
Berita mengenai penyusup tersebut sudah menyebar dengan sangat cepat, bahkan sampai pada sang penberi perintah.
"Tidak bisa dipungkiri, kau masih seperti dulu. Hah, sepertinya aku harus lebih keras berpikir untuk mencari cara menghancurkanmu Ray." Niki merasa sangat marah saat mengetahui usahanya kali ini gagal lagi.
Menatap orang kepercayaannya, Kenzo. Mereka juga tidak bisa untuk bertindak gegabah untuk segera memberikan perlawanan, walaupun mereka memiliki kekuatan yang tidak berbeda jauh dari Dark Kill. Tapi, keberuntungan selalu tidak ingin berpihak dengannya.
"Tuan, ada yang ingin bertemu." Seorang anggota menyampaikan kedatangan tamu.
"Siapa?" Niki merasa tidak punya janji dengan siapapun.
"Seorang laki-laki yang mengatakan dia bisa membantu anda."
Nampak sekali Niki menaikkan alis matanya, menandakan jika dirinya sangat penasaran dengan orang tersebut.
"Suruh dia masuk." Menyandarkan punggungnya pada kursi yang ia duduki, menaikan salah satu kakinya pada kaki lainnya.
Orang tersebut memasuki ruangan dimana Niki bersama Kenzo sedang berada, tidak ada pergerakan dari mereka berdua saat mendapati tamu mereka itu sudah berada dihadapannya.
"Siapa?" Tanya Niki dengan begitu dingin.
"Perkenalkan, aku Vansh. Aku bermaksud untuk bekerja sama denganmu tuan, aku bisa membantumu mendapatkan wanita milik Ray untuk dijadikan umpan." Vansh langsung mengatakan maksud dari kedatangannya menemui musuh dari seorang Ray.
"Vansh? Atas dasar apa kau ingin membantuku?" Kini Niki merasa tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Vansh padanya.
"Jika kau menang, berikan wanit itu padaku. Dan kau, bebas melakukan balas dendammu pada Ray."
Kening Niki semakin berkerut, bahkan Kenzo pun menghela nafasnya saat mendengar Vansh mengatakan menginginkan wanita tersebut tanpa embel-embel yang lainnya.
"Heh, ternyata kau ingin memiliki wanita itu rupanya. Akan aku pikirkan semuanya." Niki beranjak dari duduknya dan kemudian berjalan menghampiri Vansh.
Menepuk pundak kanannya Vansh dengan perlahan, namun cukup untuk bisa merasakan nyeri. Lalu ia pergi begitu saja tanpa memberikan penjelasan apapun, hal tersebut di ikuti oleh Kenzo yang berjalan dibelakang Niki.
"Huh, ternyata berbicara dengan mafia itu benar-benar menguras tenaga. Bahkan tanganku masih terasa bergetar, sebegitu besarnya kekuasaan mereka." Vansh segera keluar dari tempat tersebut dan menunggu kabar selanjutnya dari kerjasama yang ia tawarkan.
.
__ADS_1
.
Peristiwa yang hampir saja menyebabkan istrinya terluka, Ray lebih meningkatkan penjagaan disekitar mansion miliknya. Bahkan ia hampir saja tidak pernah beranjak sedetikpun dari sisi Nisha, ke kamar mandi saja harus ia temani. Begitu besarnya rasa trauma Ray akan kehilangan Nisha, benar-benar membuat hidupnya seperti tiada artinya.
"Mas, siapa dia?" Nisha melihat ada seorang wanita berpakaian serba hitam dan menggunakan sepatu khusus.
"Dia meri, akan menjadi pengawal pribadimu sayang." Ray menyuapkan sarapan milik Nisha, memberikan perhatian yang selama ini sudah banyak hilang bersama istrinya.
"Hah, kamu serius mas? " Nisha merasa kaget.
"Ya sayang, mas tidak mau kecolongan lagi seperti sebelum-sebelumnya. Ayo, habiskan dulu sarapannya." Ray kembali menyuapi Nisha.
"Stop mas, malu ih ada orang." Nisha merasa tidak enak jika kemesraan yang dilakukan oleh suaminya itu dilihat oleh orang lain.
"Kenapa harus malu, Meri." Ray berteriak dengan arti untuk Meri.
Teriakan itu merupakan perintah, Meri sudah mengerti akan arti dari teriakan tersebut. Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya, dan secepat itu pula Ray mencuri kesempatan dari istrinya.
"Mas!" Nisha melebarkan bola matanya saat Ray mencuri kesempatan untuk mencium pipinya.
Dalam keadaan masih dengan rasa kesalnya, Ray sudah kabur.
"Meri, duduk sini." Nisha mengajak Meri untuk duduk bersamanya.
"Terima kasih nona, saya disini saja." Meri berdiri di sisi Nisha, ia merasa tidak pantas untuk duduk berdampingan dengan tuannya.
"Huh, sepertinya kamu benar-benar keras kepala ya. Duduk saja Mer, aku ingin kita berbicara layaknya sebagai teman dan bukan pelayan dengan majikan. Ayo." Nisha benar-benar menarik tangan Meri dan membawanya duduk berdampingan dengan dirinya.
Mendapatkan dirinya ditarik oleh Nisha, Meri hilang keseimbangan dan berhasil mendarat dengan baik.
"Beneran kamu jadi pengawal aku?" Tanya Nisha dengan sangat penasaran.
"Benar nona, tuan memberikan perintah kepada saya untuk menjaga nona dimana saja terkecuali saat anda bersama dengan tuan secara pribadi."
"Huh, mas Ray benar-benar keterlaluan. bagaimana bisa dia mempekerjakan kamu seperti ini, berdiri terus akan membuat kakimu menjadi keram."
__ADS_1
"Tidak nona, ini sudah menjadi tugas saya. Saya sudah berjanji untuk mengabdikan diri untuk tuan Ray, dan dengan itu merupakan alasan untuk saya berada disini nona." Meri langsung berdiri dari duduknya dan memposisikan dirinya untuk kembali berdiri.
Melihat Meri sudah berdiri, Nisha hanya bisa mengehela nafasnya dengan cukup panjang.
...Tidak berbeda jauh dari keras kepalanya dengan mas Ray, huh. Sepertinya aku akan bekerja sama saja dengannya, jika tidak. Mas Ray akan semakin merasa khawatir dan tidak fokus dengan apa yang sedang terjadi....
"Bisa temani aku melihat Wiley?" Nisha merindukan teman barunya itu, baru saja bertemu namun mereka mengalami peristiwa yang cukup hebat.
"Baik nona." Meri berjalan dari arah belakang tuannya, mereka menuju tempat dimana Wiley berada.
Saat mereka sudah tiba disana, jantung Nisha seakan berhenti sejenak. Sudut mata itu tidak terasa sudah meneteskan air mata, dengan perlahan ia berjalan mendekati teman barunya itu.
"Bagaimana keadaanmu, Wiley? Jangan terlalu banyak bergerak, cepatlah pulih." Nisha mengelus puncak kepala hewan itu dengan perasaan yang campur aduk.
Merelakan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya, baru pertama kali bertemu saja sudah membuat mereka menjadi seperti ini.
Guk!
Suara itu masih terdengar sangat lemah, Nisha memberikan semangat kepada Wiley agar bisa segera pulih.
"Nona, sudah saatnya anda kembali ke dalam." Meri memecahkan kesunyian diantara mereka.
"Ah iya, aku akan merasa bersalah jika kamu tidak segera pulih Wiley. Buktikan jika kamu adalah yang terbaik untuk menjadi temanku, bahkan sebagai pelindungku. Beristirahatlah. " Nisha beranjak dari tempat tersebut, karena Meri sudah memberikan peringatannya berulang kali.
Bukannya Meri ingin menghalangi tuannya itu untuk bersama Wiley, namun dibalik itu semua ada dalangnya. Ray yang menghubungi ponsel istrinya itu berulang kali tidak ada jawaban, lalu ia mengecek CCTV yang ada dan mendapatkan istrinya itu sedang berada disana. Melalui Meri, ia meminta agar istrinya segera dibawa kembali masuk ke dalam mansion. Bukan karena cemburu atau lainnya, Ray lebih mengutamakan keselamatan dari wanita yang sudah memiliki seluruh jiwanya itu.
"Mas Ray menelfonmu, Mer?" Nisha yang sedang berjalan menuju kamarnya, merasakan jika suaminya itu yang sudah mengingatkan Meri.
"Benar nona, anda sudah mengetahui maksud dan alasannya. Silahkan untuk beristirahat nona." Meri menundukkan tubuhnya dan menutup pintu kamar utama.
Sedangkan Nisha, ia segera melihat ponselnya yang berada di atas nakas. Benar saja, Ray menghubunginya.
"Maaf sudah membuatmu khawatir mas." Nisha menghubungi Ray.
"Tidak apa-apa sayang, sekarang beristirahatlah. Katakan pada Meri jika kamu menginginkan sesuatu. "
__ADS_1
"Baik mas."