A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Pasien sekarat


__ADS_3

Setelah berjalan cukup jauh dengan kondisi tubuh yang penuh luka, sambil membawa korban yang hampir tak sadarkan diri, Joker akhirnya tiba di sebuah kota kecil di jalur tersebut, dan segera mencari sebuah klinik.


Saat itu, hari sudah gelap, dan klinik sudah tutup. Namun, dia terus mencoba menggedor pintu agar pemiliknya keluar.


Setelah dokter jaga di sana keluar, dia melihat orang yang berada di atas tandu seperti sedang meregang nyawa. Dia pun enggan menolong karena akan berbahaya jika sampai korba  meninggal di tempatnya.


Joker bahkan sampai harus menodongkan pistol ke depan dokter di klinik tersebut, agar dia mau mengobati sang bos.


Akhirnya, dibawah todongan pistol, dokter tersebut mau tak mau memberikan pertolongan pertama untuk sang Emperor.


“Aku hanya bisa memberinya suntikan untuk meredakan sakit, dan mencoba menjahit luka luarnya. Orang ini kemungkinan mengalami pendarahan dalam. Sebaiknya kau segera panggil bantuan dari rumah sakit terdekat, agar dia bisa selamat,” seru dokter.


“Lakukan saja sebaik yang kau bisa. Kalau sampai dia mati, kau juga akan mati bersamanya,” ancam Joker.


Dia melakukan hal itu demi agar sang Emperor bisa bertahan sampai bantuan dari Lucifer datang.


Mengetahui pasien yang diterimanya adalah orang berbahaya, dokter itu pun hanya bisa pasrah dan mencoba sebisanya untuk membuat pasien bertahan.


Beberapa jam kemudian, pasukan dari markas utama pun berdatangan dan langsung mengevakuasi sang Emperor, lalu membawanya ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Dia pun memastikan agar keberadaan sang Emperor di tempat tersebut tidak diketahui oleh orang luar, baik itu King mereka sekalipun.


Dia lalu meminta anak buahnya untuk mencari keberadaan Devonshire. Sampai saat operasi selesai, sang Emperor yang baru saja sadar, memerintahkan Joker untuk segera membawa putra sulungnya itu untuk menemuinya.


Joker pun langsung mengerjakan tugas tersebut, meski kondisi tubuh masih belum pulih benar.


Dia mendapat kabar bahwa saat ini putra Emperor tengah berada bersama anak-anak yang selama ini selalu berada di sekitarnya.


Mereka tak lain adalah Vermont, Alexa, Martin, Marco dan juga beberapa anak muda yang berlatih di bawah pasukan Joker.


Sang tangan kanan Emperor itu pun lalu mengabarkan tentang peristiwa yang dialami ayahnya kepada Devonshire.


Di rumah sakit, nampak wajah ayahnya begitu pucat dan terlihat lemah. Sosok kuat dan dominan yang selama ini dikenalnya, seolah menghilang dalam sekejap dari diri pria paruh baya tersebut.


“Pimpin Lucifer dan jaga lah adikmu. Bunuh semua penghianat yang sudah berani macam-macam dengan kita,” seru sang ayah.


“Aku tak mau. Bukankah Ayah lebih menyukai Jordan dari pada aku? Mintalah padanya untuk menjadi Emperor yang baru,” tolak Devonshire.


“Devon, kau itu sudah bukan anak kecil lagi. Apa kau merasa pantas untuk iri dengan adik kecilmu itu, hem? Ayah menyayanginya karena dia lebih membutuhkan itu dari pada kau."

__ADS_1


"Anak itu benar-benar malang. Dia sama sekali tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, bahkan ASI pun dia tak pernah tau seperti apa rasanya. Ayah selalu menganggap mu sebagai penerus ayah untuk memimpin kelompok kita, dan melindungi adikmu yang jenius itu."


"Bekerja samalah. Ayah yakin, suatu saat dia akan berguna bagimu dengan segala talentanya di bidang teknologi,” ucap sang ayah panjang lebar.


“Benar, Tuan muda. Selama ini, ayah Anda sangat berharap kepada Anda. Beliau sama sayangnya antara Anda dan Tuan muda kecil. Jaga lah dia, karena adik Anda adalah seorang jenius. Bahkan, ada satu sistem ajaib yang berhasil dia ciptakan,” timpal Joker.


“Apa untungnya sistem itu bagiku?” tanya Devonshire.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2