
“Waktu kalian sudah habis. Nona cantik, saatnya kau membuat keputusan,” ucap Martin.
Morgan dan King interogator itu berjalan mendekati ketiga tawanannya. Ardiaz yang melihat musuh mendekat, mundur dan menghadang di depan sang istri yang masih kesakitan.
“Jangan mendekat, atau ku patahkan tangan dan kaki kalian,” ancam Ardiaz.
Mendengar hal itu, Morgan justru terbahak dan berakhir dengan meludah ke samping.
“Kau benar-benar tak tahu malu. Apa kau tak lihat kalau kau sudah kalah sekarang? Tidak ada jalan keluar untuk kalian pergi hidup-hidup dari sini, kecuali wanita itu setuju dengan perintahku,” ucap Morgan.
Ardiaz menoleh melihat sekelilingnya. Memang sudah tak ada jalan lagi baginya. Semua sudah tertutup. Dia pun menoleh ke belakang, melihat kondisi sang istri yang tampak semakin lemah.
“Sepertinya, istrimu itu sedang tidak baik-baik saja. Sebaiknya kau bujuk dia agar mau bersepakat denganku, dan dia bisa segera pergi dari sini,” seru Morgan.
“Tidak... Aku tidak mau... Aku tidak bisa menuruti perkataanmu. Itu gila...,” ucap Evangeline tiba-tiba.
Suaranya terdengar bergetar dan lemah. Ardiaz merasa bersalah karena tak bisa segera membawanya pergi mencari bantuan.
Dia pun mendekat dan memeluk sang istri dari samping, merasakan betapa dinginnya tubuh wanita itu.
“Eva, kau tidak baik-baik saja. Apa kau masih bisa bertahan? Apa...apa sebaiknya kau...,” ucapnya putus asa.
Dia tak tega melihat Evangeline terus menahan sakit dan kehilangan lebih banyak darah dari ini.
Namun, wanita itu meraih tangan sang suami dan menggenggamnya.
“Aku... akan mati... dengan tetap... menjadi... istrimu...,” ucap Evangeline terbata.
Ardiaz menggeleng. Dia tak kuasa menahan genangan di pelupuk matanya melihat sang istri meregang nyawa di depan mata.
Mac duff pun tak bisa melakukan apapun. Tangan dan kakinya di cekal oleh anak buah Martin.
Mendengar penolakan Evangeline yang kesekian kali, membuat Morgan kesal. Dia pun merebut pistol dari tangan Martin, dan membidikkannya ke arah pasangan tersebut.
“Baiklah kalau itu keputusanmu, maka akan ku akhiri semuanya di sini,” ucap Morgan.
“HENTIKAN!” pekik seseorang.
Semuanya pun menoleh ke arah suara tersebut. Morgan terkejut melihat siapa yang sudah berdiri di depan pintu gudang.
“Malcolm,” ucapnya lirih.
Rupanya, dokter itu berhasil menemukan keberadaan gudang kayu tersebut.
“Hentikan semua ini. Berhentilah berbuat dosa, Ayah. Aku mohon,” pinta Malcolm.
__ADS_1
Ardiaz dan Evangeline saling pandang melihat kedatangan dokter muda itu ke tempat tersebut, begitu pun Mac duff yang sejak tadi menatap lurus ke arah Malcolm.
Putra tunggal Andara itu maju mendekat, dan berdiri di depan Ardiaz dan juga Evangeline.
“Lepaskan mereka, Ayah. Aku mohon,” pintanya lagi.
Dia menoleh ke belakang, di mana Ardiaz masih memeluk sang istri yang semakin lemah.
Malcolm sampai membelalak saat menyadari kondisi Evangeline. Dia bahkan tak habis pikir kenapa bisa ada banyak darah yang keluar dari bagian bawah wanita itu.
Jangan-jangan..., terkanya.
Dia menatap Ardiaz yang masih setia berada di samping istrinya, lalu kembali menatap ke depan, menghadapi sang ayah yang nampak mulai marah dengan kehadirannya.
“Aku akan membawa mereka keluar. Entah ayah setuju atau tidak,” ucap Malcolm.
“Apa kau pikir ayah akan dengan mudah melepas mereka, hanya karena kau yang meminta?” ejek Morgan.
Melihat sang ayah yang seperti tak akan goyah, Malcolm mengambil sesuatu dari balik jasnya.
Morgan membola melihat sebuah pistol keluar dari sana dan dengan sengaja ditodongkan ke pelipis Malcolm sendiri.
“Aku akan menjadi sandra mereka. Jika Ayah tak mau melepaskan mereka bertiga, maka aku akan menembak kepalaku sendiri dengan benda ini,” ancam Malcolm.
Namun, Malcolm tak peduli dengan bujukan sang ayah.
“Delta, ambil alih pistol ini. Lalu kau Alpha, gendong istrimu dan berjalanlah di depan,” seru Malcolm.
Mac duff dan Ardiaz saling pandang dan mengangguk. Sang Duke melepaskan diri dari pasukan Martin yang sudah melonggarkan jarak darinya atas perintah sang King. Sementara Ardiaz, dia langsung mengangkat tubuh Evangeline dan berjalan di depan.
Dengan berjalan mundur, Mac duff dan Malcolm keluar dari sana.
“Bagaimana ini, Bos?” tanya Martin.
“Tunggu mereka lengah. Kita tangkap putraku dan tembak mereka bertiga,” seru Morgan.
Martin mengerti. Dia pun memerintahkan semua anak buahnya yang berada di dalam gudang untuk menyingkir dari jalan, sementara para penembak yang ada di luar, diminta untuk berjaga dan bersiap membidik.
Saat keempat orang itu sampai di dekat mobil Malcolm ynag terparkir di depan gudang, dokter itu melihat sebuah cahaya merah yang mengarah ke punggung Ardiaz.
Tiba-tiba sesuatu terjadi. Mac duff mengerang kesakitan setelah sesuatu mengenai punggungnya.
Malcolm baru menyadari bahwa di luar sudah banyak sniper yang menunggu mereka lengah.
Tak berselang lama, Ardiaz pun terjatuh karena kakinya terkena tembakan dari anak buah Martin.
__ADS_1
Melihat rekan-rekannya tumbang, membuat Malcolm waspada. Dia pun melihat Evangeline yang sudah tak bisa lagi bangun dan hanya pasrah tergeletak di pangkuan suaminya.
Malcolm semakin panik ketika titik merah kembali mucul dan berkumpul begitu banyak, mengarah ke satu bagian tubuh paling vital temannya.
Tiba-tiba, suara tembakan beruntun terdengar dari dalam hutan, membuat semua orang terkejut dan menoleh ke arah tersebut.
“Alpha, Delta, cepat sembunyi!” pekik sebuah suara berat yang sangat mereka kenal.
Ardiaz nampak tersenyum lega mendengar suara tersebut.
“Lihat... Mereka datang bukan?” ucapnya kepada Mac duff.
Keduanya pun tersenyum dan kembali mencoba bangkit di tengah pertempuran.
Nampak dari kejauhan, sebuah sinar dari lampu mobil terlihat melaju ke arah mereka. Sebuah kendaraan berlapis anti peluru berhenti tepat di depan mereka.
“Cepat masuk!” seru seorang pemuda yang tak lain adalah Damian.
Keempat orang itu pun segera masuk ke dalam mobil yang dibawa Damian dan pergi dari sana.
“Siapa saja yang datang?” tanya Mac duff.
“Semua orang,” sahut seseorang yang duduk di depan bersama Damian.
Mac duff memicingkan matanya mencoba melihat orang tersebut. Dari perawakannya, dia seperti mengenal sosok tersebut, akan tetapi dia tak yakin dengan tebakannya.
Secara mengejutkan, sosok itu menoleh ke belakang, dan mandangi setiap orang yang baru saja diselamatkan.
Ardiaz dan Mac duff seolah tak begitu terkejut, akan tetapi tidak dengan Malcolm.
“Kau...,” panggilnya.
“Ya, ini aku, Charlie. Lama tidak bertemu, Beta,” sapa Jordan alias Charlie, adik kandung Devonshire, sang King yang asli.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1