
Setelah kepergian Malcolm yang terlihat kecewa, seringai di wajah Morgan tiba-tiba menghilang. Dia menyapu semua benda di atas mejanya dan berteriak kesal.
Dia kesal pada dirinya yang harus menunjukkan wajah aslinya kepada sang putra, dan membuat dokter muda itu tak lagi menaruh hormat padanya.
Sorota mata kekaguman di manik hitam Malcolm pun sudah menghilang. Morgan benar-benar kehilangan putra kebanggaannya. Dia kembali menyalahkan Ardiaz dan semua keluarga Danurendra serta Hemachandra atas semua ini.
Tak berselang lama, sebuah dering membuat pria paruh baya itu melirik ke arah sebuah benda pipih yang ikut tersapu oleh amukannya tadi.
Benda itu jatuh terpental cukup jauh hingga hampir mencapai pintu keluar. Dia pun dengan enggan menghampiri dan meraihnya.
Dilihatnya layar ponsel tersebut dan muncul sebuah nomor anonim. Tanpa berpikir lagi, dia pun menggeser tombol hijau ke kanan dan menempelkan benda tersebut ke telinganya.
“Ada apa?” tanyanya datar.
“Dia datang kemari. Entah bagaimana dia bisa menemukan tempat ini dengan begitu cepat,” sahutnya.
“Bod*h. Itu karena kau mengirimkan pesan dari tempat itu. Dia bisa saja melacak GPS mu,” maki Morgan.
“Tidak, Bos. Semua sudah ku setting dengan IP acak untuk mengecohnya. Tapi yang jelas, anak itu tak mau mengikuti permainan Anda, bos,” jawab orang di seberang.
“Si*lan. Kenapa aku bisa bekerja dengan orang bod*h dan payah seperti dirimu? Perketat lagi penjagaan yang di sana. Jangan sampai ada yang lolos dari anak buahmu. Ingat, aku sudah memberimu pasukan yang cukup untuk menghadapi anak itu. Jangan membuatku malu,” seru Morgan.
“Baik, Bos,” sahut orang di seberang.
__ADS_1
Panggilan pun dimatikan.
Morgan mengusap keningnya dengan sebelah tangan yang berkacak pinggang, sambil melihat ke sekeliling, betapa berantakannya tempat tersebut.
Dia pun kemudian berjalan ke arah telepon yang ikut tersapu dan jatuh ke lantai, dan mengambilnya.
Pria paruh baya itu menekan sebuah tombol dan sambungan terhubung.
“Siapkan mobil sekarang juga. Hanya kau yang ikut denganku,” serunya.
Morgan pun lalu merapikan jasnya dan berjalan keluar, membiarkan ruang kerjanya yang masih berantakan.
...❄❄❄❄❄...
Sejak mereka berada di balik pegunungan Selatan, keduanya merasa bahwa ada banyak orang yang sedang mengawasi mereka. Mac duff sejak tadi terus melirik ke kanan dan kiri sembari mengemudikan sepeda motornya.
Mereka melaju semakin dalam ke hutan, hingga tampak dari kejauhan sebuah gudang tua dengan atap baja yang sudah menghitam, serta dinding yang juga sudah penuh lumut.
Tempat itu adalah bekas pabrik pengolahan kayu yang sudah tak terpakai, dan kini dijadikan tempat menyekap Evangeline.
Ardiaz mempercepat laju sepeda motornya, mencoba segera sampai di tempat sang istri berada.
Namun, Mac duff tiba-tiba maju lebih dulu dan menghadang jalannya, membuat Ardiaz terpaksa berhenti.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Ardiaz kesal karena temannya sudah menghalangi jalan.
“Apa kau yakin akan masuk sendirian ke sana? Kita hanya berdua. Akan terlalu beresiko saat nanti kita mencoba menyelamatkan istrimu,” ucap Mac duff.
“Apa kau kira teman kita yang di sana akan diam saja melihat kita datang berdua begini? Aku yakin mereka tak sebod*h itu. Apalagi, mungkin saat ini mereka sudah melihat apa yang terjadi di dalam sana pada Eva. Kita memilik sistem enel. Ingat betapa mengerikannya sistem itu. Itu kartu mati kita untuk meminta bantuan,” jawab Ardiaz.
Dia kembali menutup kaca helmnya dan menarik gas.
“Sebaiknya kita cepat ke sana. Jangan buang waktu lagi. Evangeline pasti sedang ketakutan,” lanjutnya.
Dia pun kembali memimpin jalan diikuti oleh Mac duff yang masih bertanya-tanya akan apa yang ada di dalam kepala Ardiaz.
Ahli taktik jenius itu bahkan bisa berpikir beberapa kemungkinan dan menyusunnya menjadi strategi, bahkan dalam kondisi tergenting sekalipun.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih