A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Pelampiasan


__ADS_3

“Eva, jangan memaksaku berbuat kasar padamu,” ancam Ardiaz.


“Oh benarkah? Memang siapa kau? Bukankah kita tak ada urusan apapun?” elak Evangeline.


“EVA! AKU MASIH SUAMIMU!” bentak Ardiaz.


“KAU SALAH! SUAMIKU SUDAH MATI. ARDIAZ SUAMIKU SUDAH MATI. BAGI KU KAU SUDAH MA...,” pekik Evangeline tak kalah keras.


Tiba-tiba,


CUP!


Sebuah kecupan mendarat di bibir tipis nan mungil Evangeline, membuat gadis itu bungkam seketika.


Namun, itu tak berlangsung lama karena gadis tersebut segera mendorong Ardiaz agar menjauh darinya.


PLAK!


Tamparan bahkan mendarat di wajah tampan pria tersebut, membuat Ardiaz membeku dengan wajah tertunduk.


“Apa yang kau lakukan? Aku tak sudi disentuh oleh mu. Kau kotor. Pergi lah dari sini. PERGI!” pekik Evangeline lagi.


Ardiaz mengangkat pandangannya dan menatap wajah sang istri.


“Ingat, Eva. Kau tidak boleh dekat dengan pria itu,” ucap Ardiaz.


“PERGI!” pekik Evangeline lagi dan semakin histeris.


Dia bahkan mendorong-dorong Ardiaz hingga pria tersebut terdorong keluar, dan gadis itu pun langsung mengunci pintunya.


Dia berbalik bersandar pada pintu. Tubuhnya merosot ke bawah dengan air mata yang sudah banjir di wajahnya.


Tangisnya seketika pecah, mengingat apa yang terjadi tadi padanya.


Kenapa? Kenapa kau baru muncul setelah aku membencimu? Kenapa? Kau benar-benar brengs*k, makinya dalam hati.


Dia menyesali keputusannya untuk membukakan pintu untuk pria itu.


Beberapa saat yang lalu, ketika Ardiaz menggedor pintunya keras-keras, Evangeline melihat dengan jelas sosok pria yang meninggalkannya dirinya begitu saja, tengah berdiri di depan apartemennya melalui interkom.


Dia cukup lama berdiri di balik pintu, dengan batin yang berkecamuk antara harus membuka pintu atau membiarkan pria itu di sana.


Namun, dia ingat perjuangannya selama ini untuk menemui sang suami. Meski hatinya sakit saat mengingat kejadian semalam, akan tetapi tak dipungkiri jika dia pun ingin bertemu dengan Ardiaz.


Ada rasa senang saat pria itu mendatanginya dan berharap dia akan kembali menjadi Ardiaz yang seperti dulu, meskipun dia sendiri tak tahu apa alasan orang yang selama ini berpura-pura mati itu tiba-tiba muncul di depannya.

__ADS_1


Akhirnya, dengan perang batin yang membuat dirinya galau, Evangeline pun membuka pintu.


Namun saat ini, dia menyesali keputusannya itu, melihat betapa Ardiaz lebih menjadikan orang lain sebagai alasan, dari pada istrinya sendiri.


...❄❄❄❄❄...


Di sisi lain, Ardiaz yang telah keluar dari lift, berjalan cepat ke arah mobilnya. Namun, sesampainya dia di depan pintu mobil, bukannya segera masuk, dia justru menendang ban dan berteriak kencang sembari meremat rambutnya sendiri kuat-kuat.


Dia seolah kesal pada dirinya karena apa yang baru saja dilakukan pada sang istri.


Bod*h. Kenapa aku bisa seperti ini? Dimana akal sehatku? Rutuknya dalam hati.


Dia kembali berteriak keras hingga orang yang kebetulan berada di sana pun melihatnya dengan pandangan aneh. Mereka lebih memilih menjauh dari pada menanyakan kondisinya.


Setelah cukup puas berteriak, dia pun membuka pintu dengan kasar, dan masuk begitu saja. Dia bahkan melajukan mobil dengan ugal-ugalan menuju ke sebuah tempat.


Saat di jalan, beberapa kali dia hampir mengalami tumbukan dengan kendaraan lain yang melaju di depannya.


Umpatan dan makian yang terlontar dari pengguna jalan lain, tak dipedulikannya sama sekali. Dia terus saja melaju seperti itu hingga tiba di kastil Joker.


Dia keluar dari mobil dengan membanting pintu keras-keras dan berjalan cepat ke arah dalam. Tujuannya adalah arena latihan pasukan Joker yang ada di bagian belakang bangunan kastil tersebut.


Begitu tiba, dia langsung mendorong pintu besar itu kuat-kuat, hingga semua yang ada di sana pun menoleh melihat kehadiran sang king palsu.


Saat itu, Mac duff tengah berada di arena, dan sedang melatih pasukan baru mereka. Dia melihat temannya itu seperti sedang tidak baik-baik saja.


“Dari mana saja kau? Kenapa tak memba...,”


BUG!


Sebuah pukulan secepat kilat mendarat di wajah Duke King Joker dengan keras hingga membuat pria seksi itu sampai tersungkur jatuh.


Ardiaz kembali mengejarnya dan meraih kerah kaus yang dikenakan Mac duff saat itu, dan memukulnya lagi.


“Kenapa kau selemah ini hah? Ayo lawan aku. Pukul aku, Brengs*k!” teriak Ardiaz.


Mac duff merasa saat ini King palsu itu sedang dalam suasana hati yang buruk. Pasti karena foto yang dikirimnya siang tadi.


Karena tak ingin mati konyol ditangan Ardiaz, Mac duff pun membalas. Perkelahian antara dua pria itu terjadi di depan semua pasukan Joker.


Mereka yang ada di sana tak melerai keduanya, karena semuanya tahu siapa Ardiaz, dan lagi kejadian seperti ini tak hanya sekali dua kali terjadi, melainkan sudah hal lumrah di tempat tersebut yang menjadi tempat pelampiasan emosi Ardiaz saat hatinya sedang tak baik-baik saja.


Di awal, Ardiaz terus mendominasi, akan tetapi lama kelamaan Mac duff bergerak dengan gesit, menghindari setiap serangan temannya itu, dan bahkan menyerang balik dengan pukulan-pukulan telak.


Keduanya bertarung begitu serius sekitar hampir satu jam. Lebam memenuhi wajah Mac duff, sementara Ardiaz justru lebih parah karena banyak darah yang keluar dari luka pukulan yang dideritanya.

__ADS_1


“Berhentilah. Kau sudah terluka parah,” seru Mac duff.


Namun, Ardiaz seolah hilang akal, dan tak mau mendengarkan perintah dari temannya itu. Dia kembali bangun dan menyerang Mac duff.


Namun lagi-lagi, dia tak bisa mengenainya karena sudah sangat lelah. Staminanya tak sebanding dengan Mac duff yang memang sudah terlatih di jalan gelap ini sejak masih sangat muda.


Serangan terakhir dari Mac duff membuat Ardiaz terkapar tak mampu bangun lagi.


“SIAL!” pekik Ardiaz keras.


Dia terbaring di lantai yang dingin dengan luka dan lebam di hampir sekujur tubuh, terutama wajahnya yang sudah tak berbentuk.


Mac duff justru masih bisa berdiri meski dengan nafas yang tersengal akibat kelelahan meladeni kegilaan Ardiaz.


“Ingat pertarungan tadi, dan praktekan nanti. Latihan hari ini sampai sini. Semuanya bubar,” seru Mac duff kepada semua bawahannya.


Semua pasukan pun pergi meninggalkan arena, dan menyisakan Mac duff dan Ardiaz. Seorang pengawal datang dan memberikan dua buah handuk kepada Mac duff, dan kembali keluar menutup pintunya.


Bos sky night itu lalu melemparkan satu handuk ke arah Ardiaz. Sementara dirinya memakai yang lain untuk mengusap tubuhnya yang penuh peluh bercampur darah.


Dia duduk di dekat Ardiaz, dengan kedua lutut yang membentuk sudut enam puluh derajat.


“Apa kau seperti ini karena foto itu? Kau marah? Lalu apa menurutmu Eva tidak merasakan hal yang sama saat melihat dirimu dan Alexa semalam?” tanya Mac duff.


Ardiaz masih diam. Dia memilih memejamkan matanya. Dia masih kesal pada dirinya dan enggan untuk mendengarkan ocehan orang lain.


“Eva hanya makan bersama seorang pria dan kau sudah begitu gila. Mereka bahkan sudah kembali berpisah saat anak buahku mengejar ke sana,” ungkap Mac duff.


Seketika, Ardiaz membalik wajahnya yang sejak tadi berpaling, kini menatap lurus ke arah bos sky night itu.


“Apa? Kau mau bilang kenapa aku tak memberi tahu mu lebih cepat? Sekarang aku tanya, apa kau membaca pesanku berikutnya?” tanya Mac duff cepat bahkan sebelum Ardiaz sempat bertanya.


Melihat temannya itu kembali diam dengan kening yang mengendur, Mac duff hanya bisa menghela nafas kesal.


“Sudah ku duga. Kalian itu sebenarnya sudah saling jatuh cinta. Eva bahkan sudah mencoba menerimamu sebagai suaminya dan berusaha menemui. Tapi justru kau si bod*h yang tak mau mengakuinya dan malah melukai istrimu sendiri,” gerutu Mac duff.


Dia pun berdiri dan berjalan keluar dari arena, meninggalkan Ardiaz yang masih terbaring di sana seorang diri.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2