
Hari berganti, dan Mac duff belum bisa membawa Evangeline untuk melihat kondisi Ardiaz. Namun, gadis itu mencoba tegar dan tetap menjalani hidupnya seperti biasa.
Dia juga tetap mengerjakan tugasnya di Merciful, meski di sana dia justru semakin teringat akan Ardiaz.
Sementara di rumah sakit, Mac duff yang terus berada di luar ruangan Ardiaz, selalu menolak mendapatkan perawatan untuk lukanya.
Alexa yang beberapa kali datang dan membujuknya pun selalu gagal.
“Apa kau mau ikut dengannya terbaring sekarat di sana juga, hah?” seru Alexa.
Mac duff masih diam bergeming. Hanya ekor matanya saja yang melirik wanita seksi itu, dan kemudian kembali menatap lurus ke depan.
“Delta, aku tau kau terpukul dengan kejadian ini. Tapi kau juga masih punya tanggung jawab untuk menjaganya. Kalau kau juga tumbang, apa kau mau si Martin itu yang menggantikanmu menjaga Alpha?” tanya Alexa.
Mac duff masih pada pendiriannya. Hal itu membuat Alexa kesal dan akhirnya berbalik berjalan pergi dari sana.
Mac duff hanya bisa melihat kepergian wanita itu dengan tatapan datar, seolah tak peduli apapun lagi selain keselamatan Ardiaz.
Tak berapa lama, Alexa kembali datang dengan membawa kereta dorong berisikan alat-alat kedokteran yang ia pinjam dari pos perawat di lantai tersebut.
Mac duff pun menoleh karena mendengar suara roda bergulir di atas lantai, dan mendapati Alexa yang sedang berjalan mendorong sesuatu.
“Apa yang kau...,” tanya Mac duff.
“Duduklah!” seru Alexa.
Wanita itu menarik Mac duff untuk duduk di kursi tunggu yang ada di sana. Namun, pria itu menepis tangan Alexa dengan kasar.
“Apa perlu ku seret gadis kecil itu kemari dan memintanya merawatmu, hah?” ucap Alexa kesal.
Mac duff pun menatap tajam ke arah wanita itu, dengan kening yang berkerut dan mata memicing.
“Aku tau kau sedang memperhatikan gadis itu. Gadis yang selalu datang ke klub mu akhir-akhir ini, dan bahkan pernah membuat janji kencan dengan mu,” ungkap Alexa.
Seketika, pikiran Mac duff tertuju pada Evangeline. Rupanya, Alexa mengira bahwa istri Ardiaz itu memiliki hubungan dengannya.
Wanita seksi yang selalu menggoda Ardiaz tersebut, sepertinya belum tau bahwa saat itu Evangeline tengah mencari keberadaan sang suami melalui Mac duff.
“Kenapa? Apa kau benar-benar ingin aku menyeretnya kemari?” tantang Alexa.
__ADS_1
Mac duff tetap diam dan seolah tak peduli. Hal itu membuat Alexa semakin kesal.
Wanita tersebut kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam tas yang berada di atas kereta dorong itu.
Dia nampak menghubungi seseorang dengan benda tersebut.
“Pergilah ke Merciful. Bawa kemari mahasiswa magang di sana yang bernama Evangeline Hemachandra. Sekarang,” seru Alexa.
Mac duff seketika menoleh saat mengetahui Evangeline adalah mahasiswa magang di perusahaan kamuflase itu.
Memang tempo hari mereka menemukan gadis itu pingsan di area parkir bawah tanah gedung tersebut, tapi dia tak mengira jika istri Ardiaz itu akan melakukan hingga sejauh itu demi menemukan suaminya.
Dia bahkan sudah mencari tahu bagaimana gadis itu bisa sampai di sana, namun dia tak mendapatkan data apapun seolah ada yang menutupinya.
Alexa melihat reaksi tersebut jelas tergambar di wajah Mac duff. Dia pun menyimpan kembali ponselnya dan melipat kedua lengannya di bawah dada.
“Kenapa? Apa kau penasaran bagaimana aku bisa tahu dia magang di sana sementara kau tidak? Ku kira kau pintar, jadi pasti sekarang kau pasti sudah bisa menebaknya bukan,” ucap Alexa.
“Sejak kapan?” tanya Mac duff.
“Heh, sekarang kau bahkan tertarik berbicara padaku karena gadis ini. Benar-benar sangat jelas hubungan kalian,” sindir Alexa.
Alexa yang sejak tadi tersenyum sinis, kini menatap lurus ke dalam mata Mac duff, seolah menembus kedua manik hitam keabuan milik pria seksi itu.
“Sejak aku melihat kau menggendongnya yang pingsan di parkiran Merciful, dan membawanya masuk ke dalam mobil malam itu. Aku melihat kau begitu panik. Bukankah itu menarik, saat seorang player seperti mu peduli pada gadis bod*h macam dia?” ungkap Alexa.
Mac duff tak lagi menjawab. Keduanya saling pandang dengan raut wajah yang sama-sama mengeras.
...❄❄❄❄❄...
Di tempat lain, di perusahaan multi sektoral, Merciful, Evangeline yang tengah mengerjakan tugas magangnya, baru saja keluar dari kantor personalia.
Di meminta agar masa magangnya dipercepat, mengingat dia yang juga harus menyusun laporan. Disamping itu, data yang diperoleh pun sudah cukup baginya.
Bagian personalia sedang mempertimbangkan, dan mengingatkan kembali pada Evangeline bahwa dia sudah menandatangani surat perjanjian pra magang, dimana dia tak boleh mempublikasikan apapun dari perusahaan yang bersifat rahasia.
Dia hanya boleh membuat laporan menggunakan data yang memang disetujui. Sehingga dia pun nantinya harus kembali lagi kemari setelah laporannya selesai disusun, untuk melalui proses editing bila mana masih terdapat informasi yang tidak diperbolehkan.
Evangeline tahu itu dan dia paham betul harus menyusun laporan seperti apa. Bagaimanapun juga, dia adalah calon penerus bisnis ayahnya, yang telah berjuang mempertahankan perusahaan Hemachandra dari kehancuran, ketika Aaron melukai sang ayah.
__ADS_1
Proses akan berlangsung sekitar dua sampai tiga hari. Selama menunggu, Evangeline masih harus bekerja di sana seperti biasa.
Saat ini, dia tengah berdiri di depan lift, dan hendak kembali ke divisi pemasaran. Namun, tiba-tiba sekelompok pria berjas hitam berjalan menghampirinya dan membuat Evangeline terkejut.
“Apa Anda bernama Evangeline Hemachandra?” tanya salah satu pria itu.
“Be... Benar. Ada apa kalian mencari ku?” tanya Evangeline bingung.
“Mari ikut kami,” seru pria tadi.
Evangeline nampak mundur, namun segera ditangkap oleh orang-orang tersebut. Gadis itu ketakutan karena tak tahu akan dibawa kemana dan apa alasan dia dibawa pergi.
Dia meronta mencoba melepaskan diri, namun mereka seolah tak peduli dan terus menyeret pergi Evangeline dari sana. Sekeras apapun mencoba, tenaganya tak mungkin bisa menandingi kekuatan pria-pria ini.
Semua orang pun bahkan melihatnya dan tak ada satupun yang berani menolong gadis itu.
“Lepaskan aku. Mau apa kalian membawaku seperti ini?” ronta Evangeline.
Tangannya sampai sakit karena cengkeraman mereka benar-benar kuat.
“Lepaskan!” pekik Evangeline.
Sesampainya di parkiran, seseorang sudah menunggu mereka dan membuka pintu belakang.
Dengan kasar, para pria itu memasukan gadis itu ke dalam mobil, dan mengapitnya hingga dia tak bisa kemana lagi.
“Tolong jelaskan ada apa ini? Kemana kalian akan membawaku?” tanga Evangeline.
Namun, tak ada seorang pun yang berniat menjawab pertanyaannya. Evangeline semakin takut.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih