
Sore hari, Mac duff meminta Evangeline untuk pulang. Gadis itu terlihat kelelahan karena terus menangis.
Evangeline memang cengeng, bahkan Mac duff pun sudah tahu dari cerita Ardiaz. Sebelum mereka pergi ke Kota Orchid, setiap kali ke empat sahabat itu berkumpul, pasti ada obrolan di mana Ardiaz mengeluh tentang sang istri, yang kala itu masih menjadi nonanya.
Meskipun sekarang Evangeline sudah lebih terlihat tegar dan kuat, akan tetapi dia tetaplah putri Hemachandra yang keras kepala dan cengeng.
Dia hanya gadis belia yang manja, yang dipaksa nasib untuk bisa bersikap dewasa, disaat jiwa dan raganya belum siap menerima keadaan.
“Pulanglah. Kau juga perlu istirahat agar bisa terus datang kemari dan merawat suamimu,” ucap Mac duff.
Evangeline masih enggan bangun dari duduknya. Dia masih betah berada di samping sang suami.
“Eva, aku yakin Alpha juga tak mau kau seperti ini,” bujuk Mac duff.
Gadis itu mendongak dan menoleh ke arah bos sky night itu.
“Jadi benar dia adalah King di Lucifer?” tanya Evangeline tiba-tiba.
Mac duff nampak terdiam mendengar pertanyaan gadis itu.
“Apa benar dia juga adik Emperor kalian?” tanya Evangeline lagi.
__ADS_1
“Eva, kau...,” sahut Mac duff.
“Apa yang sebenarnya telah terjadi? Bukankah dia adik Aaron yang sejak kecil tinggal di rumah ku? Bukankah dia orang yang tumbuh besar bersama denganku? Bukankah dia kepala pengawal keluargaku? Bukankah... Bukankah dia pria yang sama, yang memaksa untuk menikahiku?” cecar Evangeline.
Gadis itu benar-benar tak habis pikir dengan semua kebenaran yang dia dengar hari ini dari mulut Martin, pria yang hampir membuatnya celaka.
Evangeline menatap wajah sang suami yang masih terpejam. Dia menatap lekat dengan pandangan sendu.
“Sebenarnya apa yang kau cari hingga bisa jadi seperti ini, Diaz? Apa karena aku tak mau memaafkan kakakmu, kau mencari orang di balik semua kejadian itu? Aku sudah memaafkannya, kau tahu. Dia bahkan sudah bekerja bersama ayahku lagi. Jadi tolonglah, segera sadar dan kembali pada kami.”
“Aku benar-benar takut, Diaz. Ini tidak benar. Ini sama sekali tidak benar. Kau tidak seharusnya hidup dalam bahaya setiap saat seperti ini,” ucap Evangeline.
Mac duff sejak tadi terus diam. Dia tahu bagaimana perasaan Evangeline saat ini. Gadis itu pasti lelah dengan semua kejadian aneh yang terjadi pada hidupnya yang bertubi-tubi.
Pria itu merasa iba. Dia pun mengulurkan tangan ragu. Namun, dorongan dari dalam membuatnya berani menyentuh gadis itu di depan sang suami.
Mac duff merangkul pundak Evangeline, mengusap-usap lengan gadis itu, mencoba menenangkannya.
“Percayalah, Eva. Ini semua dia lakukan bukan karena dirimu. Ini semua bukan salahmu. Mari kita berharap keajaiban, agar dia bisa segera bangun dan menceritakan semuanya padamu,” bujuk Mac duff.
Evangeline sesenggukan, dan beberapa kali terlihat menyeka lelehan dari hidungnya. Setelah beberapa saat, gadis itu pun sedikit lebih tenang.
__ADS_1
Tiba-tiba, dia kembali berucap.
“Lalu, apa pria tadi juga King kalian? Apa benar Ardiaz seperti ini karena orang itu?” tanya Evangeline.
“Apa semua yang kau tau dikatakan oleh si brengs*k itu?” tanya Mac duff balik.
Evangeline hanya mengangguk tanpa berucap lagi.
Helaan nafas panjang terdengar, seolah mengiyakan semua pertanyaan Evangeline tadi.
“Kau sudah tahu betapa bahayanya kami. Sejak awal, Alpha selalu mencoba untuk menjaga jarak denganmu, karena dia tak mau kau terlibat dengan semua ini. Tapi, kau memang gadis keras kepala yang tak mau mendengar nasehat orang, bukan.”
“Sekarang kau sudah terlibat dengan kami, dan mau tak mau kau harus terbiasa dengan dunia bawah ini. Jika kau tak sanggup, sebaiknya kau kembali ke rumah ayahmu, dan lupakan semuanya,” ucap Mac duff.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih