
Hari terus berlalu. Sudah sepekan sejak Ardiaz dioperasi dan dia belum juga membuka mata.
Selama itu juga, Evangeline terus kembali untuk melihat suaminya. Setiap ke sana, dia tak pernah lupa untuk membawakan makanan untuk Mac duff.
Dia tahu jika bos sky night sangat keras kepala dan tak mau mendengarkan perkataan orang lain. Tapi entah kenapa hanya padanya saja dia mau menurut.
Mungkin ini ada kaitannya dengan Ardiaz. Mungkin saja karena dia menghormati adik Aaron itu, sehingga dia pun mau tak mau patuh pada Evangeline yang adalah istrinya.
Karena Evangeline sudah tak lagi magang di Merciful, gadis itu jadi lebih bisa berlama-lama di sana untuk merawat sang suami, atau hanya sekedar bicara sendiri tanpa ada yang menyahuti.
Setiap kali Evangeline ke rumah sakit, Alexa selalu lebih dulu ada di sana dan dengan raut wajah yang sama.
Wanita itu selalu kesal dan bersungut-sungut setiap kali bersama Mac duff. Makanan serta pakaian ganti yang dibawanya tak pernah mau di sentuh oleh pria itu.
Hingga Evangeline lah yang harus memaksanya untuk makan dan berganti pakaian.
Evangeline sampai tak enak hati dengan Alexa, karena bagaimana pun juga wanita itu sudah begitu perhatian pada Mac duff, akan tetapi justru Evangeline yang selalu didengarkan
Namun, hari ini wanita itu tak terlihat sejak siang. Saat Evangeline tiba, hanya ada anak buah Mac duff dan juga dia sendiri.
Pria itu seketika menoleh saat merasakan kehadiran seseorang di dekatnya.
“Apa Alexa tidak datang hari ini?” tanya Evangeline sesampainya di sana.
“Untuk apa kau menanyakan wanita itu?” tanya Mac duff balik.
Evangeline duduk dan membuka kotak makan siang yang dibawanya. Dia meletakkan benda itu di atas kursi dan menyiapkan alat makan untuk Mac duff.
“Aku hanya bertanya. Setidaknya jika dia datang, aku tak perlu khawatir dengan dirimu. Bukankah dia sangat perhatian padamu, hem? Sepertinya dia menyukaimu. Lagipula, dia wanita yang cantik. Kenapa kau tak mau meresponnya?"
"Jangan mencoba jual mahal. Saat dia lelah dan pergi, maka kau akan merasa kehilangan. Percayalah,” ungkap Evangeline.
Mac duff melirik dan duduk di samping Evangeline. Dia meraih sumpit yang diberikan oleh gadis itu padanya.
“Apa kau sedang membicarakan dirimu sendiri hah?” sahutnya sinis.
Pria itu makan begitu saja tanpa peduli dengan senyum masam dari gadis di sampingnya.
“Yah... Kau benar. Aku sedang membicarakan diriku sendiri. Kau puas?” ucap Evangeline kesal.
Dia pun lalu berdiri dan berjalan ke dalam, meninggalkan Mac duff yang sedang makan dengan lahap.
Gadis itu tak sadar bahwa gerakan tangan Mac duff melambat saat dirinya telah menghilang di balik pintu.
Evangeline seperti biasa akan menyeka tubuh Ardiaz agar tetap bersih, dan terhindar dari jamur dan penyakit kulit lainnya.
Udara di dalam tidak terlalu baik, namun Ardiaz masih belum bisa dipindahkan dari sana, sementara tak ada yang merawatnya di tempat itu.
Perawat yang datang, hanya tim medis yang memeriksa perkembangan kondisi kesehatan Ardiaz.
__ADS_1
Sebenarnya, ini semua lah Mac duff. Dia sengaja membiarkan Evangeline mengurus Ardiaz, karena sangat tahu bahwa sang King palsu sangat benci jika tubuhnya sampai disentuh orang lain yang dia tak kehendaki.
Ditambah, dia tahu bahwa suami istri itu sangat berjarak satu sama lain, karena bagaimana pun pernikahan keduanya terjadi karena paksaan kondisi.
Sehingga dengan seperti ini, setidaknya keduanya bisa saling menjalin emosi, meski ini tak adil untuk Evangeline.
Di dalam sana, selain membersihkan tubuh suaminya, tak lupa Evangeline juga terus mengoceh tentang berbagai hal.
Dia ingat dulu saat ayahnya koma, dokter memintanya untuk terus berkomunikasi, memberikan stimulasi kepada pasien, dan berharap otaknya akan merespon.
Kabar baiknya, hal itu berhasil dan ayahnya bisa Kembali membuka mata. Bahkan saat ini sudah kembali ke kesibukan awal, meski tak sama seperti sedia kala.
Seiring berlalunya hari, Evangeline mulai bisa mengendalikan emosinya. Dia tak lagi mudah menangis hanya karena hal-hal kecil dan sentimentil.
Dia lebih bersikap tegar dan mencoba kuat di depan semua orang, termasuk Ardiaz.
Gadis itu begitu telaten merawat sang suami yang masih belum juga bangun. Namun, tiba-tiba Mac duff masuk dan mengejutkan Evangeline.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa...,” tanya Evangeline.
“Cepat keluar sekarang. Ada yang akan datang kemari,” seru Mac duff.
Evangeline mengerutkan keningnya, karena tak paham dengan apa yang dimaksud oleh pria di depannya.
“Tapi aku belum selesai. Lihatlah...,” sanggah Evangeline.
Mac duff tak peduli dan langsung menarik tangan Evangeline dengan kasar.
Gadis itu menepis tangan Mac duff dan mengusap lengannya yang terasa sakit.
“Setidaknya biarkan aku melepas ini terlebih dulu,” ucap Evangeline menunjukkan APD yang masih melekat di tubuhnya.
Setelah berhasil lepas, dia pun berjalan keluar lebih dulu. Namun, langkahnya terhenti dan membuat Mac duff yang berjalan di belakangnya ikut terhenti.
Pandangan keduanya lurus ke depan, di mana ada sekelompok orang yang sedang berjalan ke arah mereka.
Gawat! batin Mac duff.
pria itu pun lalu maju dan berdiri di depan evangeline, membuat gadis tersebut tak bisa melihat ke depan.
“Hei, ada apa? Siapa mereka?” tanya Evangeline lirih.
“kau diamlah, jika masih ingin menemui suamimu,” ucap Mac duff lirih.
Tampak di depan sana, ketiga King Lucifer, serta sang Emperor datang di ikuti oleh para pengawal.
Mereka sepertinya akan melihat kondisi Ardiaz yang masih belum ada perkembangan.
Semua orang nampak penasaran dengan sosok yang berdiri di balik punggung Mac duff, kecuali Alexa yang sudah tau siapa itu, dan masih mengira bahwa Evangeline adalah kekasih salah satu Duke mereka.
__ADS_1
“Hei, siapa kucing kecil ini, hah? Apa seleramu sekarang sudah berubah?” tanya martin, yang sepertinya begitu tertarik pada Evangeline.
Mac duff terus menjaga gadis itu, agar tetap berada di belakangnya dengan sebelah tangan.
“Dia...,” sahut Mac duff.
“Dia kekasihnya. Menyingkirlah kalian. Aku ingin masuk ke dalam,” sela Alexa pada Mac duff dan juga Evangeline.
Dia pun berjalan melewati kedua orang yang tertangkap itu, dan membuat mereka menyingkir.
Devonshire nampak memperhatikan sekilas kedua orang di depannya, lalu kemudian mengikuti Alexa masuk ke dalam ruang steril.
“Kenapa kau membawa kekasihmu kemari? Lalu, kenapa kalian berdua bisa keluar dari sana?” cecar Joker selaku King dari Mac duff.
“Aku memintanya untuk merawat Alpha, karena setahuku dia tidak suka jika disentuh sembarang orang,” jawab Mac duff.
“Benarkah? Lalu, apa dia mau disentuh oleh kekasihmu? Jadi kau merelakan dia untuk melayani pria lain begitu? Hahahah... Benar-benar aneh. Atau jangan-jangan, kalian berbagi wanita?” timpal Martin.
“Tolong jangan bicara sembarangan tentang dia. Aku tidak membiarkan dia sendirian, maka dari itu aku juga ikut masuk ke dalam,” jawab Mac duff.
Joker nampak memperhatikan Evangeline yang masih bersembunyi di balik punggung Mac duff.
Dia tak berkata apapun lagi dan melewati keduanya, untuk melihat Ardiaz dari balik dinding kaca.
Sementara Martin, pria itu masih nampak memperhatikan Evangeline. Hal itu membuat Mac duff menatap King itu dengan tajam.
“Karena Anda semua sudah di sini, saya permisi mengantarnya pergi sebentar,” ucap Mac duff pada Joker.
“Pergilah,” sahut Joker tanpa menoleh.
Mac duff pun meraih tas milik Evangeline yang tergeletak di atas kursi. Dia melangkah pergi diikuti oleh gadis itu, dan melewati Martin begitu saja.
Namun tiba-tiba, pria itu menyeringai dan meraih lengan Evangeline, hingga gadis ini tertarik dan menabrak tubuh sang King interogator tersebut.
Mac duff pun seketika menoleh dan menatap tajam pria arogan di depannya.
Dengan senyum mengejek, Martin balas menatap Mac duff sambil terus menahan lengan gadis itu.
“Lepaskan dia,” seru Mac duff.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih