
“Lepaskan dia!” seru Mac duff.
Martin nampak menyeringai, sementara tangannya terus menahan Evangeline.
Gadis itu terlihat ketakutan. Dia menatap iba kepada Mac duff, seakan tengah meminta tolong sambil terus meronta.
“Aku akan melepaskannya, asal kau membuktikan bahwa dia benar-benar kekasihmu. Aku ragu, kau akan secepat ini berubah selera. Bukankah seleramu yang seperti Alexa, heh?” ucap Martin.
Mac duff terlihat mengepalkan tangannya. Dia geram melihat tingkah King arogan itu.
“Lepaskan kekasihku sekarang juga, atau aku tak akan segan padamu,” ancam Mac duff.
“Oh... Benarkah? Cobalah rebut dia dariku,” tantang Martin.
Mac duff maju hendak meraih lengan Evangeline, namun Martin lebih dulu mendekap Evangeline, dan membuat gadis itu masuk ke dalam pelukan sang King.
Bos sky night itu sudah tak bisa lagi bersabar. Dia pun maju dan meraih kerah jaket Martin. Tangannya terangkat dengan kepalan yang siap menghantam apapun di depannya.
Tiba-tiba, suara berat Joker membuat pukulannya mengambang di udara.
“Hentikan, atau kalian hanya akan membuat Emperor marah. Salah satu King kita sedang koma dan kalian malah ribut hanya karena seorang gadis,” ucap Joker.
Melihat Mac duff tak jadi memukulnya, Martin tertawa mengejek dan lalu mendorong Evangeline, hingga gadis itu terhuyung ke depan.
Beruntung Mac duff dengan sigap menangkapnya, dan balik memeluk gadis itu.
Pria itu masih menatap Martin nyalang. Namun, tangannya merangkul pundak Evangeline dan memilih segera pergi dari sana, membawa gadis itu keluar dari situasi yang sulit seperti sekarang ini.
Setelah mereka masuk ke dalam lift, Mac duff melepaskan rangkulannya dari pundak Evangeline.
Dia bahkan bergeser sedikit menjauh dari gadis itu untuk menjaga jarak.
Evangeline terlihat diam. Wajahnya menatap lurus ke depan, di mana pantulan dirinya muncul di dinding lift.
“Jadi, dia bahkan menjadi King di Lucifer? Hehehe... Ku kira suamiku hanya seorang knight atau Baron. Tapi ternyata, dia bahkan menjadi salah satu King kalian. Pantas saja, fasilitas yang diberikan sangatlah bagus. Semuanya nampak masuk akal sekarang,” ucap Evangeline ditengah kekosongan matanya.
“Dia punya alasannya sendiri. Aku tidak berhak menceritakannya padamu. Lebih baik, biarkan dia sendiri yang mengatakan semuanya nanti,” sahut Mac duff.
Evangeline nampak tersenyum getir mendengar perkataan dari Mac duff itu.
“Kau benar. Sejak awal aku memang hanya ingin mendengarkan penjelasan darinya, bukan orang lain. Hah... Rupanya perjuanganku masih belum berakhir,” ucap Evangeline.
Keduanya pun kembali diam. Tak lama kemudian, pintu lift terbuka dan keduanya telah sampai di area parkir basement.
"Hari ini, sampai di sini saja. Kau hanya akan dapat masalah jika memaksa kembali lagi," ucap Mac duff.
"Baiklah. Aku tahu harus bagaimana. Situasinya memang sudah tidak normal sejak awal," sahut Evangeline.
Gadis itu pun segera masuk ke dalam mobilnya, dan pergi dari sana.
Mac duff hanya mengantarkan Evangeline hingga basemen, memastikan gadis itu keluar dengan selamat.
Dia tak bisa mengantarnya sampai rumah, karena harus selalu berada di dekat Ardiaz, memastikan rekannya itu aman.
__ADS_1
...❄❄❄❄❄...
Keesokan harinya, dia berencana kembali ke rumah sakit untuk menemani suaminya lagi.
Dia juga menyiapkan makan siang untuk ia bagi dengan Mac duff seperti biasa. Joy yang kebetulan tadi malam menginap di tempat Evangeline, kini tengah duduk di meja makan, sambil memperhatikan rekannya itu.
Dia sudah tahu semuanya dari Evangeline, bahkan tentang Ardiaz yang ternyata adalah salah satu King Lucifer.
Gadis berambut pendek itu pun tahu alasan kenapa Evangeline tak bisa terus berada di rumah sakit, meski sekarang dia sudah tak ada kesibukan lagi di Merciful.
Semua itu karena Ardiaz berkaitan dengan Lucifer, dan pasti akan berbahaya jika identitasnya terungkap sebelum waktunya, apalagi saat ini orang yang bisa menyelamatkannya sedang dalam kondisi koma.
Joy terus memperhatikan sahabatnya itu. Dia merasa kasihan padanya.
Jelas-jelas suaminya sedang koma di rumah sakit, akan tetapi Evangeline selalu menekan perasaannya, dan terlihat biasa saja seolah tak terjadi apapun.
“Eva, apa kau mau aku menemanimu di sana? Mungkin saja kau bosan dan butuh teman bicara,” tawar Joy.
Evangeline menoleh sekilas dan tersenyum, lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
“Aku tidak sendiri, Joy. Di Sana aku bersama suamiku. Apa kau lupa, hah?” sahut Evangeline.
“Iya, memang. Tapi Eva, bukankah suamimu...,” tepis Joy.
“Ku mohon jangan katakan apapun hal yang negatif di sini. Itu hanya akan mempengaruhi mood ku,” sela Evangeline.
Suasana kembali hening. Joy tak lagi berbicara dan hanya melihat punggung Evangeline yang sejak tadi terus sibuk membuat sesuatu.
Evangeline langsung menggeser tombol hijau ke kanan tanpa melihat lebih dulu siapa yang menelponnya.
Dia menempelkan benda pipih itu di telinga, sambil bergegas kembali ke dapur, melanjutkan acara masaknya.
“Halo, siapa ini?” tanya Evangeline saat menuruni anak tangga.
“Eva, ini aku Malcolm. Apa kau punya waktu hari ini? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” sahut orang di seberang, yang tak lain adalah Malcolm.
“Ah... Hai, Malcolm. Sepertinya aku tidak bisa pergi denganmu hari ini. Bagaimana kalau besok? Atau lusa?” jawab Evangeline.
“Ah... Jadi kau sibuk ya. Baiklah, kalau begitu lain kali saja,” sahut Malcolm.
Evangeline mendengar nada kecewa dalam suara Malcolm. Gadis itu menghela nafas dalam, dan mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Oh ya, bagaimana dengan kepindahanmu? Kapan kau akan mulai bekerja di tempat baru?” tanya Evangeline.
“Ehm... Semuanya sudah selesai diurus. Pekan depan, secara resmi aku akan diperkenalkan di depan semua orang, bahwa dokter muda, tampan dan jenius ini akan bergabung dengan rumah sakit pusat Kota Orchid,” jawab Malcolm.
Evangeline terkekeh kecil mendengar kenarsisan dari dokter muda di seberang panggilan.
“Hahaha... Benarkah? Jadi, dokter muda, tampan dan jenius ini apakah bermaksud merayakan hal ini dengan mentraktir ku makanan enak?” goda Evangeline.
Malcolm balas terkekeh mendengar candaan dari Evangeline. Keduanya pun saling tertawa.
“Baiklah, kalau begitu aku tidak akan mengganggumu lagi. Sampai jumpa besok,” ucap Malcolm.
__ADS_1
“Ehm... Baiklah. Sampai jumpa,” sahut Evangeline.
Sambungan pun terputus. Evangeline kembali ke kesibukannya menyiapkan bekal makan siang untuk ia bawa ke rumah sakit.
Joy masih terus memperhatikan sahabatnya itu tanpa berkomentar sama sekali.
Beberapa saat kemudian, Evangeline membawakan hidangan ke meja makan.
“Biar ku bantu menyiapkan alat makannya,” tawar Joy.
Gadis berambut pendek itu pun bangun dari duduknya dan berjalan ke arah rak piring. Dia mengambil dua set alat makan dan membawanya ke meja makan.
Di sana sudah ada beberapa hidangan yang disiapkan Evangeline. Hanya masakan sederhana, karena Evangeline tidak begitu pandai memasak.
Gadis manja itu kini sudah banyak berubah. Dia mau bersusah payah hanya demi hal-hal kecil seperti ini.
Pengalaman hidupnya yang bak rollercoaster membuat kepribadiannya dewasa secara instan.
Setelah selesai, Evangeline pun bersiap. Bekalnya bahkan telah selesai dikemas ke dalam kotak makan.
“Kau benar-benar tak akan mengajakku? Aku bisa membantumu melakukan sesuatu di sana,” tawar Joy sekali lagi.
Evangeline melihat ke arah pantulan sang sahabat, dan tersenyum tipis. Dia saat ini sedang duduk di depan meja riasnya, sementara Joy terlihat duduk di tepi ranjang sambil terus memperhatikan sahabatnya.
“Aku ucapkan terimakasih atas semua perhatianmu, Joy. Tapi, aku benar-benar tidak apa-apa. Nikmatilah akhir pekan mu sendiri. Maaf aku sedang tak bisa menemanimu bermain sekarang,” ucap Evangeline.
Gadis itu meraih sebuah ikat rambut dari dalam laci meja rias, dan mengingat rambutnya tinggi.
Tampilannya sangat kasual, dengan sebuah kaus oversize dan ripped jeans. Sepatu sneaker monokrom pun dipilih untuk outfitnya pergi menemui sang suami.
Setelah selesai bercermin, dia lalu berbalik dan berjalan ke arah Joy. Dia meraih sebuah jaket flanel kotak-kotak hijau, putih dan hitam yang sudah ia siapkan di sana.
Dia tersenyum lembut ke arah Joy, meyakinkan temannya itu bahwa dia baik-baik saja.
“Hati-hati di jalan,” ucap Joy.
“Ehm...,” sahut Evangeline mengangguk.
Dia mengenakan tas punggungnya dan berjalan keluar dari kamar. Tak lupa dia juga mengambil bekal yang sudah disiapkan.
Joy hanya memperhatikan temanya itu dalam diam, hingga Evangeline menghilang di balik pintu apartemen.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1