
Setelah melihat kondisi Evangeline dari sistem Enel yang terdapat dalam kalung mercusuar yang dikenakan wanita itu, Jordan yang sengaja di tinggal oleh Ardiaz pun mulai bertindak.
Dia pergi menemui Devonshire dan mengakui semuanya. Dengan bantuan Damian, Jordan pun bisa meyakinkan sang Emperor bahwa dialah adik kandung ketua Lucifer yang sesungguhnya.
Hal itu bisa dibuktikan dengan keberadaan sistem Enel ditangannya. Hanya Jordan yang tau seperti apa dan bagaimana cara penggunaan sistem tersebut sekarang.
Dia bahkan memperlihatkan sesuatu dari layar macbook yang dibawanya. Devonshire dan juga Vermont menyaksikan apa yang terjadi di tempat sistem itu berada, dan melihat sendiri bahwa Martin tengah melakukan sesuatu hal yang tidak pernah diperintahkan oleh Lucifer.
“Jika dia sudah bisa bergerak sendiri seperti ini, bukankah itu pertanda bahwa dia sudah memiliki tuan lain selain dirimu? Jika kau masih mempercayai orang itu, maka lenyapkan saja aku sekarang juga, dan kau akan kehilangan Alpha dan juga sistem ini selamanya,” ucap Jordan kepada sang kakak.
Namun, Devonshire merasa tak bisa percaya begitu saja dengan Jordan, hingga akhirnya hacker jenius itu pun membuka pakaiannya dan berbalik untuk memperlihatkan pundak kirinya, dimana terdapat bekas luka bakar yang cukup besar.
Devonshire sampai bangun dari duduknya saat menyaksikan bekas luka itu.
Jordan kembali berbalik dan berhadapan dengan Devonshire. Dengan tatapan lurus yang menghujam langsung ke manik hitam sang Emperor, dia kembali berucap.
“Kua pasti tahu apa yang sebelumnya ada di balik luka bakar ku itu, bukan?” ucapnya.
Devonshire masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia ingat jelas bahwa di punggung kiri adiknya ada sebuah tato Prince berbentuk dua sayap dengan sebuah lingkaran malaikat di atasnya, yang hanya dimiliki oleh anak Emperor, seperti yang dimilikinya dulu sebelum dia menjadi Emperor saat ini.
Bekas luka bakar itu berbentuk mirip dengan tato sang adik yang telah menghilang bertahun-tahun lalu.
“Kau... Kau...,” ucap Devonshire.
Pria itu hendak maju dan menjangkau sang adik, akan tetapi Jordan berbalik dan berjalan menjauh sambil mengenakan kembali pakaiannya yang sempat ia tanggalkan.
“Sejujurnya, aku muak jika harus mengungkapkan identitas ku kepada semua orang, terlebih padamu. Tapi saat ini, nyawa kedua teman ku dalam bahaya karena pergi ke sarang musuh tanpa membawa pasukan. Hanya kau yang bisa menolongnya, sehingga aku tak punya pilihan lain selain mengakui siapa aku sebenarnya,” ucap Jordan.
Dia lalu mengambil macbook tadi dan menggeser-geser layarnya ke kanan dan kiri, serta beberapa kali nampak mengetik di atasnya.
Adik Devonshire itu kemudian menunjukkan sebuah peta dengan titik merah di tengahnya.
“Saat ini, Alpha dan Delta sedang menuju ke tempat itu. Aku harap kalian bisa bergegas sebelum Martin berhasil melakukan misinya, apapun itu,” seru Jordan.
Tanpa berpikir panjang, Devonshire langsung memerintahkan Vermont untuk memberitahukan semua King yang tersisa untuk menyerang tempat Martin berada.
__ADS_1
Sang tangan kanan pun segera menghubungi Joker dan juga Alexa, untuk melaksanakan perintah dari Sang Emperor.
Kebetulan, saat itu Malcolm juga tengah berada di kastil Joker, karena mengira ayahnya sedang di sana, dan mendengar kabar dari Alexa bahwa Evangeline di culik dan tengah berada di hutan selatan.
Saat dokter itu pergi lebih dulu, Joker pun mengikuti Alexa dan berbicara dengan Vermont dari sambungan telepon.
“Joker di sini,” sapa King bertubuh besar itu.
Di seberang sana, Vermont yang masih berada di samping Devonshire, menyerahkan ponsel kepada Sang Emperor.
“Ini aku. Segera kerahkan anak buahmu ke hutan selatan. Alpha dan Delta sedang menuju ke sana,” ucap Devonshire.
“Bagaimana Anda tahu mengenai istri Alpha?” tanya Joker.
“Charlie sudah mengakuinya. Alpha bukanlah adikku. Adikku tak lain adalah hacker pintar yang berpura-pura b*doh selama ini. Apa aku benar, papa bear?” ungkap Devonshire.
“Maafkan aku, Tuan muda. Aku hanya mengikuti permintaan Prince,” sahut Joker.
“Sudahlah. Ini bukan saatnya membahas hal itu. Segera pergi ke tempat yang ku tunjukkan, dan bawa kembali mereka semua. Satu lagi, pastikan kau menangkap Martin hidup-hidup. Kita masih perlu membuat perhitungan dengannya,” seru Devonshire.
Sambungan pun terputus.
Devonshire masih berhadapan dengan Jordan, yang sejak tadi sama sekali tak mau duduk di kursi, dan memilih untuk tetap berdiri.
“Tugasku di sini sudah selesai. Aku pergi sekarang. Tapi pinjami aku mobil dengan pelapis anti peluru milik mu,” ucapnya kemudian.
Dia pun berjalan ke arah pintu, diikuti oleh Damian yang terlihat kebingungan dengan sikap kedua kaka beradik itu.
Tiba-tiba, Devonshire yang sejak tadi duduk diam, kembali bersuara.
“Apa kau masih membenciku?” tanyanya.
Dia bangun dan berbalik melihat sang adik yang juga berhenti di depan pintu.
“Apa kau masih menganggap aku sebagai pembunuh ayah kita?” tanya Devonshire lagi.
__ADS_1
Jordan hanya menoleh sekilas ke samping, tanpa berbalik sedikitpun.
“Bukankah kau sendiri yang mengatakan, bahwa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membahas hal itu. Kita selesaikan masalah ini terlebih dulu, kemudian kita urus masalah kita,” sahut Jordan.
Dia pun kembali melangkah dan keluar dari ruangan Devonshire. Sementara Vermont, dia memerintahkan salah satu anak buahnya untuk menyiapkan mobil yang diminta Jordan sebelumnya.
Setelah itu, mereka semua pergi ke tempat dimana Martin menyekap Evangeline, dan menyelamatkan Ardiaz, Mac duff serta wanita malang itu.
FLASHBACK END.
Devonshire geram dengan apa yang sudah diperbuat Martin. Jika saja dia mempercayai penghianat itu, sudah pasti dia akan menargetkan Jordan, adiknya sendiri yang saat itu belum mengungkapkan identitasnya.
Namun setelah semuanya terungkap, kemarahannya tak bisa lagi dibendung. Naluri membunuhnya memuncak hingga tak peduli lagi dengan semua kontribusi Martin selama ini untuk Lucifer.
Dia terus menyiksa King penghianat itu hingga seluruh tubuhnya hancur, penuh luka dan darah.
Setelah merasa lelah menghukum Martin, Devonshire melemparkan cambuk berdurinya begitu saja ke tanah, dan dia membasuh tangannya yang berlumur darah ke dalam air yang menggenang penuh di dalam tong.
“Awasi dia, jangan sampai kalian lengah sedetik pun. Jangan biarkan dia pingsan. Siram tubuhnya dengan air garam, agar dia lekas sadar dan kembali kesakitan. Aku tak akan membiarkan penghianat ini mati dengan mudah,” seru Devonshire.
Dia pun berjalan pergi keluar dari sel gelap dan pengap itu, diikuti oleh Vermont dan juga Joker.
Sementara Martin, dia sudah tak tertolong lagi, karena membuat seorang Emperor Lucifer marah sampai ke tingkat ini.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1