
Dor!
Dor!
Aksi serang menyerang terjadi, baku tembak pun tidak dapat dihindari. Ray menghadapi beberapa orang yang sedang melakukan aksinya untuk memasang sebuah perangkap untuk dirinya.
" Apa yang kalian lakukan?!" Teriakan Ray membuat orang tersebut kaget.
Bukannya takut ataupun berusaha untuk kabur, namun beberapa dari orang-orang tersebut dengan tidak adanya rasa takut sedikitpun berani menghadapi Ray.
Bugh!
Bugh!
"Jawab, apa yang kalian lakukan hah?! Berani-beraninya kalian masuk ke dalam wilayahku!" Ray langsung menyerang beberapa orang tersebut yang sudah membuat dirinya begitu emosi.
Pertarungan terus terjadi, sebagian dari mereka masih meneruskan membuat sebuah perangkap yang justru terlihat sebagai alat eksekusi. Bagi Ray, bertarung hanyalah olahraga kecil yang ia lakukan untuk mengeluarkan keringat yang ada. Tersisa satu orang yang kini berada dalam genggaman tangan Ray, dengan sangat erat tangan kekar itu masih melingkar pada lehernya.
"Siapa yang menyuruh kalian, hah !? Katakan!"
"Ugh ugh." Orang tersebut berusaha menggapai lengan Ray yang menjepit lehernya, dimana itu membuat orang tersebut kesulitan untuk bernafas.
"Katakan atau lenyap ditanganku!" Sorot mata Ray menatap dan memerah.
"Ti tidak akan." Jawaban yang sungguh semakin membuat Ray tak terkendali.
Krak!
Suara patahan tulang terdengar begitu keras, Ray sedikit menggerakkan tangannya untuk memutar kepala yang berada didalam lingkaran lengannya. Seketika itu juga, orang tersebut sudah tidak bernyawa. Ray meneruskan untuk mengejar yang lainnya untuk menghentikan pergerakan dan juga menangkap pimpinan mereka.
Bibby dan lainnya juga menerobos pertahanan dari musuhnya, banyak dari anggota mereka sudah menakhlukan para lawannya. Bahkan persenjataan mereka segera di amankan untuk mencegah kerusakan dan juga penggunaan yang tidak sepantasnya digunakan, sedangkan di negara seberang. Situasi sudah mulai kondusif, keadaan disana tidak separah dengan situasi pada markas pusat. Terjadi peralihan perhatian dari pihak musuh, yang berhasil mengecoh mereka.
"Tuan, awas!" Suara teriakan Felix membuat Ray yang sedang menunduk seakan tidak melihat sekitarnya.
Namun mereka tidak mengetahui siapa Ray yang sebenarnya, orang yang diteriaki oleh Felix mencoba menyerangnya menggunakan senjata tajam. Disaat senjata itu akan menyentuh kulit korbannya, namun Ray tidak merasakan apapun.
__ADS_1
Jleb!!
"Arkh!" Orang tersebut yang berteriak.
"Berani-beraninya kalian mengusikku! Akan aku lenyapkan siapa saja yang sudah membuatku marah! Sialan!" Ray menarik senjata yang tertancap pada tubuh pria itu, lalu ia menggerakkan tangannya dengan cepat.
Crash!
Crash!
Pria itu sudah tak bernyawa, dengan beberapa bagian tubuh yang terpisah dari tubuh utamanya. Tanpa mereka sadari, seorang wanita dalam keadaan kedua tangan dan kakinya terikat tali. Serta mulutnya yang tertutup plester tebal, membuat dirinya hanya bisa menyaksikan kejadian demi kejadian hanya dengan kedua matanya.
Prok, prok, prok.
Ray, Felix serta anggota mereka yang lainnya mengalihkan perhatiannya kepada suara tepukan tangan yang bergema disana.
"Hebat sekali, wah aku sangat kagum padamu Ray Tamoez. " Seorang pria yang berdiri berdampingan dengan wanita yang tertawan tadi, namun pria itu menggunakan penutup wajah sehingga tidak bisa melihat bentuk wajah aslinya.
"Sayang!"
Perempuan yang dimaksud adalah Nisha, ia yang sebelumnya telah dijemput oleh orang yang mengaku sebagai orang suruhan Ray. Yang ternyata mereka ada orang dari kelompok musuh, mengetahui kelemahan seorang Ray melalui wanitanya.
Dalam keadaan berada di atas sebuah kursi, Nisha hanya bisa menangis melihat sisi lain dari suaminya yang baru ia ketahui. Memang Nisha sudah mengetahui jika Ray juga seorang mafia, akan tetapi ia baru saja melihat aslinya dari dunia bawah yang begitu kejam.
"Sa sayang." Ray perlahan berjalan untuk menghampiri istrinya, namun pergerakannya itu dengan cepat mendapatkan tarikan dari Felix.
"Tuan, tetap fokus. Itu akan membuat nona semakin takut dan membahayakan diri anda." Felix menyadarkan Ray yang begitu khawatir dengan keadaan Nisha saat itu.
Seorang Ray berubah seperti orang tidak berdaya saat mendapati istrinya dalam keadaan tidak baik-baik saja, ia belum bisa menggunakan emosinya yang begitu terlalu melow saat berhadapan dengan Nisha.
"Hahaha, akhirnya aku mengetahui kelemahanmu Ray. Bahkan jika aku mau, aku bisa menggunakan wanita ini untuk mendapatkan nyawamu!" Pria tersebut merupakan pimpinan dari kelompok 'Black' yang selama ini Ray cari.
"Jangan! Jangan coba-coba kau menyentuh ataupun menyakitinya!"
"Hahaha, dia berada dibawah kekuasaanku. Sepertinya dia sedang mengandung, ah. Akan menjadi sebuah momen yang sangat baik, jika aku bisa membuatnya lenyap sebelum melihat dunia. Bagaimana Ray, apakah kamu menyetujuinya?" Niki Maxxam, pemimpin dari Black yang selalu menjadi bayangan Ray dalam dunia bawah.
__ADS_1
"Jangan menyakiti mereka, kau hanya mempunyai urusan denganku! Sayang, jangan takut. Aku akan melepaskanmu, jangan menangis." Ray menatap Nisha yang masih menangis dan itu membuat hatinya begitu sakit.
"Kau benar-benar mencintainya? Tidak aku sangka selama ini, seorang Ray yang merupakan leader terkejam dan juga begitu dingin. Menjadi lemah hanya karena seorang wanita yang kini sudah menjadi istrinya. Hahaha."
Brakh!
Kursi yang Nisha gunakan terjatuh dan membuat dirinya terpental membentur dinding, ingin sekali ia berteriak sekeras mungkin. Namun apa daya, mulutnya masih tertutup rapih oleh plester yang ada.
"Tidak!!" Ray berteriak dan berlari menghampiri Nisha.
Bugh!
Bugh!
Tubuh Ray mendapat hantaman keras dari pukulan senjata yang digunakan oleh Niki, hal itu memang sengaja dirancang olehnya untuk memancing seorang Ray untuk ia habisi.
Dari sisi lain, Nisha meringis dengan rasa sakit yang ia rasakan setelah membentur dinding. Lama kelamaan, ia merasakan sakit yang lain dari perutnya. Niki menarik tubuh Nisha dengan begitu kasar, Ray kembali menyerangnya dengan bermaksud untuk melindungi Nisha. Namun siapa disangka, Niki mengeluarkan sesuatu dari balik jas hitam yang ia kenakan.
Dor!
Dor!
"Tuan!" Felix kaget saat tubuh Ray jatuh perlahan berlutut tepat dihadapan musuhnya.
Dua tembakan mengenai bahu dan lengan Ray, dan itu membuat Niki tersenyum dengan penuh kelicikan.
"Hahaha, aku suka ini." Niki kembali memberikan sentuhan kasar pada Nisha, membenturkan senjata yang ia gunakan pada kepalanya sehingga keningnya mengeluarkan darah.
"Jangan sakiti istriku!" Ray bangkit dengan kemarahan yang begitu besar, Felix be yang diam-diam berbalik mengambil waktu lengah seorang Niki untuk kabur dan mengatur siasat dalam menyelamatkan Ray serta Nisha.
Keduanya saling melakukan serangan, walaupun dalam keadaan tertembak. Ray masih cukup kuat untuk melawan Niki, tanpa menggunakan senjata. Ray menghalau setiap serangan yang diberikan padanya, begitu pula pada Niki yang sudah sangat memahami karakter dari seorang Ray. Tepat saat Niki akan menyerang, Ray mendapatkan sedikit celah kelengahan dari lawannya. Dan itu tidak ia sia-siakan.
Bugh! Crash! Crash!
"Argh!" Erangan datang keluar dari mulut Niki, mendapatkan pukulan serta serangan senjata tajam miliknya yang telah disebutkan oleh Ray.
__ADS_1