
Beberapa saat kemudian di ruang rawat Ardiaz, sebuah ketukan dari arah luar kamar terdengar.
“Maaf, King. Sudah waktunya pemeriksaan rutin,” ucap salah satu pengawal.
“Suruh mereka masuk,” bisik Mac duff pada Ardiaz.
“Masuklah,” seru Ardiaz membeo.
“Baik,” sahut si pengawal.
Pintu pun terbuka dan muncul lah dua orang perawat. Keduanya memakai masker dengan salah satunya berjalan di belakang perawat lainnya.
Setelah pintu di tutup, Ardiaz tersenyum ke arah salah satu perawat berambut pendek, dan mengulurkan tangannya.
“Kau yang di belakang, kemarilah,” ucap Ardiaz.
Perawat berambut pendek itu pun maju dan menghampiri pria yang masih berbaring di atas tempat tidur.
Dia lalu membuka maskernya, dan terlihatlah wajah cantik sang istri di sana.
“Luar biasa kau bisa langsung mengenaliku,” ucap Evangeline sinis.
“Apa ini pujian atau sindiran?” tanya Ardiaz.
Evangeline mencondongkan wajahnya mendekat dengan memasang wajah mengejeknya.
“Anggap ini pujian agar kau senang. Puas?” jawab Evangeline.
Gadis itu lalu menoleh ke arah Mac duff berada.
“Terimakasih sudah membawaku kemari,” ucap gadis itu.
__ADS_1
“Kalian bicaralah. Kami akan menunggu di luar. Jangan lupa obati luka suamimu. Aku yakin kau sangat hebat dalam merawat luka. Bukan begitu?” sindir Mac duff.
Evangeline pun hanya bisa mengangguk seraya mencibir perkataan yang keluar dari mulut bos sky night itu.
Mac duff tak peduli dengan sikap Evangeline, dan berjalan pergi diikuti oleh sang perawat palsu.
“Sepertinya kau sangat akrab dengan dia? Apa kalian sering bertemu selama aku koma?” tanya Ardiaz.
“Tentu saja. Bagaimana aku bisa setiap hari menemuimu kalau bukan karena bantuannya. Dia terluka parah di bagian perut, dan tak mau diobati oleh siapapun. Kau tau sekeras kepala apa aku ini kan? Dia menyerah menghadapi ku dan akhirnya mau ku obati juga,” terang Evangeline.
“Ah... Jadi begitu,” sahut Ardiaz.
Evangeline yang masih berdiri terlihat menarik stroller yang dibawa oleh anak buah Mac duff tadi.
“Biarkan aku melihat lukamu. Dia bilang, aku cukup mengolesi obat dan menutupnya lagi dengan perban bersih. Apa kau sudah tak apa-apa?” tanya Evangeline.
“Aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil bagiku,” sahut Ardiaz.
“Bagimu luka kecil, tapi bagiku ini sangat mengerikan. Karena luka ini, aku bisa saja kehilangan kau untuk kedua kali, dan bahkan mungkin selamanya,” timpal Evangeline cepat.
Gadis itu terlihat tak terkejut sama sekali saat matanya menyaksikan luka yang berkali-kali terbuka hingga bentuknya sangat mengerikan.
Dada Ardiaz tiba-tiba sesak, membayangkan seburuk apa hidup sangat istri beberapa waktu ini, hingga hal seperti ini sudah tak asing lagi baginya.
Tangannya terulur, dan membelai kepala Evangeline yang tertutup rambut palsu.
Merasakan sentuhan dari sang suami, Evangeline pun menoleh dan melihat bahwa pria itu terus menatapnya dengan ekspresi aneh, yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Apa semua sangat berat untuk mu? Apa kau baik-baik saja selama ini?” tanya Ardiaz.
Mendengar pertanyaan biasa itu, entah kenapa dada Evangeline tiba-tiba bergemuruh. Matanya seketika panas dan bahkan air mata meluncur begitu saja di wajahnya.
__ADS_1
Pertanyaan Ardiaz memang terdengar biasa, akan tetapi hal itu mampu membuat Evangeline yang terus berpura-pura tegar selama ini, seketika tak bisa lagi menutupi wajahnya dengan topeng palsu itu.
Ardiaz pun menyeka lelehan bening itu dengan ibu jari, seraya menangkup kedua pipi sang istri.
Wajahnya mendekat, dan semakin dekat hingga hembusan nafas hangatnya terasa di kulit gadis itu. Evangeline yang masih tertegun, hanya bisa diam tanpa bereaksi sedikitpun.
Hingga tanpa sadar, bibir Ardiaz telah bertemu dengan bibir mungilnya.
Pria itu mengecup bibir ranum itu dalam-dalam, seolah tengah menghantarkan perasaannya pada gadis itu, yang dia sendiri masih belum mau mengakuinya dengan jujur.
Evangeline tak menolaknya. Dia bahkan memejamkan mata. Namun tiba-tiba, isaknya muncul dan membuat Ardiaz menyudahi aksinya.
Pria itu melihat air mata kembali mengalir dari pelupuk mata sang istri yang terpejam. Dia pun lalu membawa Evangeline ke dalam dekapannya.
Dengan lembut, King palsu itu menepuk-nepuk punggung sang istri.
“Menangislah jika memang terasa berat. Tak perlu malu karena kau memang sudah cengeng dari dulu,” ejek Ardiaz.
Sontak, Evangeline memukul punggung pria itu, dan membuat Ardiaz semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri.
“Maafkan aku. Karena aku, kau harus melalui semua ini. Maafkan aku, Eva,” ucapnya lirih.
Evangeline tak menyahuti. Dia hanya memeluk pinggang suaminya dan terisak di dalam pelukan Ardiaz.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih