tidak bersamamu dalam beberapa hari? Aku berjanji untuk segera pulang setelah permasalahan disana sudah teratasi." Membelai wajah sang istri yang selalu terlihat menggemaskan.


"Baiklah, apa kak Heru ikut juga?"


"Seperti biasa, dia akan tetap bersamamu. Aku bersama Bibby, Felix akan mengurusi perusahaan disini. Dan ingat, jangan pergi atau menerima tamu siapapun itu, terkecuali atas izinku."


"Iya, bawel sekali."


"Argh, jangan memancingku baby." Ray mendapatkan cubitan pada pinggangnya.


Melihat perubahan pada wajah sang suami, Nisha melangkah mundur dan siap untuk melarikan diri. Namun apa mau dikata, langkah itu tidak terlaksana. Ray sudah terlebih dahulu mengunci pergerakan Nisha.


"Mau kemana, hah. Kabur?" Menatap dengan tajam wajah wanita sang pemilik jiwanya.


"Ti tidak, ayo kita sarapan mas." Nisha mencoba untuk mengalihkan perhatian Ray.


Tubuh itu semakin tidak berjarak, Ray merapatkan tubuhnya pada Nisha.


"Ma mas." Nisha merasakan sesuatu yang mengeras pada bagian bawah Ray, itu membuat jantungnya semakin berdetak dengan begitu cepat.


"Ah baby, bolehkah aku meminta hakku?" Kedua mata Ray terpejam dan ia menikmati aroma dari tubuh Nisha.


Tangan kekar itu mulai tidak terkendali, mengabsen setiap inci bagian tubuh istrinya. Dan hal itu membuat Nisha juga merasakan sesuatu dorongan di dalam tubuhnya, ia pun dapat merasakan jika Ray sudah berusaha untuk menahan semua hasratnya selama beberapa bulan pernikahannya. Tidak ada yang salah jika ia meminta haknya, hanya saja Nisha masih begitu tidak percaya diri.


"Ta tapi mas, emm pufp..."


Belum selesai mulut itu berbicara, Ray sudah membungkam bibir Nisha dengan memberikan kecupan hangat. Menahan tengkuk wanitanya, Ray semakin tidak terkendali. Nisha pun akhirnya ikut larut dalam permainan Ray, ia juga tidak bisa menahan hak suaminya terlalu lama.

__ADS_1


Maafkan aku mas, sudah membuatmu menahannya selama ini. Betapa kuatnya kamu menahannya sampai aku benar-benar siap.


Terjadilah malam pertama (Pagi pertama tepatnya ya, hehehe) bagi mereka berdua, penyatuan diantara dua insan manusia yang berbeda jenis. Dalam ikatan cinta yang begitu kuat, mereka bisa melaluinya. Beristirahat sejenak setelah melewati Medan tempur yang begitu menggelora, Ray membersihkan dirinya dan berangkat menuju perusahaannya.


Membiarkan istrinya yang sedang terlelap dan memberitahukan anggotanya serta juga para asisten mansion untuk menjaganya.


"Tuan, ini ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani." Felix menyerahkan berkas tersebut kepada Ray.


"Hem, bagaimana keadaan disana?"Ray mulai membaca dan memberikan goresan tinta pada berkas tersebut.


"Untuk saat ini, pergerakan mereka masih aman tuan. Tapi, ada sesuatu yang mencurigakan dari suatu tempat. Anda bisa melihatnya." Felix menyerahkan sebuah rekaman kamera pengawas kepada Ray.


Rekaman itu mulai diputar, tidak ada ekspresi yang diperlihatkan oleh wajah datar dan dingin itu. Namun, salah satu alis matanya naik ke atas.


"Darimana kalian mendapatkannya?"


"Dari kamera pengawas daerah kota E tuan." Jelas Felix.


"Tetap awasi mereka, jangan sampai terlewatkan sedikitpun." Ray menyudahi pengamatannya dan kembali untuk menandatangani berkas sebelumnya.


