A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Berkumpul kembali


__ADS_3

Mobil melaju keluar dari pekarangan mereka yang begitu luas, menuju ke jalan raya.


Terlihat Evangeline duduk sembari bergelayut di lengan sang suami, sementara Ardiaz terus tersenyum sambil mengusap lembut surai kemerahan Evangeline, dan sesekali mengecup puncak kepala wanita tersebut.


Beberapa saat mereka berkendara, hingga tibalah dia di sebuah tempat yang begitu luas.


Nampak pemandangan hijau di kiri dan kanan, serta posisi tanah yang dibuat berbukit.


Ardiaz mengulurkan tangan kepada sang istri, dan keduanya pun keluar bersama dari dalam mobil.


Mereka saling pandang dan mulai berjalan ke tempat tersebut. Semakin melangkah masuk, banyak batu nisan terlihat memenuhi area tersebut.


Rupanya, sepasang suami istri itu hendak mengunjungi makam seseorang.


Mereka berjalan cukup jauh, hingga hampir mencapai puncak bukit paling tinggi.


Ardiaz dengan lembut menuntun sang istri untuk mengikuti langkah kakinya, dan tibalah mereka berdua di depan dia buah makam.


Disana tertulis nama yang sama dengan nama belakang Ardiaz. Keduanya terlihat membungkuk, memberi hormat serta salam kepada kedua makam tersebut.


“Ayah... Ibu... maaf karena aku telah menjadi anak yang tak berbakti. Aku baru sempat mengunjungi kalian lagi,” ucap Ardiaz mengawali.


Evangeline menoleh dan melihat tatapan sendu dari sorot mata sang suami.


Dia kemudian merangkul lengan Ardiaz, dan membuat pria itu tersadar dari pikirannya.


“Ah... Aku lupa. Perkenalkan, ini menantu kalian. Namanya Evangeline. Dia adalah putri dari Tuan Hemachandra. Kalian mengenal beliau bukan?” lanjut Ardiaz.


“Halo, Ayah... Ibu. Aku menantumu. Maaf karena baru sempat menyapa. Aku harus mencari anakmu yang hilang dulu dan membawanya pulang. Mohon maafkan aku,” sindir Evangeline.

__ADS_1


“Maafkan dia, Ayah. Dia memang suka bersikap seenaknya. Tapi, dia benar-benar wanita yang baik. Dia mencintaiku dan menerima putramu ini apa adanya,” sahut Ardiaz.


Evangeline tiba-tiba melepas rangkulannya dari sang suami, dan berjongkok di depan makam tersebut.


Dia meletakkan rangkaian bunga yang tadi dipetikanya dari rumah, di depan batu nisan ibu Ardiaz.


“Ayah... Ibu... apa kalian sudah bertemu dengan cucu kalian? Maafkan aku karena tak bisa menjaganya dengan baik. Aku harap, kalian semua disana selalu bersama dan bahagia. Aku titipkan anak kami tersayang pada Ayah dan Ibu,” ucap evangeline.


Wanita itu terlihat menunduk. Ardiaz ikut berjongkok dan merangkul pundak sang istri. Evangeline pun menangis di dalam pelukan suaminya, karena teringat akan janin yang sudah hilang dari kandunagnnya, bahkan sebelum ada yang menyadari keberadaannya.


Keduanya cukup lama berada di sana, hingga Evangeline sedikit lebih tenang, kemudian Ardiaz mengajaknya untuk segera pergi dari tempat tersebut.


Sejak mereka melakukan upacara pemakaman untuk anak mereka di rumah baru yang saat ini ditempati, Evangeline berjanji akan menjaga dan merawat semua bunga-bunga yang tumbuh di sana, seperti dia merawat anaknya sendiri.


Setiap kali dia pergi mengunjungi makam mertuanya, atau berkunjung ke rumah ayahnya, dia akan memetik beberapa bunga dan membawanya ke sana.


Flashback back


Kedua kakak beradik itu pun saling melepas rindu, diikuti ribuan pertanyaan dari Aaron kepada sang adik.


Namun tiba-tiba, Evangeline terus menatap Morita, sang ibu asuh. Tatapannya seolah tak mau lepas dari sosok mungil yang ada di gendongan wanita tersebut.


Morita yang awalnya ingin menyapa Evangeline, merasa ketakutan melihat tatapan aneh dari istri Ardiaz.


Evangeline lalu bangun, dan berjalan menghampiri Morita yang justru melangkah mundur.


Melihat keanehan sang istri, Ardiaz pun lalu mendekati wanita tersebut, begitupula Aaron yang menghampiri kekasihnya.


Tiba-tiba, Evangeline mengulurkan tangannya, seolah ingin meraih bayi yang digendong oleh Morita.

__ADS_1


Ardiaz seolah tahu apa yang ingin sang istri lakukan.


“Sayang, apa kau ingin melihat bayi kakakku?” tanya Ardiaz lembut di samping Evangeline.


Wanita itu hanya mengangguk pelan sambil terus melihat sosok mungil tersebut.


Ardiaz menoleh ke arah sang kakak, seolah meminta ijin tanpa berucap. Aaron pun paham, dan membujuk kekasihnya untuk mengijinkan Evangeline menggendong putri kecil mereka.


Morita awalnya ragu dan khawatir. Namun, melihat tatapan Evangeline yang berubah sendu, dia pun akhirnya mengiyakan.


Morita maju ditemani Aaron, dan perlahan memberikan bayinya kepada Evangeline.


Istri Ardiaz itu pun langsung meraih bayi mungil tersebut, dan mendekapnya erat di pelukan.


Air mata seketika mengalir dari mata Evangeline tanpa bisa ia tahan. Dia benar-benar merindukan anak yang bahkan belum berwujud sama sekali, yang harus pergi untuk selamanya.


Melihat sang istri yang seperti ini, Ardiaz pun hanya bisa mencoba kuat, sambil mengusap lembut pundak Evangeline.


Semua orang terlihat ikut merasakan kesedihan yang dialami wanita tersebut.


Flashback end


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2