
Sementara itu di rumah sakit, Hemachandra yang masih berada di dalam kamar putrinya, terus menggenggam erat tangan pucat itu, tanpa berkata sedikitpun.
Ardiaz tak terlihat di sana, karena dia memilih keluar dan memberi waktu kepada ayah mertuanya untuk berdua bersama sang istri.
Dia duduk di bangku yang berada di depan ruang rawat Evangeline, sambil menyiapkan hati untuk menghadapi apa yang akan dilakukan oleh sang mertua padanya.
Setelah menunggu cukup lama, pintu tiba-tiba terbuka. Hemachandra terlihat berdiri di balik pintu dan meminta menantunya untuk masuk ke dalam.
“Masuklah, Nak,” serunya.
Ardiaz pun dengan ragu masuk mengikuti sang mertua. Dia menutup kembali pintunya sebelum kembali berjalan ke arah ranjang Evangeline.
Hemachandra terlihat duduk di kursi yang ada di samping putrinya, sama seperti tadi. Sementara Ardiaz, dia berdiri di seberang, dan meraih tangan wanita yang baru saja kehilangan janinnya itu.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Hemachandra kemudian.
Ardiaz seketika menoleh melihat ke arah mertuanya. Keningnya berkerut karena tak menyangka bahwa kalimat itulah yang keluar dari mulut pria, yang sudah menyerahkan putri satu-satunya kepada sang kepala pengawal.
Hemachandra pun menoleh dan balas menatap Ardiaz, dengan senyum tipis yang terulas.
“Kami semua sangat mengkhawatirkan mu, Nak. Apa sekarang semua sudah baik-baik saja?” tanyanya lagi.
Hal itu sontak membuat mata Ardiaz berair, dan tanpa terasa beberapa tetes air mata meluncur mulus di pipi pria dengan garis wajah tegas itu.
Dia tertunduk, dengan tangan yang mengepal kuat meremas pinggiran selimut sang istri. Tubuhnya bergetar hebat setelah mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh mertuanya.
“Maafkan aku... Maafkan aku...,” hanya kalimat itu yang bisa diucapkan Ardiaz.
__ADS_1
Hemachandra meraih tangan menantunya dan menepuk-nepuk lengan pria kekar itu dengan lembut, seolah tengah menenangkan Ardiaz yang sedang terisak.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semuanya sudah terjadi. Yang terpenting, kalian bisa kembali dengan selamat. Sekarang, kita berdoa agar Eva segera sadar,” ucap Hemachandra penuh dengan kebijaksanaan.
Ardiaz semakin tak tau harus bagaimana lagi. Pria di depannya benar-benar seseorang yang berhati luas.
Di saat putri satu-satunya tengah dalam kondisi kritis pasca operasi, dia justru memberi semangat kepada pria yang sudah membawa wanita tersebut ke dalam bahaya.
Saat Ardiaz masih terisak, tiba-tiba dia merasakan gerakan jemari Evangeline yang menyentuh tangannya.
Hal itu pun membuat Ardiaz seketika menghentikan tangisnya dan memperhatikan kondisi sang istri.
Benar saja, dia melihat kelopak mata Evangeline bergerak, dengan bulu matanya yang berkeriap.
“Eva... Eva, kau sudah sadar?” ucapnya.
“Di... Az...,” panggilnya lemah.
Ardiaz yang merasa terpanggil pun segera mendekatkan wajahnya ke telinga Evangeline.
“Eva, ini aku, Diaz. Aku disini,” ucap Ardiaz sambil terus menggenggam tangan sang istri.
“Di... Az...,” panggil Evangeline lagi.
Sang ayah pun segera menekan tombol darurat yang ada di samping ranjang, agar tim medis segera datang dan memeriksa kondisi putrinya.
Tak lama, seorang dokter dan dua orang perawat datang, dan meminta kedua pria itu untuk keluar terlebih dulu.
__ADS_1
Ardiaz enggan melepaskan tangan sang istri, namun mertuanya mencoba membujuknya agar mau memberikan ruang untuk tim medis memeriksa kondisi Evangeline.
Akhirnya, mau tak mau pria tersebut pun melepaskan genggamannya dari tangan sang istri, dan keluar mengikuti mertuanya.
“Tenanglah. Eva pasti akan baik-baik saja,” ucap Hemachandra.
Ardiaz nampak berjalan ke kanan dan kiri tak tenang, sambil sesekali mengusap kasar wajah, hingga menyingkap anak rambut yang mengganggu matanya.
Dari arah lain, terlihat Malcolm yang juga datang setelah mendengar alarm darurat dari ruangan Evangeline.
Dia melihat dua orang pria sudah berada di depan sana menunggu tim medis selesai memeriksa kondisi wanita itu.
Namun, saat melihat dengan jelas keberadaan Hemachandra di tempat tersebut, dia tiba-tiba menjadi ragu untuk mendekat. Dokter muda itu bahkan segera menghentikan langkahnya dan bersiap untuk berbalik.
Akan tetapi, pria paruh baya itu lebih dulu melihat dokter muda tersebut dan memanggilnya.
"Dokter Malcolm," panggil Hemachandra.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih