
Di markas Martin, di ruang interogasi yang biasa dipakai untuk menyiksa korbannya, seorang pria terlihat terikat di sebuah rantai dengan kedua tangan yang terangkat keatas, dan kaki yang sudah lemas tergantung tak menyentuh tanah.
Tubuhnya sudah bermandikan darah yang keluar dari sekujur tubuh akibat penyiksaan yang dialami.
Di depannya, beberapa orang pria terlihat berkeringat, dengan masing-masing memegangi alat penyiksaan di tangan.
Salah satunya tampak duduk di sebuah kursi besar yang terbuat dari besi baja, dengan sebuah besi bakar yang baru saja diambilnya dari dalam tunggu yang membara.
“Berikan ini padanya,” serunya
Seorang pria muda mengambil benda tersebut dan meletakkan cambuk yang sebelumnya dipegang.
Dia lalu berjalan ke arah pria yang terikat dan menempelkan besi panas itu di dada kanan pria tersebut.
Teriakan kesakitan menggema di seluruh ruangan, bahkan hingga ke lorong yang berada di luar sel penjara itu.
Kulit melepuh bahkan hingga darah yang mendidih menjadi pemandangan yang terlihat di sana.
“Bunuh... aku... Ku mohon, bunuh aku...,” ucap pria malang itu yang tak lain adalah Martin.
Kini, dia harus menghadapi kekejaman Devonshire yang sebenarnya. Sang emperor bukanlah pria yang murah hati, yang bisa membiarkan begitu saja penghianat bebas hanya dengan permintaan maaf.
Dia akan membuat Martin menyesal hingga kerongga tulangnya, atas penghianatan yang diperbuat kepada Lucifer, geng mafia yang sudah membesarkan namanya.
Devonshire tak akan membiarkan Martin mati dengan mudah, dan hidup dengan tenang. Dia akan menyiksanya hingga mati perlahan dalam kesakitan yang teramat menyiksa.
“Ambilkan cambukku,” seru sang emperor.
Vermont dan Joker saling pandang saat ketua mereka memerintahkan hal tersebut. Pasalnya, cambuk milik Emperor Lucifer itu adalah benda mengerikan yang jarang dikeluarkan dari peti penyimpanannya.
Benda itu merupakan cambuk yang terbuat dari kawat berduri dengan ujung runcing yang bisa merobek apapun yang mengenainya, apa lagi kulit manusia yang sangat rapuh.
“Tunggu apa lagi kalian? Ambilkan benda itu. Sudah lama aku tak bersenang-senang dengannya,” titah Devonshire.
Vermont pun tak punya pilihan. Dia tak bisa membantah apapun perintah sang emperor, karena perintahnya adalah mutlak.
Dia lalu memerintahkan seorang anak buah untuk mengambil benda mengerikan itu dari ruang penyimpanan, dan membawanya segera ke tempat mereka berada.
__ADS_1
Martin sudah tak berdaya, akan tetapi saat dia mengetahui bahwa Devonshire ingin menggunakan benda langka itu, dia pun seketika merasa sangat ketakutan.
Dia terus memohon ampun kepada Devonshire, dan meminta agar segera dibunug saja.
Namun, Devonshire sama sekali tak bergeming. Dia terus menghisap cerutunya sambil menikmati suara putus asa Martin yang sedang ketakutan.
Tak berselang lama, sebuah kotak kayu coklat tua di bawa ke ruangan lembab dan berbau anyir itu.
Benda tersebut diberikan kepada Vermont, dan sang malaikat maut Lucifer itu pun membukanya. Terlihat jelas benda melingkar dengan duri tajam yang terbuat dari kawat halus dan kuat yang bisa mencabik apapun yang mengenainya.
Devonshire yang sejak tadi memakai sarung tangan kulit, mengambil gagang cambuk itu dengan begitu santai.
Pria tersebut kemudian berdiri dengan ekor cambuk yang sudah terulur ke lantai. Martin semakin gemetar. Dia terus memohon agar Devonshire memberinya belas kasihan.
“Apa kau pernah berpikir betapa kejamnya aku sebelum memutuskan untuk berkhianat?” tanya Devonshire di depan wajah Martin, yang tampak begitu jelas sedang ketakutan.
“Maafkan aku... Maafkan aku, Emperor. Aku... Aku tau aku salah. Ma... AAAAAARRRRGGGHH...,” ucap Martin yang berakhir dengan teriakan, setelah tiba-tiba Devonshire menghantam dengan cambuk kesayangannya itu.
AAAAARRRRGGHHHHHH!!
Darah segar terus mengalir dari bekas cambukan itu. Kulitnya sudah tak berbentuk, rusak parah akibat tercabik duri tajam. Martin benar-benar disiksa habis-habisan oleh Devonshire yang marah, karena hampir terbujuk oleh hasutan King-nya itu.
Setelah pertempuran di dermaga, Martin sering mengarahkan opini dan mengatakan bahwa Mac duff serta Jordan bisa jadi adalah mata-mata musuh. Terlebih Jordan yang begitu misterius.
Menurut Martin, meski dia terlihat seperti orang b*doh, akan tetapi dia terus menjadi mata ke tiga Ardiaz dalam menghadapi orang-orang yang ingin berbuat curang dan bermain kotor dengannya.
Semua informasi penting yang bahkan tak bisa didapatkan oleh Damian, bisa didapatkan Ardiaz berkat bantuan dari Jordan.
Martin selalu mencari kesalahan Ardiaz dan orang-orang yang dekat dengannya, karena sejak awal kemunculan King palsu itu, Martin selalu saja tidak suka dan merasa iri atas apa yang didapatkannya.
Dia merasa Ardiaz adalah batu sandungannya untuk mendapatkan posisi Emperor selanjutnya. Sehingga, dia pun ingin perlahan-lahan menyingkirkan orang-orang kepercayaannya dengan cara menghasut Devonshire, agar Ardiaz tak memiliki pendukung lagi.
Bahkan saat Devonshire berusaha menyelidiki tentang keterlibatan kelompok luar dalam penyerangan itu, Martin sengaja membelokkan fakta agar sang Emperor terus menaruh curiga terhadap Jordan.
Namun, Martin salah perhitungan. Semua orang di dalam Lucifer memihak Ardiaz. Bahkan alexa dan Damian sekalipun.
Dia tak sadar bahwa dirinya hanya sendirian, dan terus meninggalkan jejak kejahatan melalui kata-kata dustanya.
__ADS_1
Ardiaz, Mac duff dan Jordan sudah lama mengumpulkan bukti penghianatan Martin pada Devonshire dan Lucifer. Namun, mereka masih menyimpannya hingga waktu yang tepat.
Hingga saat Jordan melihat Martin berada di tempat Evangeline disekap, barulah dia bergerak dan memberitahukan semuanya kepada Devonshire.
Untuk pertama kalinya juga dia menunjukkan kebohongan yang selama ini dia lakukan.
Sebenarnya, Jordan tak pernah mengalami cedera otak. Dia hanya berpura-pura agar Ardiaz bisa terus berpura-pura menjadi dirinya, adik dari Emperor Lucifer, sekaligus memantau keadaan Organisasi gelap itu secara diam-diam tanpa menarik perhatian.
Sebenarnya, tanpa berpura-pura pun, Ardiaz masih akan terus menjadi dirinya, mengingat misinya mencari tahu keberadaan pembunuh Orang tuanya.
Bahkan orang yang pertama mengetahui kebohongannya itu adalah Ardiaz. Meski begitu, dia tetap diam dan bersikap seolah tak tahu apapun.
Hal ini berawal dari kecurigaan sang King palsu, merasa ada yang aneh dengan Jordan.
Seseorang yang mengalami cedera otak tak akan mungkin bisa dengan cekatannya menggunakan teknologi secanggih itu, meski bisa saja itu terjadi karena memori tubuhnya.
Dia tetap diam dan berpura-pura tak tahu, dan terus memantau setiap tindakan sang rekan. Selama tak membahayakan dirinya dan yang lain, dia akan terus berpura-pura tak tahu.
Saat Ardiaz koma, Mac duff membawa Jordan untuk tinggal di kastil Joker. Pada saat itu, sang Duke tak sengaja melihat Jordan yang sedang melakukan latihan fisik di dalam kamarnya pada malam hari.
Dari sanalah dia tahu juga bahwa Jordan selama ini hanya berpura-pura. Sedangkan Joker sejak awal memang sudah bekerja sama dengan adik Devonshire itu untuk menutupi kebohongannya tersebut.
Setelah penyerangan itu, Alexa menjadi condong ke kubu Ardiaz, terlebih karena King palsu itu sudah berkorban untuk menyelamatkan dirinya dari tembakan penyerang.
Melihat kesungguhan Alexa, Joker pun mengatakan hal yang sebenarnya mengenai Ardiaz, Mac duff dan juga Jordan.
Setelah Alexa mengetahu hal tersebut, dia pun semakin yakin bahwa pilihannya bergabung dengan pihak Ardiaz sudah sangat tepat.
Ditambah penghianatan Martin yang membuat kekalahan besar di tubuh Lucifer, sudah pasti akan membuat Devonshire marah besar.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih