A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : POV MALCOLM 1


__ADS_3

POV MALCOLM


Aku adalah putra dari seorang ayah tunggal. Aku kehilangan ibuku ketika masih sangat muda. Beliau sakit keras dan saat itu ayahku belum menjadi dirinya yang sekarang ini.


Sekarang, beliau telah menjadi seorang pebisnis besar di ibu kota, penguasa sektor pariwisata dan retailer. Entah bagaimana itu terjadi, yang ku ingat ayah sering sekali pergi dan pulang tanpa ku sadari.


Tetapi entah kenapa, aku lebih suka ayahku yang dulu, yang begitu jujur dan pekerja keras. Yang terpenting, ayah selalu ada bersamaku meski kami dalam kekurangan. Aku bahkan sangat mengagumi dan menghormatinya lebih dari siapapun di dunia ini.


Beliau adalah panutan bagiku, putra semata wayangnya.


Beliau tak pernah sekalipun memaksakan kehendak padaku, dan merelakan ku untuk mengambil jalan sendiri menjadi seorang dokter.


Aku tahu ayah ingin agar putranya bisa mewarisi bisnisnya kelak. Tapi, aku bercita-cita ingin menolong siapapun yang membutuhkan, agar tak ada lagi yang bernasib sama seperti ibu.


Sejak aku lulus dari sekolah kedokteran, ayah bahkan telah bersiap membangunkan sebuah rumah sakit besar untuk aku pimpin. Namun lagi-lagi, aku menolak kebaikan ayahku dan memilih pergi ke kota kecil di seberang sana.


Aku datang ke Kota Wisteria lima tahu lalu, seorang diri dan tak ada yang mengenalku sama sekali.


Aku mendaftar menjadi dokter magang di salah satu rumah sakit besar di kota tersebut menjadi seorang dokter umum.


Di bulan ke limaku bekerja di sana, tanpa sengaja aku yang kala itu tengah dalam perjalanan pulang dari provinsi lain, melewati jalanan antara Magnolia dan Wisteria.


Di tengah jalan, aku bertemu dengan seorang pemuda yang saat itu tengah berjalan tertatih dengan tubuh penuh luka.


Aku pun menepikan mobil dan mencoba menolongnya. Dari sorot mata pemuda tersebut, jelas terlihat bahwa dia bukanlah orang biasa.


Tatapannya dingin dan begitu keras. Bahkan tak ada ekspresi kesakitan yang terlihat, meski badan penuh luka. Bahkan berjalan pun terseok-seok.


Saat aku menawarkan bantuan, dia sama sekali tak peduli dan terus berjalan. Dia bahkan menepis tanganku saat aku hendak memapahnya.


Namun, tiba-tiba dari arah belakang terdengar keributan dan membuat pemuda itu terlihat panik.


Dia lalu menatapku dan berkata, “Cepat masuk mobil dan bawa aku pergi dari sini.”


Aku tak paham maksudnya. Namun aku cepat-cepat masuk ke mobil dan menyalakan mesin. Tanpa ku sadari, pemuda itu sudah masuk dan duduk di kursi belakang.

__ADS_1


Tanpa bertanya lagi, aku segera melajukan mobil menjauh dari sana. Sepanjang perjalanan, aku memperhatikan pemuda itu dari kaca spion.


Dia terlihat beberapa kali menoleh ke belakang, seolah sedang memastikan bahwa tak ada yang mengejarnya.


“Turunkan aku di depan,” serunya.


“Tapi kau terluka. Kau harus segera diobati atau lukamu akan infeksi,” sahutku.


Namun tanpa terduga, dia justru menodongkan senjata api tepat di belakang kepalaku.


Aku bergidik ngeri melihat hal tersebut. Namun, sebisa mungkin aku mencoba tetap bersikap tenang.


“Jika kau mau membunuhku, silakan. Tapi, meninggalkan seseorang yang terluka, bukanlah tugas seorang dokter,” jawabku.


“Apa kau seorang dokter?” tanya si pemuda.


“Benar. Aku adalah seorang dokter di rumah sakit Wisteria. Kau bisa mengkonfirmasi hal itu jika mau,” jawabku.


“Kalau begitu, apa kau membawa peralatan medis darurat? Bukankah kalian biasa membawanya kemana-mana?” tanya si pemuda.


“Ada di dalam tasku,” jawabku.


Dia lalu menuntunku untuk pergi ke suatu tempat. Tepatnya masuk ke dalam hutan yang ada di dekat perbukitan dekat pedesaan Gingko yang asri.


Aku tak paham kenapa dia membawaku kemari, tapi sepertinya itu adalah tempat persembunyiannya.


Tapi ternyata aku salah, dian hanya memintaku berhenti di area yang sepi di tengah hutan, untuk selanjutnya mengobati lukanya.


Aku berpindah ke kursi belakang. Dengan berbekal alat seadanya dan pencahayaan minim, aku pun mulai memeriksa kondisi pemuda tersebut.


Banyak luka lebam di tubuhnya. Ada pula sayatan dengan bermacam-macam ukuran. Namun yang paling parah adalah yang ada di pundak kanannya.


Sebuah luka bacokan menganga lebar di sana, membuat darah banyak keluar.


Setelah memakan waktu hampir dua jam, akhirnya aku berhasil mengobati semua lukanya. Aku sengaja menyuntikkan obat anestesi agar dia beristirahat dan tak banyak bergerak demi kesembuhan luka.

__ADS_1


Aku bertanya-tanya siapa pemuda itu. Jika dilihat dari perawakannya, sepertinya dia jauh lebih muda dariku. Namun saat ku lihat tubuhnya tadi, banyak sekali bekas luka baik lama ataupun baru.


Tapi kenapa anak muda seperti dia bisa memiliki banyak luka seperti ini? Aku terus bertanya-tanya hingga lelah menguasai dan membuatku tertidur.


Pagi hari buta, aku terbangun karena suara berisik dari belakang mobil. Saat mataku terbuka, aku melihat pemuda itu mencoba melepas selang infus yang sengaja aku pasang.


“Biarkan dia habis dulu, baru aku akan bantu kau melepasnya,” ucapku.


Si pemuda nampak tak suka dengan perkataanku yang terdengar mengatur itu.


“Aku tak ada urusan lagi dengamu. Sekarang sebaiknya kau pergi” serunya dengan wajah dingin.


“Jelas kau masih ada urusan denganku. Ingat, aku sekarang adalah dokter mu dan kau adalah pasien ku. Aku tak mengijinkan pasien ku melakukan hal gegabah yang bisa mencelakai dirinya sendiri,” ucapku tegas.


“Apa kau lupa bahwa aku memiliki pistol, hah?” ucapnya sambil meraba saku, namun tak ada apapun di sana.


Dia lalu menoleh ke arah ku yang menggoyangkan sebuah pistol ditangan.


“Mencari ini?” tanya ku dengan senyum mengejek.


Pemuda itu terlihat hendak merebut, namun lukanya terasa kembali sakit hingga dia terjatuh lagi di tempat duduk penumpang.


“Sembuhkan dulu lukamu, baru akan ku berikan benda ini. Mengerti?” pungkasku.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2