
Hari berganti. Keesokan harinya, Evangeline yang memutuskan kembali tinggal di apartemennya, di kejutkan dengan sekelompok orang yang sudah berdiri di depan pintu unitnya.
Evangeline hendak keluar dan pergi untuk kuliah, namun keberadaan orang-orang itu membuatnya kesal.
Dia tahu siapa mereka dari lambang yang ada di saku jas mereka.
“Sejak kapan kalian di sini?” tanyanya.
“Maaf, Nona. Tuan besar meminta kami untuk menjaga Anda,” jawab salah satu pengawal.
“Aku sudah tahu. Apa kau bod*h sampai tak bisa menjawab pertanyaan dengan benar, hah?” hardik Evangeline.
Gadis itu kemudian menutup pintu, dan berjalan pergi. Namun, langkahnya terhenti dan mendengus kesal. Dia menoleh dan melihat beberapa dari mereka juga berjalan di belakang.
“Jangan ikuti aku! Ini bukan Wisteria. Di sini kalian harus menurutku, bukan ayahku,” seru Evangeline kesal.
Gadis itu kemudian kembali berbalik.
“Kita tak bisa mendorong Nona melakukan hal nekad. Kau pergilah ikuti Nona diam-diam. Jangan sampai beliau tahu bahwa dia sedang diikuti. Cukup pastikan Nona aman,” seru salah satu pengawal yang adalah ketuanya.
Akhirnya, hanya satu pengawal yang mengikuti Evangeline ke kampusnya, tanpa menunjukkan diri sama sekali di hadapan gadis itu.
...❄❄❄❄❄...
Siang hari saat jadwal kuliahnya telah usai, Evangeline yang saat itu sedang berjalan menuju parkiran, mendapatkan panggilan masuk.
“Halo, ini Mike atau Ardiaz?” tanya Evangeline langsung.
“Ini aku, Mike,” sahut suara di seberang.
“Oh... Kau rupanya. Ada apa? Di mana Ardiaz?” tanya Evangeline.
“Dia masih di rumah sakit. Aku diminta membawamu ke sana sekarang,” ungkap Mac duff.
“Benarkah? Apa tidak apa-apa? Bagaimana dengan pengawal-pengawal itu?” tanya Evangeline beruntun.
“Kau mau atau tidak bertemu dengan suamimu?” tanya Mac duff ketus.
“Tentu aku mau. Tapi apa benar tidak apa-apa? Aku tak mau membuat kalian susah lagi,” sahut Evangeline.
“Oleh karena itu ikuti rencanaku,” seru Mac duff.
__ADS_1
Evangeline pun terus berjalan ke arah parkiran mobil sambil mendengarkan rencana yang dikatakan oleh Mac duff.
Setelah selesai mengatakan apa rencananya, Evangeline kemudian menelpon Joy dan meminta untuk bertemu di sebuah pusat perbelanjaan.
“Apa kau sudah sampai?” tanya Evangeline di telepon, sesaat setelah mobilnya berhenti.
“Aku sudah di tempat yang kau katakan tadi. Tapi, untuk apa kau memintaku bertemu di tempat seperti ini? Dan untuk apa benda ini?” tanya Joy balik.
“Aku akan beritahu kau nanti. Tunggulah. Aku sedang berjalan ke sana,” sahut Evangeline.
Istri Ardiaz itu kemudian berjalan cepat ke dalam mall, dan menuju ke lantai empat dimana terdapat toko pakaian serta toko kosmetik ternama.
Dia meminta Joy untuk menunggunya di salah satu toko pakaian dengan merek yang biasa dia beli, dan mengajukan reservasi ruang VIP pada toko tersebut.
Sebagai putri satu-satu dari seorang Hemachandra, Evangeline tahu betul bahwa sang ayah tak akan mungkin melepaskan pengawasan, ketika dia sudah mulai serius.
Dia yakin meski tak ada pengawal yang terlihat, tapi pasti ada yang diam-diam mengikutinya.
Oleh karena itu, Evangeline berusaha mengecoh mereka dengan bantuan Joy, agar dia bisa menemui Ardiaz tanpa diketahui oleh orang-orang ayahnya.
Saat ini belum waktunya untuk Ardiaz memunculkan diri, setelah sebelumnya dikabarkan meninggal.
Evangeline tak mau hal itu sampai terjadi, sehingga dia pun memikirkan cara ini.
Setelah tiba di toko pakaian, dia segera masuk ke dalam ruang tunggu VIP. Di sana sudah ada Joy yang menunggunya.
“Apa kau sudah bawa yang ku minta?” tanya Evangeline sesaat setelah memasuki ruangan.
Joy mengulurkan sebuah paper bag besar ke arah Evangeline. Gadis itu pun kemudian meraihnya dan melihat isinya.
Terdapat dua buah rambut palsu, dengan panjang yang berbeda.
“Sebenarnya untuk apa kau memintaku kemari dengan membawa barang-barang itu?” tanya Joy bingung.
Evangeline tak langsung menjawab. Dia justru meminta pelayanan untuk membawa koleksi musim semi terbaru mereka.
Tak lama kemudian, beberapa pelayan masuk kembali dengan membawa koleksi terbaru mereka.
“Pilihlah yang kau suka,” seru Evangeline.
Joy terbengong mendengar perkataan sahabatnya itu.
__ADS_1
“Apa kau sedang bad mood? Kenapa tiba-tiba...,” tanya Joy bingung.
“Pilih saja. Tidak usah banyak bertanya,” sela Evangeline.
Istri Ardiaz itu lebih dulu memilih untuknya, diikuti oleh Joy.
“Baiklah. Kalau begitu aku tak akan sungkan,” sahut Joy.
Keduanya pun memilih pakaian sesuai dengan selera mereka masing-masing. Setelah memutuskan, Evangeline membayarnya sekaligus.
Akan tetapi, tiba-tiba gadis itu menukar paper bag mereka.
“Kenapa kau menukarnya?” tanya Joy.
“Pakai punyaku, dan aku akan pakai punya mu. Satu lagi, kau pakailah wig ini juga,” seru Evangeline, sembari memberikan sebuah wig dengan warna yang sama dan panjang sama dengan rambutnya.
Joy seketika tahu maksud dari sikap Evangeline ini.
“Apa kau sedang diikuti? Apa kita akan melakukan seperti waktu itu lagi?” tanya Joy.
Dulu, saat masih berada di sekolah menengah, Joy pun pernah bertukar peran dengan Evangeline, demi agar Evangeline bisa pergi ke pantai untuk menyusul Aaron, yang pada waktu itu tengah meninjau sesuatu.
Dia terpaksa pergi diam-diam, karena sang ayah melarangnya pergi ke tempat tersebut.
Kali ini, gadis itu pun ingin meminta Joy melakukan hal itu lagi demi agar bisa menemui sang suami.
“Baguslah kalau kau sudah tahu. Sekarang cepatlah. Mike sudah menungguku,” sahut Evangeline.
Tanpa bertanya lagi, Joy pun mengambil pakaian dan juga rambut palsu dari Evangeline. Dia masuk ke dalam ruang ganti begitu pun Evangeline.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1