A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Rencana melarikan diri


__ADS_3

Mac duff membuka sedikit pintu dan melihat seorang penjaga berdiri tepat di depan wajahnya.


Dia kemudian menusukkan pisunya ke pinggang penjaga tersebut, dan membuat sayatan yang lebar, hingga dia tumbang seketika.


Hal itu membuat teman yang ada di depannya mendekat, dan langsung ditarik masuk ke dalam ruangan begitu sampai di depan pintu.


Di dalam sana, Mac duff langsung membunuh penjaga itu dengan pisaunya, akan tetapi penjaga tersebut sempat berteriak dan membuat orang diluar terkejut, kemudian berlarian ke arah suara teriakan berasal.


Hal itu dimanfaatkan Mac duff untuk berlari keluar dan mengalihkan perhatian semua orang.


Sementara di dalam, sudah tak terlihat siapapun lagi, dan hal itu membuat penjaga melaporkannya kepada Martin dan Morgan.


Mereka tak melihat bahwa sebenarnya Evangeline dan Ardiaz, masih bersembunyi di balik pintu yang begitu gelap, dan diam-diam keluar saat semua orang sibuk mengejar Mac duff.


Dia mencari jendela atau pintu keluar terdekat, dan segera membawa sang istri untuk diberi pertolongan.


Evangeline semakin lemah dan celananya semakin basah oleh darah yang entah dari mana berasal.


Keringat dingin terus keluar, seiring keningnya yang selalu mengernyit akibat kesakitan.


“Bertahanlah, Eva,” ucap Ardiaz.


Dia menggendong istrinya di punggung, dan berlari secepat mungkin sebelum mereka menyadari keberadaannya.


...❄❄❄❄❄...


Sementara itu di tempat Mac duff berada, dia sudah dikejar oleh banyak orang dan bahkan sudah tak bisa lari lagi, karena di depan pun dia sudah dihadang oleh pasukan yang memang berjaga di arah tersebut.


Dia pun berhenti dan bersiap untuk bertarung melawan orang sebanyak itu. Bukan hal baru baginya untuk berhadapan dengan lawan yang berjumlah banyak, terlebih mereka tak memiliki senjata api. Ini biasa terjadi saat dia masih berada di kastil Joker.


Mereka maju bersamaan, melawan satu orang. Demi mengalihkan perhatian lawan, Mac duff pun berbalik dan meladeni semua orang.


Pukulan dan tendangan kerasnya berhasil menumbangkan satu persatu pasukan Martin, meski tak dipungkiri juga bahwa dia terkena pukulan di sekujur badannya.


Namun dia terus berusaha bertahan, setidaknya hingga Ardiaz dan Evangeline berhasil menyelinap keluar dari gudang kayu tersebut.


Akan tetapi, di tengah pertempuran itu, beberapa pasukan terlihat mundur, dan membuat Mac duff kehilangan konsentrasi.


Seorang anak buah Martin melihat celah tersebut dan memukul tengkuk Mac duff, hingga dia terhuyung dan jatuh ke tanah.


Semuanya pun maju dan menghajar Mac duff beramai-ramai. Di saat itulah, dia mendengar sayup-sayup bahwa bos mereka meminta pasukan untuk menuju ke sisi yang lain, karena tawanan wanita itu kabur ke arah tersebut.


Hal itu pun sontak membuat Mac duff khawatir akan nasib Ardiaz dan juga Evangeline. Dia lalu mencoba untuk kembali melawan dan segera menyusul ke sana, akan tetapi posisinya sangat tidak menguntungkan sekarang.


Dalam keadaan genting, dia teringat pisau yang tadi sempat disembunyikan di balik jaketnya. Mac duff mengambil benda tajam itu dan mulai menyayat kaki musuh hingga mereka semua berjatuhan.

__ADS_1


Melihat sudah tak ada lagi orang di sana, Mac duff pun segera berlari ke arah sebaliknya, di mana Ardiaz dan Evangeline berada.


...❄❄❄❄❄...


Di tempat lain, tepatnya di jalanan menuju hutan selatan, nampak mobil yang dikemudikan Malcolm sedang melaju dengan perlahan sembari melihat ke sekeliling.


Dia seperti sedang mencari sesuatu di sepanjang jalanan tersebut.


“Kemana mobil ayah? Kenapa bisa hilang di perempatan sana? Aku yakin mereka pasti pergi ke mari. Tak ada jalan lagi selain mengikuti jalan ke hutan ini sesuai yang dikatakan wanita tadi,” gumamnya.


Rupanya, dia kehilangan jejak Morgan saat dia mengikuti pria paruh baya tersebut dari kantornya.


FLASHBACK...


Malcolm yang menyadari sesuatu yang aneh dari gerak gerik sang ayah, dan memutuskan untuk mengikuti kemana pria itu pergi bersama asisten pribadinya.


Namun saat berada di jalanan, mobil Morgan melaju dengan zigzag, seolah tengah mengecoh Malcolm yang terus mengikutinya.


Hingga tiba di perempatan terakhir sebelum masuk ke jalur pegunungan selatan, mobil Morgan tiba-tiba melaju cepat sebelum lampu berubah merah.


Saat Malcolm hendak mengejar, sebuah mobil kontainer ganda melaju di depannya, membuat Mac duff tak bisa mengikuti mobil sang ayah.


Saat lampu berubah merah dan mobil kontainer itu sudah menghilang, dia pun tak lagi melihat keberadaan mobil Morgan di jalanan.


Dia pun melajukan kembali mobilnya dan menuju ke jalur selatan, berdasarkan petunjuk terakhir yang dia dapat.


Namun, sudah sejak tadi dia berkendara, dan belum ada petunjuk yang ditemukan.


Saat dia sampai di kastil Joker, Malcolm sempat berpikir bahwa sang ayah mungkin ada di sana. Dokter itu bahkan sampai mencoba masuk dan membuat keributan di tempat tersebut.


Joker yang melihat kehadiran pria yang dikenalnya pun keluar dan menemui Malcolm.


“Ada perlu apa Tuan Muda Andara kemari?” tanyanya.


Malcolm tak terkejut sama sekali mendengar Joker menyebut namanya. Dari tato yang dimiliki Joker, sudah pasti bahwa dia adalah salah satu anak buah Lucifer.


“Di mana ayahku?” tanyanya.


Joker terlihat memicingkan matanya dan kening yang berkerut.


“Apa Anda sedang mencari Tuan Andara? Beliau tidak berada di sini. Sepertinya Anda salah tempat,” ucap Joker.


Namun, Malcolm tak begitu saja percaya pada King bertubuh besar itu.


Dia bahkan kembali berjalan dan mendekat ke arah Joker.

__ADS_1


“Aku tau kalian bekerja sama dengan ayahku saat membantai keluarga Danurendra. Tapi sekarang, aku tak akan pernah membiarkan kalian berbuat macam-macam pada Ardiaz dan juga Eva,” ucap Malcolm.


Joker seketika menoleh dan menatap lurus ke dalam manik hitam Malcolm.


“Apa Alpha dan Eva dalam masalah sekarang? Cepat katakan!” seru Joker.


Melihat rekasi Joker, Malcolm menjadi bingung akan situasinya. Tiba-tiba dari arah dalam, muncul seorang wanita cantik dan seksi mengenakan jaket kulit hitam dan celana serupa.


“Joker, aku mendapat kabar dari Vermont bahwa istri Alpha dise... kap...,” ucap Alexa.


Mendengar hal itu, Joker begitu terkejut dan seketika berbalik ke arah wanita cantik tersebut, begitu juga dengan Malcolm.


Dia kini tahu bahwa bukan mereka pelakunya, melainkan orang lain yang bekerja sama dengan sang ayah.


Malcolm pun beralih mendekat ke arah Alexa berada dan mencecarnya. Dia bahkan sampai menarik kerah jaket wanita itu sebelum mengajukan pertanyaan.


“Di mana... Di mana mereka di sekap? Aku yakin kau tau informasinya bukan,” cecar Malcolm.


Alexa melirik ke arah Joker, dan melihat pria bertubuh besar itu mengangguk pelan.


“Hutan selatan. Mereka menyekap gadis itu di sana,” ungkap Alexa.


Malcolm seketika melepas cengkeramannya dari jaket Alexa dan berbalik pergi meninggalkan semua orang.


“Tuan muda, sebaiknya Anda pergi bersama kami. Tempat itu asing untukmu,” bujuk Joker.


Namun, Malcolm tak peduli dan terus pergi dari sana.


“Joker, masuklah. Ada yang ingin dikatakan Devon padamu,” ucap Alexa sembari melihat kepergian Malcolm.


Mereka pun membiarkan dokter muda itu pergi, meski dia tak tahu harus kemana dan di mana tepatnya Evangeline disekap.


FLASHBACK END.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2