A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Kemunculan Martin


__ADS_3

Setibanya Ardiaz dan Mac duff di gudang kayu, mereka langsung di sambut oleh sepasukan yang membekali diri dengan senjata laras panjang.


Kedua pria itu bahkan belum sama sekali mematikan mesin motor masing-masing.


“Sepertinya, kali ini akan sulit. Kita tidak datang dengan persiapan matang, Alpha,” ucap Mac duff khawatir.


“Sejak kapan kau jadi penakut seperti ini, hah? Kita ikuti dulu apa mau mereka, sambil mencari keberadaan Eva. Percaya pada ku,” sahut Ardiaz.


Terlihat seorang pengawal maju mendekat ke arah kedua pria tersebut sambil membidikkan senjata ke arah keduanya.


“Cepat turun dari motor kalian,” serunya.


Ardiaz pun mematikan mesin sepeda motornya, begitu pun dengan Mac duff. Lalu keduanya perlahan turun dari sana.


“Lepaskan helm kalian, dan taruh tangan di belakang kepala,” serunya lagi.


Sesuai dengan instruksi Ardiaz tadi, Mac duff pun mengikuti permaian lawan dan mengangkat tangannya.


Beberapa orang lagi maju dan menodongkan senjata tepat di belakang kedua pria tersebut, sementara pria di depan tadi berbalik dan berjalan masuk.


Ardiaz dan Mac duff masih diam diposisi masing-masing, seraya menunggu apa lagi yang akan terjadi selanjutnya.


Tak berselang lama, seseorang muncul dari dalam bangunan terbengkalai itu. Ardiaz dan Mac duff tampak tak terkejut sama sekali dengan kemunculan pria itu, seolah sudah menebak hal ini sejak awal bahwa dialah pelakunya.

__ADS_1


Sambil bertepuk tangan dengan tawa yang mengejek, orang itu muncul di depan Ardiaz dan Mac duff.


“Luar biasa. Benar-benar luar biasa. Suami sah dan... kekasih palsu, datang demi nona cantik itu. Hahahaha... Aku tak sangka kalian punya kelemahan yang sama. Hahaha...,” ucap orang itu yang tak lain adalah Martin, King interogator Lucifer.


Ardiaz sejak awal memang sudah curiga bahwa dia adalah penghianat di dalam Lucifer, sekaligus orang yang sudah menuntun geng mafia terbesar di negeri itu dalam pertempuran yang membuat Lucifer kehilangan banyak anggota, dan Ardiaz sempat koma beberapa pekan.


Begitu pun Mac duff yang sudah mendengar dan mencari tahu mengenai kecurigaan Ardiaz akan King tersebut.


Bahkan Joker, Alexa, Damian, terlebih Jordan yang sudah sejak awal melacak keterlibatan gangster luar yang tiba-tiba mengumumkan penyerangan ke Kota Orchid, tahu bahwa Martin terlibat dengan semua itu.


Hanya Devonshire dan Vermont yang masih belum jelas akan hal ini, dan masih mencari kejelasan akan keterlibatan salah satu anggotanya dengan organisasi lain.


Pasalnya, sejak dulu Martin belum pernah melakukan hal seperti ini, sehingga Devonshire tidak bisa percaya dengan mudah akan bukti yang coba dikirimkan Jordan secara anonim.


“Ah... Kenapa kau selalu saja lebih pintar dari ku, hah? Aku benci otak cerdas mu itu. Jangan bilang kalau kau sudah tahu sejak awal bahwa akulah pengkhianatnya,” gerutu Martin.


Ardiaz hanya menyunggingkan sebelah sudut bibirnya, sementara Mac duff masih memasang wajah datar dan dingin.


“Jadi, kau baru sadar kalau kau tidak berada di level yang sama dengan ku? Menyedihkan Lucifer bisa memiliki King b*doh seperti mu,” ejek Ardiaz.


Wajah Martin seketika merah padam akibat kesal dengan perkataan Ardiaz yang sudah sangat mempermalukannya, terlebih di depan anak buah sewaan Morgan.


Melihat lawannya berada di bawah todongan senjata api pasukannya, dia pun maju dan melayangkan sebuah pukulan keras ke wajah Ardiaz.

__ADS_1


Mac duff sempat hendak bertindak, namun dia segera berhenti saat melihat jari telunjuk Ardiaz yang mengacung ke atas, pertanda bagi Duke itu untuk tetap diam.


Sementara sang King palsu, dia nampak terkekeh dan menyeka lelehan merah dari sudut bibirnya.


“Bahkan pukulanmu pun masih jauh dari level ku. Pantas hanya cara pecundang yang bisa kau pikirkan untuk melawanku,” ejek Ardiaz lagi.


King plasu itu terus memprovokasi Martin sejak tadi, dan hal itu berhasil membuat sang King interogator naik pitam.


Dia tak bisa lagi diam melihat tingkah Ardiaz yang terus mengejeknya. Martin pun meraih sebuah senapan dari salah satu anak buah yang berada dekat dengannya, lalu menodongkan senjata itu tepat di depan wajah Ardiaz.


“Aku ingin tau, apa mulut kotor mu itu masih bisa sombong setelah peluru menembus kepalamu,” ucapnya.


Martin tersenyum mengejek ke arah Ardiaz, sementara King palsu yang sejak tadi terus berulah, seketika diam dengan tatapan tajam menikam manik hitam rivalnya.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2