Hari itu benar-benar membuat Ray harus bekerja keras, pertemuan dengan beberapa klien mereka yang tidak bisa diundur lagi. Menguras waktu dan tenaga Ray untuk menyelesaikannya, bahkan ponselnya pun tidak ia sentuh sedikitpun.


Semua pertemuan dan pekerjaan telah terselesaikan, kini Ray bersiap untuk menuju landasan udara dimana pesawat pribadinya sudah siap untuk mengudara.


"Tuan, tolong cek ponsel anda. Nona sudah beberapa kali menghubungi anda." Sebelumnya Felix telah dihubungi terlebih dahulu oleh Heru.


Mendengar nama pemilik dari jiwanya, Ray dengan cepat mengambil pknselnya dari dalam saku jas yang ia kenakan. Beberapa panggilan tak terjawab dan juga pesan belum terbaca, berasal dari satu nama.


"Hallo baby, maaf tidak menjawab panggilanmu. Ini baru saja akan menuju bandara, sedang apa?"


"Iya tidak apa-apa, hanya sedang menelfonmu mas. Jangan lupa jaga kesehatan dan istirahatmu, cepat kembali jika semuanya sudah terselesaikan." Nisha sebenarnya merasa sedikit khawatir dengan kepergian Ray, namun ia berusaha untuk menutupi semuanya itu.


"Istirahtlah sayang, tenagamu sudah habis terkuras tadi pagi. Terima kasih sayang." Ada kebahagian tersendiri dalam diri Ray akan kehadiran Nisha di dalam kehidupannya.

__ADS_1


"Ah, bisahkah tidak membahas hal itu mas. Membuatku malu saja, jangan lupa memberikan kabar agar aku tidak khawatir."


"Hahaha, bagaimana bisa malu baby. Semua sudah terekam sangat jelas di kepala ini, terima kasih baby." Ray terus menggoda Nisha.


"Dasar omes." Gerutu Nisha yang merasa kesal akan sikap Ray yang membuat dirinya malu.


"Iya iya sayang, maafkanlah suamimu ini. Sebentar lagi pesawatnya akan berangkat, aku akan mengabarimu nanti setelah tiba disana. Love you baby."


"Iya mas, hati-hati."


"Baby, Love you."


" Iya mas.


"Baby!" Ray mengulangi ucapannya, sebenarnya ia menginginkan jawaban yang serupa dari Nisha kepadanya.


"Apa mas? Ada yang ketinggalan?" Tanya Nisha dengan polosnya.


"Benar-benar ya, awas saja sepulang dari negara seberang. Maka kamu harus bersiap untuk hukumannya baby. Aku pastikan jika itu akan membuatmu menginginkannya kembali, bersiaplah. "


"Hukuman? Memangnya aku salah apa mas, kok mau dihukum. Kan hanya orang yang salah saja yang mendapatkan hukuman, mas ada-ada saja." Nisha benar-benar tidak mengetahui maksud yang Ray inginkan.


"NISHA!" Perkataan Ray sedikit meninggi.


Ya ampun suaranya, telingaku sampai sakit mendengarnya.


Tidak ingin mendapatkan sesuatu yang lebih buruk dari Ray, Nisha langsung saja memutuskan sambungan percakapan mereka. Wajah itu berubah menjadi merah merona, ia akhirnya mengetahui maksud Ray mengatakan hal tersebut dan menunggu balasan dari dirinya.


"Lama-lama istriku ini membuatku menjadi selalu ingin merindukan dan menatap wajahnya." Ray tersenyum dan memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jas miliknya.


"Ayo selesaikan tujuan utama kita, aku tidak suka waktuku terbuang sia-sia." Perintah Ray kepada seluruh anggotanya di negara seberang.


Tujuannya datang ke negara seberang bukanlah untuk tujuan perusahaan semata, mereka akan melakukan penyerangan kepada musuh besar mereka disana. Namun informasi baru didapatkan, jika musuhnya itu tidak berada disana. Ray tetap akan menghancurkan tempat mereka, dengan atau tanpa mendapatkan pimpinan dari kelompok tersebut.

__ADS_1


__ADS_2