
Beberapa waktu kemudian, dua orang gadis keluar dari toko pakaian, dengan membawa paper bag di tangannya masing-masing. Mereka adalah Evangeline dan juga Joy yang sudah bertukar peran.
Evangeline mengenakan pakaian yang dipilih Joy. Sebuah croptop hitam polos berlengan pendek, dipadukan dengan rok denim di atas lutut.
Sementara Joy mengenakan blouse rose gold dengan padanan rok kulit ringan berwarna krem asimetris di bagian depan.
Dengan menggunakan kaca mata gelap, keduanya berpisah dan saling bersilang arah.
Evangeline meminta Joy untuk lebih dulu pergi ke suatu tempat, sementara dirinya keluar dari mall dengan menggunakan mobil Joy.
Saat berjalan menuju ke arah lift, dia melihat seorang pria memakai jas, yang tengah berjalan berpapasan dengannya. Di saku jasnya, dia bisa melihat sebuah logo.
Seketika, senyumnya mengembang. Dia pun tetap berjalan lurus tanpa menoleh sedikitpun dan masuk ke dalam lift.
Istri Ardiaz itu akhirnya berhasil mengemudikan mobil Joy dan pergi dari sana, menuju ke sebuah tempat di mana sudah ada Mike yang menunggunya.
Sky night club di siang hari, benar-benar terlihat sepi seperti bangunan tua yang kosong.
Gadis itu masuk ke dalam basemen, dan di sana sudah ada Mac duff yang menunggu. Evangeline pun segera memarkirkan mobilnya di dekat pria tersebut.
“Kenapa kau lama sekali?” tanya Mac duff.
Pria itu bersandar pada pintu mobil sembari melipat kedua lengannya di depan dada. Evangeline baru saja keluar dari dalam mobil dan melepas kaca mata hitamnya.
__ADS_1
Mac duff terlihat mengernyitkan kening saat menyaksikan penampilan Evangeline yang sangat berbeda dari biasanya.
“Jangan tanyakan apapun. Lebih baik kita segera ke sana. Ini sudah sangat terlambat,” ucap Evangeline cepat.
“Bukankah kau yang membuat sangat terlambat,” keluh Mac duff.
Pria itu membuka pintu dan masuk ke dalam mobil, tanpa memperdulikan Evangeline atau bahkan membukakan pintu untuk gadis itu.
Evangeline pun cepat-cepat menyusul masuk sebelum pria itu meninggalkannya.
Mac duff melajukan mobil keluar dari parkiran sky night bersama Evangeline menuju ke rumah sakit.
Sesampainya mereka di sana, Mac duff membawa Evangeline ke sebuah tempat. Di sana sudah ada seorang perawat yang terlihat berwajah dingin.
Dia membungkuk saat pria tersebut menghampirinya.
“Apa kau sudah menyiapkannya?” tanya Mac duff.
Mac duff tak menyahut, akan tetapi menoleh ke arah Evangeline.
“Ikutlah bersama dia. Setelah itu kau baru bisa bertemu dengan orang itu,” ucap Mac duff.
Evangeline melihat perawat berwajah datar di depannya dan kembali menoleh ke arah Mac duff.
“Kau tenang saja. Dia adalah orang ku yang sengaja ku tempatkan di sini. Kau harus cepat atau waktu mu akan berakhir begitu saja,” ucap Mac duff.
“Benarkah. Jadi, aku harus pergi kemana?” tanya Evangeline pada si perawat.
__ADS_1
“Mari ikuti saya,” seru perawat gadungan itu.
Dia berjalan lebih dulu di depan, dan diikuti Evangeline. Sementara Mac duff, pria itu berjalan ke lain arah, menuju ke ruang perawatan Ardiaz berada.
Seperti biasa, keadaan di depan ruang rawat King palsu itu begitu ramai dengan banyaknya penjaga yang disiapkan oleh Vermont, atas perintah Devonshire untuk memastikan adik palsunya itu aman.
Saat Mac duff lewat, dia bahkan tak lepas dari pemeriksaan ketat. Tubuhnya digeledah dan tak diperbolehkan membawa benda berbahaya. Jikapun dia membawa makanan, maka akan di tes zat beracun terlebih dulu.
Mereka sama sekali tak pandang ampun. Hal itulah yang membuat Mac duff menyusun rencana penyusupan untuk Evangeline, agar tak mudah diketahui oleh pengawal-pengawal itu.
Setelah melewati pemeriksaan, Mac duff pun masuk ke dalam. Di sana, nampak Ardiaz tengah duduk bersabar di head board, dan seketika menoleh saat mendengar pintu digeser.
“Apa kau berhasil membawanya?” tanya Ardiaz cepat.
“Tunggulah. Dia akan segera kemari,” sahut Mac duff sambil mendudukkan pantatnya di sofa yang empuk, tepat di salah satu sudut ruang rawat tersebut.
“Apa Devon dan Vermont akan lama pergi?” tanya Ardiaz.
“Dari yang ku dengar, mereka sedang menyelidiki siapa yang ada di balik penyerangan kelompok asing itu pada kita, dan kenapa target mereka adalah kau,” ungkap Mac duff.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih