
Malam datang, membuat suasana di ruang rawat Evangeline begitu senyap. Wanita itu masih tertidur, meski bibirnya sering mengigau dan menangis lirih.
Ardiaz merasa bersalah kepada sang istri, karena dia harus tahu kenyataan menyakitkan itu dengan cara seperti ini.
Dia pasti sangat terpukul, batin Ardiaz.
Pria tersebut terus menggenggam tangan sang istri sambil sesekali menciuminya.
Tiba-tiba, terdengar Evangeline kembali menyerang lirih, dengan kepala yang bergerak tak tenang. Keningnya berkerut dengan mata yang nampak menutup rapat.
Ardiaz pun bangun dari duduknya dan mengusap lembut puncak kepala sang istri, sambil membisikkan sesuatu di telinga Evangeline.
“Sayang... Tenanglah. Sayang,” panggil Ardiaz.
Seketika, mata wanita itu terbuka. Dia langsung menatap sang suami yang berada tepat di depannya.
Matanya kembali berkaca-kaca, dan hal itu membuat Ardiaz tak tahan, lalu memeluk erat sang istri.
“Tenanglah. Biarkan dia pergi dengan tenang, hem. Kau harus merelakannya,” ucap Ardiaz dengan suara yang bergetar.
Pria itu mencoba sekuat hati menahan kesedihannya. Saat ini, hanya dia yang dimiliki Evangeline. Ardiaz tak mungkin bersikap lemah ketika sang istri justru membutuhkan sandaran.
“Kenapa harus begini? Aku... Aku bahkan tidak tau kalau dia ada. Ibu macam apa aku,” rutuk Evangeline pada dirinya sendiri.
“Sayang, ini bukan salahmu. Dia masih terlalu kecil. Bahkan kau juga belum merasakan reaksi apapun. Tenanglah, hem,” bujuk Ardiaz.
Evangeline kembali menangis dalam pelukan sang suami.
Namun, tatapan matanya tertuju pada sebuah bendayanh tergeletak di atas meja. Dia tiba-tiba mengurai pelukan Ardiaz dan mencoba duduk.
Dia menatap ke sebuah arah, dan Ardiaz mengikuti arah pandangan istrinya. Terlihat seikat bunga krisan yang tadi siang dipetik oleh Ardiaz untuknya.
“Setidaknya, aku ingin melakukan kewajibanku sebagai seorang ibu,” ucap Evangeline.
Ardiaz menoleh dan menatap wajah sang istri. Evangeline pun balas menatap Ardiaz dengan seulas senyum tipis.
__ADS_1
“Ayo kita buatkan sebuah pemakaman untuknya,” lanjut Evangeline Dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Dengan dada yang terasa kembali sesak, Ardiaz pun mengiyakan permintaan sang istri.
...❄❄❄❄❄...
Hari-hari berlalu. Tak terasa sudah lewat satu bulan sejak kejadian penculikan Evangeline.
Wanita tersebut pun kini sudah pulang ke apartemen. Dia dan sang suami menunda kepulangan mereka ke Wisteria, karena ingin mengawal proses pengadilan Morgan.
Saat ini, pengadilan sudah hampir memasuki babak terakhir, dimana vonis akan dibacakan pada pengadilan selanjutnya yang diagendakan dua hari mendatang.
Meski pergerakannya telah dilumpuhkan oleh Lucifer, akan tetapi Morgan masih bisa menghilangkan saksi kunci kasus pembantaian satu keluarga sepuluh tahun yang lalu.
Howard, sebagai satu-satunya saksi dalam kasus tersebut, tiba-tiba menghilang dan tak lama ditemukan tewas mengapung di aliran sungai besar yang melintas di tengah Kota Orchid.
Penemuan mayat Howard bahkan sempat membuat gempar penduduk kota, dan menjadi pemberitaan hangat karena sosok tersebut memiliki kaitan dengan seorang tersangka kasus kriminal berat.
Namun, Morgan rupanya masih belum menyerah. Dia sampai bisa melenyapkan Howard karena meminta bantuan dari sekutunya yang juga sempat bekerja sama saat kejadian di dermaga.
Beruntung, Lucifer bergerak cepat hingga mereka bisa menyingkirkan antek Morgan dan kembali membuat penjahat tersebut tersudutkan.
Dokter itu berharap bahwa Morgan bisa merenungkan kesalahannya, setelah tertangkap. Akan tetapi, pria paruh baya tersebut justru semakin menjadi dan kembali membuat kejahatan.
Kekecewaannya semakin menjadi, ketika dia mengunjungi sang ayah sebelum sidang vonis berlangsung dua hari yang akan datang.
“Sampai kapan Anda akan terus seperti ini? Perbuatanmu hanya akan menambah panjang masa hukumanmu,” ucap Malcolm.
“Diam kau! Kau itu benar-benar anak tak berguna. Ayahmu ini melakukan semua itu untuk mu. Agar hidupmu selalu berkecukupan. Agar kau tak mengalami kesulitan seperti ku. Tapi apa? Kau sama sekali tak mau membantu ayahmu ini, dan justru bergabung dengan musuh untuk melawanku,” maki Morgan kepada putranya.
Nampak Malcolm tersenyum getir melihat sikap sang ayah yang benar-benar tak lagi dikenalnya.
“Anda bilang ini untuk ku?” tanya Malcolm.
Dokter itu merasa muak dengan ucapan sang ayah.
__ADS_1
“Satu hal yang perlu Anda tahu, aku tidak pernah meminta kehidupan yang seperti ini. Apa anda tahu, sejak dulu aku selalu kesepian. Aku selalu sendirian di rumah besarmu. Yang kubutuhkan bukan gelimangan harta, melainkan sosok ayah yang bisa menjadi panutanku.”
“Jika memang ini dimulai karena aku, maka akan kutinggalkan semua kemewahan yang kau berikan itu. Perkataan Anda semakin membuatku yakin dengan keputusan yang telah ku buat,” lanjut Malcolm.
“Apa kau pikir, kau bisa hidup tanpa semua harta itu, hah? Kau hanya akan menjadi bajingan yang sama seperti berandalan Lucifer itu,” maki Morgan.
“Setidaknya mereka masih memiliki hati. Hubungan mereka benar-benar erat, meski bukan saudara sedarah. Berbeda denganku yang bahkan tak merasakan hangatnya pelukan ayahku sendiri,” sahut Malcolm.
Morgan nampak tak senang dengan jawaban Malcolm.
Dokter muda itu pun sudah tak sanggup berlama-lama bersama dengan ayahnya, yang saat ini benar-benar sudah tak ia kenal sama sekali.
Malcolm pun bangkit berdiri dan berjalan ke luar. Namun saat baru membuka pintu, dia kembali berhenti dan menoleh sekilas.
“Aku tidak akan hadir di persidangan mu lusa nanti. Pesawat ku berangkat esok. Semoga kau tak akan pernah merasa kesepian,” ucap Malcolm.
Dia kemudian berjalan keluar meninggalkan sang ayah yang nampak meradang di dalam sana.
Terdengar Morgan yang kembali memaki Malcolm dengan berteriak dengan kencang, hingga bisa terdengar sampai ke ujung lorong.
Malcolm tetap berjalan hingga ke luar gedung tahanan kejaksaan tanpa menoleh sedikit pun.
Sampai di depan gedung kejaksaan, Malcolm nampak berbalik menatap kantor pemerintahan tersebut.
Dia menatap sendu tempat itu. Lalu tiba-tiba, dia membungkukkan badannya hingga sembilan puluh derajat, seolah tengah memberi hormat kepada seseorang yang sangat ia hormati.
Cukup lama dia membungkuk hingga nampak bahunya berguncang. Sepertinya, dokter muda itu tengah menangis mengingat kekerasan hati sang ayah, yang hingga akhir sama sekali tak mau bertobat, dan menyesali perbuatannya.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih