
Di apartemen, Evangeline yang telah pulang setelah seharian di rumah sakit, kini nampak duduk di depan pintu balkon kamarnya.
Dia masih ingat kata-kata Mac duff sebelumnya, yang meminta dirinya untuk mulai terbiasa dengan dunia kriminal yang berkaitan dengan Lucifer, atau sebaliknya lupakan semua tentang Ardiaz dan menganggap pria itu benar-benar sudah mati.
Jadi ini alasanmu selama ini berpura-pura mati di depan kami? batin Evangeline.
Dia memeluk lututnya sendiri, sembari merebahkan kepala di atas puncaknya.
Matanya menatap ke depan, di mana cahaya matahari senja membias warna jingga di langit. Indah dan terasa hangat.
Namun perasaan Evangeline saat ini membuat pemandangan indah itu, justru mengingatkan pada banyaknya pertumpahan darah yang mungkin akan dia lihat selanjutnya.
Cahaya jingga, lambat laun mulai memudar, dan berganti dengan kegelapan malam. Evangeline yang sudah kembali masuk ke dalam, kini tengah membersihkan dirinya.
Dia tak mau jejak Martin masih ada pada dirinya. Dia merasa benar-benar jijik karena telah di sentuh oleh pria itu.
Setelah lama berada di kamar mandi dan menghabiskan banyak sabun dan membuat kulit di sekitar perutnya memerah karena kuatnya gosokan, kini gadis itu terlihat sudah berpakaian dan tengah duduk di atas tempat tidur, sembari menatap laptopnya.
Meski pikiran dan hatinya masih tertuju pada Ardiaz, namun dia harus tetap bisa rasional dan meneruskan hidupnya.
Dia bahkan mencoba untuk makan dengan teratur, meski rasanya sangat sulit untuk menelan makanan ketika keadaan benar-benar buruk.
Yang lebih sulit lagi, saat dia harus tetap tersenyum dan terlihat baik-baik saja, meski hatinya sedang kacau bahkan nyaris hancur lebur tak bersisa. Itulah pelajaran yang dia dapat selama masa-masa sulit ini.
__ADS_1
Karena menurutnya, meski hidup terasa berat akan tetapi setidaknya dia harus bertanggung jawab dengan keputusan yang dia ambil sebelumnya, agar tak mengecewakan siapapun nanti.
Melanjutkan studi di Kota Golden pun adalah keputusannya sendiri, yang dengan berat hati dikabulkan oleh sang ayah.
Memang tujuan awal Evangeline pindah adalah Ardiaz, hanya saja dia juga harus dewasa dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Saat konsentrasinya tertuju pada layar laptop, tiba-tiba dering ponsel berbunyi, membuat fokusnya teralihkan. Evangeline menoleh ke arah nakas dimana ponselnya berada.
Dia pun meraih benda pipih tersebut dan melihat siapa yang mengubungi. Nampak senyum tipis muncul di bibir mungilnya.
Evangeline lalu menggeser tombol hijau ke kanan, dan menempelkan ponsel ke depan telinganya.
“Ehm... Halo, apa kau mau mengingatkanku tentang janji besok?” tanya Evangeline langsung.
Evangeline hanya tersenyum simpul menanggapi omongan dari dokter muda itu.
“Jadi, kemana kau akan membawaku besok?” tanya Evangeline.
“Apa harus ku katakan sekarang?” goda Malcolm.
“Tentu saja. Maaf ya, Tuan. Aku bukan gadis yang pergi ke sembarang tempat dengan pria,” ucap Evangeline.
“Hahaha... Yah... Yah... Baiklah. Kau menang, Tuan putri. Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang yang spesial untuk ku,” ucap Malcolm.
__ADS_1
“Benarkah? Apa dia seorang gadis?” tanya Evangeline penasaran.
“Ehm... Mungkin. Kita lihat saja besok,” jawab Malcolm.
“Baiklah. Kalau begitu sampai jumpa besok,” sahut Evangeline.
“Apa kau sedang sibuk sekarang?” tanya Malcolm.
“Ehm... Aku sedang menyelesaikan tugas magangku. Aku ingin segera menyelesaikannya. Ini terlalu melelahkan,” jawab Evangeline.
“Oh, baiklah. Kalau begitu aku tak akan mengganggumu lagi. Jangan lupa istirahat, oke,” titah Malcolm.
“Kau juga. Have a nice dream. Bye,” sahut Evangeline.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih