A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Menunggu


__ADS_3

Gedung Merciful yang berdiri kokoh menjulang hingga ke awan. Malam ini Vermont kembali mengundang ke empat King-nya untuk hadir di pertemuan malam.


Saat ini, Ardiaz, Alexa, Joker serta Martin sudah tiba di sana. Nampak pula Mac duff, Damian serta Jordan yang juga ikut dalam pertemuan ini bersama King Mereka.


Keempat petinggi Lucifer itu datang dengan mobil dan pengawal masing-masing, akan tetapi tiba secara bersamaan, sehingga menimbulkan keributan kecil akibat iring-iringan itu.


Mereka keluar dari mobil dan saling tatap. Seperti biasa, Alexa selalu mendekati Ardiaz dan mencoba menggoda pria tersebut.


Begitu juga kali ini, dia kembali hendak merangkul lengan suami Evangeline itu. Namun, belum sempat terjadi, Ardiaz balas menatapnya dengan tajam dan begitu dingin.


Alexa pun menarik kembali senyum menggodanya dan mengurungkan niatnya tadi. Wanita itu balas menatap Ardiaz sambil melipat kedua lengan di bawah dada.


“Apa kau masih marah dengan ucapanku sebelumnya, hem?” tanya Alexa.


“Aku tidak peduli dengan omong kosongmu itu. Tapi, kau sudah membuatku marah karena berani menyentuhku,” sahut Ardiaz dingin.


Pria itu lalu berjalan mendahului Alexa, menyusul Joker dan Mac duff yang lebih dulu masuk ke dalam lift.


Martin yang lagi-lagi melihat seorang Alexa di tolak pun tergelak, dan bahkan bertepuk tangan. Hal ini semakin membuat wanita cantik nan seksi itu kesal.


“Sepertinya, dia sudah memutuskan untuk menjadi biksu. Jika dia pria normal, dia tak akan mungkin bisa menolak pesona mu ini. Atau mungkin, hatinya memang hanya untuk gadis pemilik Enel itu,” sindir Martin, sembari merangkul pundak Alexa.


Wanita itu hanya melirik sekilas ke arah Martin. Dia pun menyingkirkan tangan pria tersebut dari bahunya, dan lalu berjalan menyusul Ardiaz serta Jordan yang baru saja masuk lift.


Martin kembali tergelak sambil berjalan mengikuti wanita itu.


Sementara Di tempat yang sama, seorang gadis rupanya sejak tadi bersembunyi di balik sebuah pilar besar, yang menyangga bangunan basement di gedung Merciful.


Dia mendengar semua pembicaraan antara Ardiaz dan juga Alexa, serta Martin yang mengolok-olok wanita cantik itu karena selalu gagal mendapatkan perhatian Ardiaz.


Dia merapatkan punggungnya dengan pilar, sedangkan tangannya membekap mulut kuat-kuat. Matanya tak bisa ditahan dan melelehkan bulir bening yang kini mengalir di pipinya.


Ya, dialah Evangeline, istri Ardiaz yang baru saja mengetahui bahwa suaminya adalah salah satu orang penting dalam kelompok mafia besar, Lucifer.


Namun, bukan itu yang membuatnya menangis, melainkan kenyataan bahwa dia sudah menyakiti pria tersebut karena kesalahpahamannya akan kejadian malam itu di sky night.


Waktu pun berlalu dan malam semakin larut. Evangeline memutuskan untuk mencari tempat sembunyi yang aman dan menunggu Ardiaz keluar dari sana.


Ini sudah hampir dua jam, dan dia tak tahu sampai kapan harus menunggu. Namun, Evangeline tak mau lagi menyia-nyiakan kesempatan yang ada, dan mencoba untuk tetap kuat.


Ardiaz sudah mau menunjukkan wajahnya di depan sang istri, dan Evangeline merasa bahwa saat inilah waktu yang tepat untuk mencari tahu langsung apa yang terjadi selama ini pada sang suami, sekaligus memperbaiki hubungan mereka.

__ADS_1


Gadis itu berjongkok di antara tong sampai yang ada di pojokan tempat parkir, di bawah pipa besi penyaring udara yang begitu panas.


Dia menunggu di sudut tergelap tempat parkir, dan menahan lelahnya selama seharian ini. Bahkan bau menyengat dari tumpukan sampah di sekitarnya tak lagi dia pedulikan.


Namun sayang, Evangeline bukanlah gadis yang memiliki fisik sekuat tekadnya. Di tengah penantiannya, dia tak bisa melawan kondisi tubuhnya yang sudah begitu kelelahan.


Dia pun jatuh pingsan, dengan tubuh terkulai dicela antara tempat sampah itu.


...❄❄❄❄❄...


Keesokan paginya, Evangeline membuka mata perlahan. Matanya menatap langit-langit ruangan tempatnya berada dan itu sangat familiar.


Ini seperti kamarku, batinnya.


Dia pun kemudian menutup matanya kembali, karena masih merasa lemas dan seperti setengah sadar.


Namun tiba-tiba, matanya kembali terbuka lebar dan menoleh ke kanan dan kiri. Wajahnya benar-benar seperi tengah terkejut.


Dia menoleh ke sekeliling, seolah sedang memastikan sesuatu. Dia kembali membola saat melihat selang infus tertancap pada pergelangan tangannya.


Gadis itu pun bangun, akan tetapi rasa pusing dan fisiknya yang lemah, membuat dia kembali terjatuh.


“Apa kau sudah bangun?” tanya seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar Evangeline.


Istri Ardiaz itu pun menoleh dan melihat sang sahabat telah berdiri di depan pintu sambil membawa nampan berisi sarapan untuknya.


Evangeline menyentuh keningnya yang terasa pusing, sambil sedikit memijit pangkal hidung.


“Apa yang terjadi? Bagaimana aku bisa pulang? Apa kau mencariku karena tak kembali juga?” tanya Evangeline beruntun.


Joy meletakkan semangkuk bubur dengan segelas air minum di atas nakas, dan duduk di tepi ranjang.


Dia menatap lekat sahabatnya itu sambil menghela nafas berat.


“Makalah dulu sarapanmu. Aku baru saja selesai membuatnya,” seru Joy, tanpa menjawab satu pun pertanyaan Evangeline.


“Ah... Aku belum lapar. Tinggal saja di sana,” ucap Evangeline malas.


“Makanlah, dan temui orang di bawah sana. Dia sudah menunggumu semalaman,” tutur Joy.


Seketika, mata Evangeline yang sejak tadi terpejam kembali membuka. Dia menatap sahabatnya dengan kening yang berkerut sempurna bahkan alis yang nyaris tertaut.

__ADS_1


Joy paham betul apa maksud tatapan Evangeline itu.


“Suamimu... Dia ada di bawah menunggumu,” ungkap Joy.


Seketika, Evangeline kembali mencoba bangun meski tubuhnya masih begitu lemas. Dia meraih lengan Joy, berharap bisa bangun dengan berpegang pada sahabatnya.


“Kau masih lemah. Setidaknya makanlah dulu sarapanmu,” seru Joy.


Evangeline menggeleng.


“Aku harus menemuinya. Joy, tolong bawa aku pada orang itu. Ku mohon,” pinta Evangeline.


Joy tak mungkin menolak lagi keinginan sang sahabat. Dia tahu lebih dari siapapun betapa kerasnya usaha gadis itu demi bisa menemui suaminya lagi.


Dia pun bangun dan memapah Evangeline, membantu gadis itu bangun, agar bisa berjalan perlahan ke lantai bawah.


Sejak turun dari tangga, mata Evangeline terus mengedar mencari sosok yang selama ini menghilang dari hidupnya.


Hingga, Evangeline berhasil melihat seorang pria yang tengah duduk di ruang tamunya, dengan mata terpejam dan kepala yang menunduk, serta tangan terlipat di depan dadanya.


Bulir bening kini kembali menetes dari matanya, namun cepat-cepat dia usap.


Merasakan seseorang mendekat, Ardiaz yang sejak tadi tertidur pun tiba-tiba membuka mata dengan sikap waspada penuh.


Tatapan matanya pun bertemu dengan manik hitam sang istri yang tampak berkaca-kaca.


“Joy, bisa kau tinggalkan kami berdua?” pinta Evangeline.


Tanpa berkata lagi, Joy pun melepas rangkulannya dari sang sahabat dan berjalan keluar dari apartemen itu.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2