A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Pulang


__ADS_3

Beberapa hari sejak pengadilan berakhir, Ardiaz dan Evangeline bersiap untuk kembali ke Kota Wisteria.


Mereka bahkan mengurus kepindahan study Evangeline dari Universitas Kota Orchid ke Wisteria.


Mereka ingin memulai hidup baru disana bersama keluarga mereka yang telah lama mereka tinggalkan.


Aaron yang mendengar kabar tentang Ardiaz dari sang tuan pun, sudah beberapa kali melakukan panggilan vidio kepada adiknya.


Pria yang kini telah menjadi seorang ayah itu terlihat menangis melihat adiknya yang ternyata masih hidup dan muncul di depannya, meski secara virtual.


Morita baru saja melahirkan seorang putri kecil, buah cintanya dengan kakak Ardiaz.


Mereka bahkan berencana melangsungkan pernikahan setelah Ardiaz dan Evangeline kembali ke Wisteria.


Saat ini, Ardiaz, Mac duff, Jordan dan Alexa tengah berkumpul di kastil Joker, yang berada di jalur pegunungan selatan.


Sedangkan Evangeline, wanita itu tengah bersama Joy, sahabatnya yang kini sudah pulih dari luka tembak, yang sempat dideritanya saat kejadian penculikan terjadi.


Kedua sahabat itu merindukan waktu bersama, meski hanya sekedar bercerita tak tentu arah hingga berakhir pada sebuah drama yang mereka tonton bersama. Terlebih untuk saat ini, karena Evangeline yang akan segera pergi dari kota tersebut.


Di kastil Joker, kelima orang itu tengah minum wine bersama, sambil membicarakan sesuatu sebelum Ardiaz pergi.


“Ku dengar, Dokter Andara sudah pergi sehari sebelum ayahnya mendapat vonis,” ucap Joker.


“Anak yang malang,” sahut Alexa.


Wanita itu nampak tak acuh dengan nasib dokter muda tersebut. Dia menyesap red wine-nya dengan gaya elegan, sembari menyangga tangannya dengan satu lengan, sambil menatap ke arah luar melalui jendela.


Sedangkan baik Ardiaz, Jordan, dan Mac duff nampak diam dalam pikiran masing-masing.


Merasakan suasana canggung itu, Joker pun mencoba kembali membuka topik yang berbeda.


“Apa kalian sudah mengemas semuanya?” tanya Joker lagi.


“Yah... Kami akan berangkat besok. Sebagian besar barang-barang, telah dikirim ke sana minggu lalu,” jawab Ardiaz.


“Apa kau yakin tidak akan menerima tawaran dari kakakku?” tanya Jordan.


“Sampaikan terimakasihku pada kakakku. Tapi, aku harus kembali dan melanjutkan apa yang sudah ayah dan ibuku tinggalkan untuk kami,” ucap Ardiaz.

__ADS_1


“Baiklah. Akan ku sampaikan pesanmu,” sahut Jordan.


“Apa kau akan menetap di sini?” tanya Ardiaz pada Mac duff yang duduk di hadapannya.


“Dimana lagi aku harus berada? Bukankah sejak awal, aku hanya kesana kemari mengikuti kalian? Sekarang, aku sudah menemukan keluarga dan temanku di sini. Jadi, aku akan memilih untuk tetap bersama mereka. Mungkin sesekali kami akan mengunjungi mu dan Eva di sana,” jawab Mac duff.


“Kami pasti akan dengan senang hati menyambut kalian. Datanglah kapan saja,” sahut Ardiaz.


Malam ini seperti sebuah pesta perpisahan bagi ketiga teman seperjuangan itu.


Jordan, Mac duff dan Ardiaz telah lama bersama. Saat kepergain Malcolm yang entah kemana pun, dalam hati mereka sebenarnya sangat merasa kehilangan.


Namun, itu semua sudah diputuskan dan mungki memang itu yang terbaik untuk semua orang, terlebih Malcolm sendiri.


Begitu pun jalan yang saat ini dipilih oleh Ardiaz, untuk kembali ke tempat asalnya di Wisteria bersama sang istri.


...❄❄❄❄❄...


Beberapa bulan berlalu, dan kini Ardiaz telah tinggal di rumah barunya, hadiah dari sang mertua yang membuatkan sebuah rumah untuk tempat tinggal Ardiaz dan Evangeline.


Sebuah rumah dominan putih, dengan mengadaptasi konsep hunian semi alami, dimana banyak sekali tanaman hijau, terutama bunga-bunga kecil kesukaan Evangeline yang tumbuh indah di taman depan, samping dan belakang.


Rumah dengan dua lantai tersebut memiliki segala fasilitas mewah di dalamnya. Terdapat tiga kamar yang semuanya berada di lantai atas, serta satu ruang belajar yang nantinya akan menjadi tempat Ardiaz bekerja saat harus lembur mengurus perusahaan sang ayah, yang selama ini diambil alih oleh Hemachandra, demi mengamankan perusahaan tersebut dari kebangkrutan.


Saat ini, Evangeline terlihat tengah memetik beberapa bunga liar yang tumbuh indah di tamannya, antara lain ada bunga krisan, dandelion, lavender, dan sebagainya.


Dia nampak kembali ke pribadinya yang dulu, cerah dan ceria. Istri Ardiaz itu terlihat mengenakan sebuah gaun putih selutut berbahan chiffon, dengan bagian luar yang dilapisi kain tile berpola bunga kecil.


Terdapat aksen kerut dipinggang yang membuat wanita cantik itu terlihat semakin ramping.



Rambut panjangnya tergerai, dengan kedua sisinya yang dikepang dan diikat dengan sebuah pita putih dari bahan satin.



Evangeline terlihat berdiri setelah beberapa saat menunduk memilih bunga-bunga cantik di depannya.


Dia lalu mengikat bunga-bunga tersebut dengan sebuah pita ungu, dan kemudian membawanya masuk ke dalam.

__ADS_1


Dia berjalan ke arah ruang belajar, dimana Ardiaz saat ini berada.


“Sayang, apa kau masih sibuk?” tanya Evangeline sambil menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


Ardiaz menoleh dan tersenyum ke arah sang istri.


“Kemarilah,” serunya.


Evangeline pun berjalan masuk dan menghampiri sang suami. Ardiaz nampak melepaskan kaca mata yang sejak tadi dipakainya selama memeriksa dokumen.


Pria itu menepuk pahanya, meminta sang istri untuk duduk di sana. Dengan manja, Evangeline pun duduk sembari melingkarkan kedua lengan di leher sang suami.


Keduanya saling melepas senyum. Dengan nakalnya, Evangeline mengecup bibir sang suami dan membuat Ardiaz gemas hingga tak tahan untuk mencubit hidung mancung istrinya.


Evangeline yang merasa kesakitan pun memukul ringan pundak pria tersebut.


“Apa kau sudah selesai memetik bunganya?” tanya Ardiaz.


“Ehm...,” Evangeline menunjukkan bunga yang dipetikanya tadi kepada sang suami.


“Baiklah. Apa kau mau kesana sekarang?” tanya Ardiaz.


Evangeline mengangguk antusias, dan kembali mendaratkan kecupan di bibir suaminya.


Dia pun bangun dari pangkuan sang suami, dan menarik tangan Ardiaz agar segera keluar dari ruangan penuh buku dan dokumen tersebut.


Keduanya pun lalu turun ke bawah dan berjalan keluar. Di sana, sudah ada supir yang menunggu sambil membukakan pintu belakang mobil.


Evangeline lebih dulu masuk di susul oleh Ardiaz. Mereka terlihat hendak pergi ke suatu tempat.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2