A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Rumah sakit


__ADS_3

Keesokan harinya, suami istri itu terlihat masih betah berada di atas tempat tidur dengan saling berpelukan.


Meski keduanya telah bangun sejak pagi, namun rasanya enggan untuk beranjak dari sana.


Terlebih Evangeline, yang merasa badannya masih pegal dan tidak nyaman, membuatnya terus memeluk sang suami dan bersembunyi di dada bidang itu.


Awalnya Ardiaz tak menyadari kondisi sang istri. Dia hanya tahu bahwa wanita itu memang selalu bersikap manja pada orang yang dekat dengannya.


Namun, saat Ardiaz mencoba melihat wajah Evangeline, tangannya menangkup kedua pipi wanita itu dan merasakan kenaikan suhu pada sang istri.


Rupanya, Evangeline yang merasa tubuhnya tidak terlalu baik, serta rasa nyeri di pangkal paha, membuat tubuhnya sedikit mengalami demam.


“Kau demam, Eva?” tanya Ardiaz panik.


“Ehm... Mungkin. Aku hanya merasa tidak nyaman saja,” sahut Evangeline.


Dia kembali meringsek masuk ke dalam pelukan sang suami. Namun, Lagi-lagi Ardiaz menjauhkan wanita itu dan melihat dengan seksama kondisi sang istri.


“Kita ke rumah sakit. Kau harus diperiksa,” seru Ardiaz.


Namun, Evangeline lagi-lagi memeluk suaminya dan enggan untuk bangun.


“Aku hanya ingin seperti ini saja. Nanti aku akan minum obat. Pasti lekas sembuh,” ucap Evangeline.


Akan tetapi, Ardiaz tak mau mendengarkan dan segera melepas pelukan Evangeline. Dia bangun dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci muka.


“Kau harus menurut. Kita ke rumah sakit sekarang. Aku tak mau sampai terjadi sesuatu padamu,” seru Ardiaz


“Tapi, bukankah kau sedang bersembunyi dari mereka? Bagaimana kalau kau sampai tergangkap?” tanya Evangeline khawatir.


“Ini bukan saatnya memikirkan hal itu. Yang lebih penting adalah kondisimu,” sahut Ardiaz.


Pria itu kini telah mengenakan celananya dan mengambil dua buah jaket. Satu untuk dirinya sendiri dan satunya lagi untuk Evangeline.

__ADS_1


“Apa kau akan memakai pakaian ini saja?” tanya Ardiaz.


Evangeline berusaha bangun. Namun, pusing membuatnya limbung dan kembali terduduk di tepi ranjang.


Melihat hal itu, Ardiaz pun dengan sigap menahan tubuh sang istri agar tak jatuh.


“Katakan saja kau butuh apa. Biar aku yang ambilkan,” ucap Ardiaz.


Evangeline pun lalu mengatakan apa yang dia butuhkan, dan Ardiaz segera masuk melihat lemari dan mencarikannya.


Wanita itu meminta diambilkan sebuah dress selutut dan segera menggantinya saat sang suami berhasil mengambilkannya.


“Aku akan keluar. Kau berganti lah dulu,” seru Ardiaz.


Setelah beberapa saat, Ardiaz kembali masuk dan melihat Evangeline sudah berganti pakaian. Dia bahkan sedang menyisir rambutnya, namun rasanya semakin nyeri seiring rambut rontok yang tercabut di sisir.


Setelah selesai, Ardiaz memakaikan jaket ke tubuh sang istri, serta melilitkan syal ke leher untuk menutupi bekas merah yang terlihat, dan membantunya berjalan menuju pintu keluar.


Evangeline seketika menolak, “Aku hanya demam, bukan tidak bisa berjalan. Cukup papah aku.”


Ardiaz pun segera membawanya ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan, karena khawatir terjadi sesuatu pada istrinya.


Sesampainya di sana, mereka menunggu antrian di ruang tunggu registrasi. Ardiaz nampak waspada pada sekitarnya, berjaga-jaga bila mana ada orang yang mengenalinya.


Meski wajahnya telah tertutup oleh masker, namun seorang pencari jejak akan sangat hafal dengan targetnya, sekalipun dia melakukan pergantian wajah.


Evangeline yang menyadari hal itu pun merasa khawatir dengan kondisi sang suami.


“Kita sebaiknya pulang saja. Aku benar-benar tidak apa-apa,” ucap Evangeline kemudian.


Namun baru saja ardiaz hendak menyahut, matanya tiba-tiba menangkap kehadiran seseorang dengan tato Lucifer di tangannya.


Dia pun seketika menyembunyikan wajahnya di bawah pucuk topi, dan membuat Evangeline semakin panik.

__ADS_1


Tiba-tiba, seseorang muncul begitu saja di depan mereka berdua, dengan mengenakan jubah putih.


Evangeline mendongak dan melihat keberadaan seseorang yang sangat dia kenal.


“Kau...,” ucap Evangeline.


Ardiaz pun seketika mendongak menyadari ada yang berdiri di depannya. Melihat orang itu, Ardiaz bahkan langsung berdiri dan berhadapan dengannya.


“Kalian ikutlah denganku,” serunya, sebelum Ardiaz sempat mengucapkan apapun.


Evangeline dan Ardiaz saling melempar pandangan saat orang itu berjalan lebih dulu di depan. Sementara Ardiaz, kembali mengamati sekitar dan tak lagi mendapati orang dengan tato Lucifer di sana.


Ardiaz yang masih berdiri, berjalan ke salah satu konter perawat dan meminjam kursi roda dari sana.


Dia lalu membawanya ke tempat Evangeline berada.


“Naiklah,” seru Ardiaz.


Evangeline pun kemudian dibantu Ardiaz untuk pindah ke atas kursi roda. Mereka lalu bersama-sama mengikuti kemana pria berjas putih pergi.


Rupanya, orang itu masih menunggu pasangan tersebut dan kembali berjalan saat melihat keduanya sudah mendekat.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2