A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Gemetar ketakutan


__ADS_3

Sejak melihat keberadaan sang istri di depannya, Ardiaz terus berusaha membuatnya sadar. Dia benar-benar khawatir dengan kondisi Evangeline.


Berbagai cara dia coba, dari berteriak, membunyikan rantai yang mengikatnya agar menimbulkan bunyi berisik, dan yang baru terpikirkan adalah dengan mencipratkan air ke wajahnya.


Dia melihat beberapa bagian lantai yang dipenuhi genangan air hujan, dan salah satunya berada di dekat kakinya.


Dengan susah payah, Ardiaz mencoba meraih genangan yang cukup dalam tersebut, lalu berusaha menendang airnya ke arah Evangeline, berharap itu bisa mengenai sang istri.


Percobaan pertama, Ardiaz hanya dapat mencapai genangan tanpa bisa menendang airnya. Kedua, dia bisa menendang airnya, akan tetapi hanya sampai di sekitar kaki Evangeline.


Yang ketiga, Ardiaz bahkan tak bisa mencapainya karena kakinya terpeleset dan merasakan kram.


Dia sampai meringis menahan sakit pada otot kakinya beberapa saat. Setelah merasa lebih baik, dia kembali mencoba hal yang sama.


Di percobaan keempat, Ardiaz berhasil menendang air dan mengenai kepala Evangeline. Hanya saja, percikannya masih belum terlalu kuat.


Barulah di percobaan kelima, Ardiaz berhasil menendang air di genangan cukup banyak dan kembali mengenai kepala istrinya.


Namun, dia kembali merasakan kram yang benar-benar membuatnya harus berhenti sampai di sini.


Tiba-tiba, matanya membelalak dengan kening yang berkerut ke atas, saat melihat sebuah gerakan dari sang istri.


Evangeline nampak menggelengkan kepalanya pelan, ditambah suara erangan lirih yang keluar dari mulut wanita itu.


“Eva... Eva, ini aku, Ardiaz. Eva, kau bisa mendengarku, bukan?” tanya Ardiaz berusaha berkomunikasi dengan istrinya.


Mendengar seseorang memanggilnya, Evangeline mengangkat wajah meski rasa pusing masih menyerang.


Dia nampak mengerjapkan mata, dan kembali menutupnya rapat karena silau akan lampu tunggal yang berada tepat di atas kepalanya.


“Eva, ini aku, Ardiaz. Eva,” panggil Ardiaz sekali lagi.


Evangeline pun berusaha lagi untuk melihat siapa yang memanggilnya. Dia mencoba memastikan bahwa itu benar-benar Ardiaz, suaminya.


“Diaz, apa itu kau?” tanyanya dengan suara lemah.


“Eva, apa kau bisa melihatku? Ini aku, sayang. Aku di sini,” sahut Ardiaz.


Akhirnya, setelah berhasil membuka lebar matanya, Evangeline bisa melihat wajah suaminya meski tidak begitu jelas.


Namun, dia bisa mengenali perawakan serta suara pria itu, karena bagaimana pun lebih dari separuh hidupnya, ia habiskan bersama Ardiaz.


“Diaz, kita dimana? Kenapa kau bisa terikat seperti ku?” cecar Evangeline.


Gadis itu terlihat panik saat menyadari kondisinya dan sang suami yang tidak sedang baik-baik saja.

__ADS_1


Melihat kepanikan di wajah sang istri, Ardiaz kembali bersuara, mencoba menenangkan wanita itu.


“Eva... Sayang, tenanglah. Tidak akan terjadi apapun pada kita. Kau tenang, oke?” bujuk Ardiaz.


“Tapi... Tapi... Di mana ini, Diaz? Siapa yang sudah membawa kita kemari?” tanya Evangeline lagi.


“Kau tak perlu tahu. Yang terpenting sekarang, mencari cara untuk bisa keluar dari sini. Kau harus tenang, mengerti?” titah Ardiaz.


Evangeline terlihat menunduk. Bahunya berguncang, tanda bahwa dia sedang terisak.


Melihat hal itu, membuat Ardiaz merasa khawatir dengan kondisi psikis sang istri.


“Eva, apa kau menangis? Lihat aku, Eva,” pinta Ardiaz.


Evangeline pun mengangkat wajahnya. Terlihat jelas lelehan bening mulai memenuhi wajah cantik itu.


“Aku... Aku takut... Diaz...,” ucapnya terbata.


Ardiaz benar-benar merasakan sesak di dadanya, saat melihat sang istri ketakutan seperti itu.


Dia ingat saat mereka masih muda dulu, saat Evangeline dan dirinya harus berada di rumah besar Hemachandra yang besar sendirian, di tengah badai yang saat itu melanda Wisteria.


Flashback


Listrik padam dan udara begitu dingin. Semua orang pergi karena perusahaan tengah mengalami kesibukan yang teramat diakibatkan oleh krisis global yang terjadi di tahun tersebut.


Kebetulan juga, kala itu Morita ada keperluan yang membuatnya ijin meninggalkan mansion, meski sebenarnya dia pergi bersama Aaron, menemani kakak Ardiaz melakukan perjalanan bisnis.


Saat itu, hanya dia yang ada di rumah bersama Evangeline. Meski dia dan wanita itu selalu tidak akur, namun tugasnya sebagai pengawal harus selalu berada di dekat tuannya.


Terlebih Hemachandra yang sudah menganggapnya sebagai keluarga, dan membuatnya merasa bertanggung jawab akan diri Evangeline.


Malam itu, dia tak melihat gadis tersebut di ruang makan saat waktu makan tiba, hingga Ardiaz naik ke atas dan mencoba memanggilnya untuk keluar.


Akan tetapi, Evangeline tak mau keluar dan bahkan tak menyahut panggilannya. Akhirnya, Ardiaz muda pun memberanikan untuk membuka pintu, dan melihat bahwa di kamar itu begitu gelap.


Hanya ada sebuah lilin yang menyala memancarkan sinar di sana. Ini aneh, mengingat betapa tidak sukanya Evangeline dengan kegelapan.


Dia bahkan tak mau tidur dengan hanya satu lampu tidur yang menyala, karena itu hanya akan membuatnya sulit terlelap.


Nampak Evangeline, duduk di atas kasurnya sambil memeluk lutut dengan selimut yang menutupi sampai ke kepala, hanya menyisakan wajahnya saja yang terlihat.


Saat Ardiaz mendekat, jelas terlihat gadis itu sedang menangis. Biasanya, saat Evangeline menangis seorang diri, dia akan menahan suaranya hingga tak ada yang mendengar, namun saat melihat kehadiran seseorang, tangisnya justru akan semakin keras dan membuat telinga sakit.


Ardiaz sangat kesal jika Evangeline sudah seperti itu, karena menurutnya hal tersebut benar-benar menyebalkan.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan, karena sifat Evangeline yang selalu semaunya sendiri, seringnya tangis itu hanya sebagai alat agar keinginannya diloloskan oleh sang ayah atau siapapun yang berhadapan dengannya.


Namun, saat itu dia melihat gadis tersebut hanya diam menatapnya sambil menahan tangisnya. Sementara air matanya terus berlinang membanjir di wajahnya.


Ketika itulah Ardiaz merasa terenyuh melihat sisi lain Evangeline, yang menurutnya begitu rapuh. Ardiaz muda pun merasa iba melihat gadis yang selalu menyebalkan itu nampak begitu menyedihkan.


Dia pun maju mendekat dan menghampiri putri tuannya. Ardiaz mengulurkan tangan dan mengusap puncak kepala Evangeline dengan lembut.


Gadis itu mendongak menatap lekat wajah pemuda di depannya. Tiba-tiba, dia membuka selimutnya dan memeluk pinggang Ardiaz yang masih berdiri di samping ranjang.


Bahunya semakin berguncang pertanda dia kembali menangis, meski hanya isakan yang terdengar.


“Aku takut. Di sini sangat gelap,” ucapnya lirih di sela isaknya.


“Tidak apa. Sudah ada aku di sini. Kau tidak perlu takut,” ucap Ardiaz muda.


Ardiaz pun menepuk-nepuk punggung gadis itu, mencoba menenangkannya. Dia akhirnya memutuskan untuk menemani Evangeline di sana, hingga gadis itu tenang.


Dia tak banyak bicara dan hanya tetap berada di sana bersama gadis itu, membiarkan Evangeline terus memeluk pinggangnya.


Namun ternyata, Evangeline justru tertidur karena lelah menangis, dan melewatkan makan malamnya. Begitu pun dengan dirinya.


FLASHBACK END...


Kembali kemasa sekarang, dimana mereka berada di sebuah gudang bekas yang begitu gelap, dan hanya diterangi sebuah lampu di sebuah ruangan.


Ardiaz tahu betapa takut istrinya saat ini. Melihat Evangeline yang gemetar, membuatnya begitu ingin segera melepaskan diri dari ikatan itu dan memeluknya erat, mengusap punggungnya dan meyakinkan bahwa semua baik-baik saja.


Dia bahkan tak sadar bahwa rekan di sampingnya pun sejak tadi terus menatap lekat Evangeline, dengan tatapan yang berbeda.


Mata Mac duff bahkan sempat bergetar saat Ardiaz dengan lembutnya memanggil Evangeline dengan sebutan sayang.


Ada rasa nyeri yang tiba-tiba menyerang dadanya, namun segera ditepis oleh Duke itu cepat. Dia sadar ini bukan waktunya bersikap aneh.


Pria itu pun kembali fokus pada sesuatu yang berada di atas kepalanya, yang membuat rantai yang menarik tubuhnya bergemerincing.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2