Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
51.


__ADS_3

"Aaa ti tidak tuan, maksudku. Bolehkah aku mencari kerja saja disini, walaupun aku tidak tahu ini dimana. Jika aku kembali kesana, yang ada wanita kejam itu akan kembali menghukumku. Hem, anggap saja aku berhutang padamu tuan dan itu semua akan aku kembalikan saat aku mendapatkan pekerjaan. Bisakah tuan? bisa ya." Dengan wajah memelasnya, Jihan berusaha membujuk Heru.


Suasana menjadi tegang untuk sementara, Soraya hanya bisa menyaksikan hal tersebut tanpa harus ikut campur di dalamnya. Dalam diamnya, Heru sedang mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh Jihan. Ada benarnya jika dia tidak berada di tempat tersebut, itu akan menambah buruk keadaan. Apalagi jika pemimpinnya adalah Queen, maka akan semakin banyak masalah yang ditimbulkannya.


"Baiklah, apa keahlian yang kamu punya? Aku akan mencarikan pekerjaan untukmu." Menyelesaikan sarapannya, Heru menatap Jihan.


"Ya sebenarnya aku tidak mempunyai kemampuan khusus tuan, bekerja di pabrik juga karena mereka membutuhkan banyak tenaga untuk dipergunakan sebagai budak." Jawab Jihan dengan sangat cepat dan terlihat begitu polos.


Menopang dagu dan menimbang apa yang sudah ia dengar, Heru masih belum menemukan jalan keluarnya untuk masalah pekerjaan.


"Bagaimana kalau Jihan bekerja disini saja, menemani nenek untuk merawat rumahmu nak. Lagian juga kalian jarang sekali pulang, nenek menjadi sedikit kesepian." Soraya yang dari tadi hanya menyaksikan keduanya saling memberi penjelasan, dan kali ini ia juga ikut memberikan usulan.


Tek!


"Nenek sangat cerdas, oke kalau begitu. Kamu akan bekerja disini mulai saat ini, tugasnya akan kamu dapatkan dari nenek. Tapi, bagaimana dengan masalah pekerjaan kalian disana, apa ada penandatanganan kontrak atau semacamnya?"


"Tidak ada tuan, kami disana bekerja tanpa memberikan ataupun menandatangani berkas apapun. Sistemnya disana, siapa yang butuh. Ya namanya rakyat kecil, mau tidak mau untuk membuat dapur berasap. Tapi, gajinya juga tergolong cukup lumayan." Jihan begitu antusias menceritakan hal tersebut kepada Heru dan Soraya.


" Heh, bagaimana bisa mereka membuat aturan seperti itu. Berapa gaji yang mereka berikan?" Heru tampak curiga dengan hal tersebut.


"Ya bisalah tuan, namanya juga orang desa dan awam pengetahuan. Yang kami dapatkan perbulannya itu satu juta delapan ratus dan ditambah uang lembur."Wajah Jihan begitu bahagia saat menceritakan besaran gaji yang ia terima.


"Hah?! Kamu bilang dengan jumlah segitu, kalian sangat bahagia?! Itu namanya pemerasan, ya sudahlah tidak perlu dibahas lagi. Dan kamu bisa bekerja disini, nanti tanyakan saja selebihnya pada nenek." Menyeruput teh hangat yang terasa nikmat bagi Heru.


"Benar nih tuan?! Ah terima kasih banyak tuan, terima kasih banyak!" Tanpa disadari, Jihan memeluk Heru yang sedang berdiri.

__ADS_1


Deg!


Deg!


Mendadak tubuh Heru menjadi kaku, entah perasaan apa yang kini ia rasakan pada tubuhnya. Mendapati Heru yang kaku, Jihan menyadari kesalahannya dan secepat mungkin menarik dirinya untuk menjauh.


"E e a a, eh.." Kalimat Jihan terbata-bata bahkan tidak membentuk satu kalimat pun.


Sedangkan Soraya mengeluarkan senyuman yang sangat lepas saat melihat cucunya itu menjadi aneh, namun ia masih tetap diam tidak mau ikut ambil adil disana.


"Her, apa kamu tidak telat nak?" Soraya memecah kesunyian dan juga kecanggungan yang terjadi.


"Emm, aku berangkat nek." Haru berlalu begitu saja, dengan wajah datar dan dinginnya meninggalkan kedua wanita yang sedang menyaksikannya saat itu.


Langkah kaki itu semakin cepat dan memasuki mobilnya.


Pintu mobil tertutup dengan cukup kasar, dalam persekian detik Heru terdiam menutup kedua matanya. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, menenangkan irama jantungnya yang sedang berlomba.


...Apa ini? Perasaan apa ini, aish. Apa yang menarik dari wanita itu, suaranya saja sudah membuat telingaku sakit. Ah, berhentilah berdetak seperti ini....


Menepuk-nepuk dada kirinya yang masih belum normal dalam berdetak, merutuki dirinya yang terlihat begitu aneh. Saat semuanya telah tenang, ia melajukan mobilnya menuju perusahaan.


Meninggalkan kedua wanita tadi, Soraya memperhatikan Jihan yang masih memikirkan peristiwa yang baru sajamia alami.


"Tidak perlu dipikirkan, hal itu lumrah terjadi disaat orang mendapatkan sesuatu yang membuatnya bahagia. Ayo, kita lanjutkan sarapannya nak." Soraya membujuk Jihan agar tidak terlalu memikirkan kejadian tersebut.

__ADS_1


.


.


.


Keadaan pabrik dimana tempat Nisha dan Jihan bekerja dahulu, kini terjadi kekacauan.


"Cepat kalian telusuri penyebabnya, jangan sampai semuanya ini terendus oleh pihak luar." Queen yang begitu panik disaat terjadi kekacauan.


"Baik bos." Seorang pria yang menjadi tangan kedua saat Queen tidak ada disana, ia bernama Helmi.


Bergerak cepat mencari sumber penyebab kekacauan yang ada, dimana sebelumnya keadaan pabrik yang baik-baik saja. Dikagetkan dengan adanya pemberitaan mengenai produksi dari pabrik mereka yang diketahui oleh pihak yang berwenang, semuanya menjadi kacau. Mereka bergerak cepat untuk menutupi berita tersebut, agar tidak menjadi masalah.


Yang selama ini diketahui oleh para penduduk desa atau kampung tersebut, pabrik itu hanyalah mengolah biji-bijian dan beberapa jenis tumbuhan lainnya untuk dijadikan sebuah rasakan dan serbuk. Tanpa mereka ketahui lebih jauh, hal tersebut merupakan produk ilegal dan berbahaya untuk manusia.


Begitu tenangnya, Queen keluar menemui pihak aparat keamanan yang datang dengan tujuan menggeledah isi pabrik yang ia miliki.


"Permisi nona, kami membawa surat untuk anda. Dan ini surat tugas memeriksa seluruh aktivitas disini, mohon kerjasamanya." Aparat negara berpakaian cokelat itu berwajah dingin dan tidak bisa ditebak.


"Atas apa, anda datang kemari tuan? Bukankah pabrik milikku ini mempunyai surat resmi dan izin dari kalian juga, bagaimana bisa kalian tiba-tiba ingin menggeledah saat ini? Pemberitahuan pun tidak ada sebelumnya, saya tidak terima dan tidak mengizinkan kalian untuk masuk!" Queen yang begitu emosi saat mendapatkan surat penggeledahan dari pihak yang berwajib.


"Kami hanya menjalankan perintah dari atasan kami, jangan mencoba untuk menghalanginya nona." Tegas petugas tersebut kepada Queen yang masih berusaha mencegah untuk masuk ke dalam pabriknya.


Seakan dunianya begitu sempit, Queen menghubungi seseorang melalui ponselnya. Namun tidak ada jawaban yang ia dapatkan, yang ada nomor orang tersebut tidak bisa dihubungi. Semakin lama, para petugas tersebut mendapat dukungan dari masyarakat sekitar dan juga karyawan pabrik itu sendiri, dan itu membuat Queen melebarkan kedua bola matanya.

__ADS_1


"Hancurkan saja pak pabriknnya, kami sangat merasa terganggu selama ini. Karena wanita ini sangat berkuasa dan bisa menghukum kami semuanya, membuat takut seluruh penduduk. Yang secara mau tidak mau harus menuruti semua perintahnya, namun kali ini kami sangat keberatan dengan adanya pabrik ini di kampung kami. Banyak penduduk yang menjadi korban kebiadaban wanita ini!" Teriakan itu berasal dari salah satu warga yang dengan begitu kerasnya berteriak.


"Benar! Hancurkan saja pabriknya, bila perlu sekalian saja sama dengan wanita penyihir ini! Usia mereka dari sini! Usia mereka!" Teriakan semakin tidak terkendali, warga pun semakin banyak berdatangan dan semua karyawan pabrik berorasi disana.


__ADS_2