
“Dokter Malcolm,” panggil Hemachandra.
Ardiaz pun menoleh dan melihat pria yang juga mencintai sang istri, tengah berdiri di depan sana.
Malcolm pun tak punya pilihan. Dia mau tak mau kembali melangkah mendekat meski terlihat ragu-ragu.
“Paman,” sapanya.
“Kau juga di sini, Nak?” tanya Hemachandra ramah.
Malcolm dan Ardiaz saling pandang, dengan tatapan yang sangat canggung satu sama lain.
Hemachandra pun menyadari hal itu. Terlebih, dia tau bahwa keduanya sama-sama mencintai putrinya.
“Aku mendengar alarm darurat dari kamar Eva, jadi aku langsung berlari kemari,” jawab Malcolm kemudian.
"Terimakasih, karena kau masih peduli pada anak itu," ucap Hemachandra.
Tiba-tiba, dokter yang tadi mausk, keluar dari dalam ruang rawat Evangeline, membuat fokus ke tiga pria itu teralihkan.
Ardiaz bergegas menghampiri sang dokter dan menanyakan kabar istrinya.
“Bagaimana kondisinya, Dok?” tanya Ardiaz.
“Syukurlah, saat ini pasien sudah sadar. Hanya saja, kondisinya masih sangat lemah. Jadi, jangan biarkan dia banyak bergerak terlebih dulu,” tutur sang dokter.
“Syukurlah,” ucap Hemachandra lega.
“Lalu, apa kami sudah bisa melihatnya?” tanya Ardiaz.
“Silakan masuk secara bergantian. Pasien masih dalam tahap penyesuaian setelah pingsan hampir dua belas jam,” seru dokter tersebut.
Ardiaz menoleh ke arah sang mertua, seolah meminta ijin agar diperbolehkan masuk terlebih dulu.
“Ayah...,” panggilnya.
“Ehm... Masuklah,” sahut Hemachandra yang mengerti maksud sang menantu.
Tanpa menjeda, Ardiaz segera membuka pintu dan masuk ke dalam. Dia melihat mata itu sudah terbuka, dan menatap ke arahnya.
Kedua perawat tadi terlihat merapikan pakaian Evangeline, setelah melepas alat-alat yang sempat terpasang di tubuh wanita itu.
__ADS_1
“Kami sudah selesai. Pastikan pasien untuk beristirahat. Permisi,” ucap salah satu perawat yang kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
Ardiaz yang sudah tak bisa menahan perasaannya lagi, langsung menghampiri sang istri dengan langkah terseok, dan mengusap puncak kepala wanita itu.
Dengan lembut, dia mengecup kening Evangeline, dan menghirup aromanya dalam-dalam.
Evangeline menutup matanya, meresapi kehangatan, sekaligus merasakan kekhawatiran yang dirasakan oleh sang suami.
“Terimakasih kau sudah bangun, Sayang,” ucap Ardiaz.
Dia menatap lembut ke dalam mata istrinya, dan dibalas dengan sebuah senyum tipis di bibir pias itu.
“Apa aku tertidur sangat lama?” tanya Evangeline dengan suara serak.
Ardiaz menggeleng. Dia duduk di samping sang istri dan menggenggam tangan wanita tersebut.
Pria itu mengecup punggung tangan Evangeline, dan menempelkannya di pipi, menyalurkan kehangatan kepada istrinya.
Keduanya saling tatap beberapa saat, dengan senyum kelegaan di wajah masing-masing.
“Apa kau mengkhawatirkan ku?” tanya Evangeline.
“Pertanyaan macam apa itu? Kau pikir siapa yang bisa tenang saat istrinya pingsan karena kehabisan darah, hah?” sahut Ardiaz kesal.
Ardiaz melihat hal itu dan kembali merasa khawatir.
“Kau kenapa?” tanya Ardiaz panik.
“Perutku tiba-tiba sakit saat tertawa,” jawab Evangeline.
“Lihatkan. Kau sedang dihukum karena membuat semua orang khawatir. Jadi mulai sekarang, kau sebaiknya menurut dan jadilah gadis baik,” seru Ardiaz.
Evangeline hanya tersenyum mendengar ocehan yang keluar dari mulut suaminya.
Sebelumnya, dia jarang melihat pria itu bersikap protektif. Ardiaz yang ia kenal selalu lah sosok dingin dan tanpa ekpresi. Menyebalkan dan selalu membuatnya kesal.
Namun, melihat sisi lain dari suaminya, membuat Evangeline tak bisa menyembunyikan senyum manisnya.
Namun tiba-tiba, dia menyadari sesuatu dan mencoba bangun. Akan tetapi, langsung dicegah oleh Ardiaz.
“Mau apa kau? Dokter berkata bahwa kau tak boleh bergerak dulu,” seru Ardiaz yang menahan tubuh sang istri agar tetap di tempat tidur.
__ADS_1
Evangeline lalu meraih pundak sang suami, dan hal itu membuat Ardiaz mengaduh kesakitan.
“Lukamu...,” Evangeline melihat darah di tangannya.
Dia hendak menyentuh pundak sang suami sekali lagi, namun di tahan oleh Ardiaz.
“Kau belum mendapat perawatan? Pelurunya masih ada di dalam?” cecar Evangeline.
Wanita itu mendadak panik dan khawatir menyadari bahwa suaminya masih belum mendapatkan penanganan medis.
“Tenanglah. Aku akan melakukannya setelah ini,” ucap Ardiaz.
“Tidak. Kau harus pergi sekarang, dan minta seseorang untuk mengobati mu... Atau aku yang akan melakukanya sendiri,” ancam Evangeline.
Wanita itu kembali hendak bangun dan lagi-lagi ditahan oleh suaminya.
“Baiklah... Baiklah... Aku akan mencari pertolongan. Kau puas sekarang,” sahut Ardiaz.
“Itu baru suamiku. Pergilah,” ucap Evangeline.
Ardiaz pun sekali lagi mengecup puncak kepala sang istri dan mengusapnya lembut sebelum akhirnya bangkit dari duduk.
Dia berjalan ke arah pintu, namun saat baru membukanya sedikit, dia berhenti dan mematung di sana.
Evangeline yang melihat hal tersebut pun menatap penasaran.
“Diaz, Ada...,” ucapnya terpotong.
Ardiaz mengangkat telunjuknya ke atas pertanda agar Evangeline tetap diam.
Dia seolah sedang melihat sesuatu yang membuat dirinya enggan untuk keluar saat itu juga.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih