
Beberapa waktu lalu, di luar ruang rawat Evangeline. Setelah Ardiaz masuk untuk melihat kondisi sang istri yang baru saja sadar, Hemachandra mengajak Malcolm untuk duduk di kursi tunggu yang ada di sana.
“Duduklah, Nak. Kau pasti lelah sudah bekerja seharian,” ajak Hemachandra.
Namun, Malcolm tak langsung mengikuti, akan tetapi dia tiba-tiba berlutut dihadapan pria paruh baya itu.
Hal tersebut sontak membuat Hemachandra terkejut dan menegakkan punggungnya.
“Ada apa, Nak? Kenapa kau...,” tanya Hemachandra bingung.
“Maafkan aku, Paman. Ini semua salah ku,” ucap Malcolm.
“Kenapa? Ada apa sebenarnya? Bangunlah,” seru Hemachandra.
Dia berusaha menarik Malcolm agar mau bangun dari posisinya. Namun, dokter muda itu tetap tak mau dan terus berlutut.
“Tidak, Paman. Aku harus berlutut padamu dan memohon ampun,” ucap Malcolm tertunduk.
Hemachandra merasa ada hal serius yang sudah terjadi, terkait kejadian yang menyangkut sang putri.
Di tambah, informasi yang didapat akan peristiwa penculikan itu begitu minim. Dia hanya mendengar bahwa seorang pebisnis besar di Kota Orchid telah melakukannya, akan tetapi media masih menyembunyikan nama dan juga wajah pelaku, karena belum resmi ditetapkan sebagai tersangka.
Ditambah, pemberitaan beberapa waktu yang lalu, tentang Malcolm yang tiba-tiba memutuskan untuk pergi menjadi dokter perang. Awalnya, Hemachandra mengira semua itu dilakukan sang dokter karena penolakan Evangeline.
Namun melihat Malcolm seperti ini, Hemachandra merasa bahwa sepertinya memang harus mendengarkan apa yang ingin diakui oleh sang dokter.
__ADS_1
“Katakanlah. Pengampunan atas apa yang kau inginkan?” tanya Hemachandra lembut.
“Semua... Semuanya yang sudah menimpa Paman... Dan juga Ardiaz,” jawab Malcolm.
“Ardiaz? Apa maksud mu?” tanya Hemachandra tak paham.
Akhirnya, Malcolm menceritakan semuanya. Mulai dari peristiwa keluarga Danurendra, penembakan Hemachandra di malam ulang tahun Evangeline, hingga penculikan yang terjadi pada wanita itu beberapa saat yang lalu, yang menyebabkan ardiaz dan istri kehilangan calon bayi mereka.
Pengakuan Malcolm itu begitu mengejutkan. Pasalny, Hemachandra juga belum tahu mengenai kehamilan sang putri yang telah hilang.
Pria paruh baya tersebut juga sangat tak percaya dengan semua yang dikatakan oleh Malcolm tentang penculikan itu.
Jika Morgan melakukan penculikan katena sakit hati putrinya sudah menolak anaknya, mungkin dia masih bisa mengerti.
“Tapi... Tapi, kenapa ayahmu sampai melakukan hal sejauh itu?” tanya Hemachandra tak habis pikir.
“Maafkan aku, Paman. Ayah suda hilang akal karena bisnisnya. Maafkan aku,” ucap Malcolm.
Hemachandra benar-benar marah dengan apa yang sudah diperbuat Morgan kepada dirinya dan sang putri.
Namun, dia pun tak bisa melimpahkan semua kesalahannya pada dokter yang sudah sangat baik itu pada keluarganya.
Ditambah, dia tetap berada di sisi Evangeline, bahkan di saat terburuk sekalipun. Yang terpenting, dia mau mengakui semua di depannya.
Hemachandra lalu membungkuk, dan meraih pundak dokter muda tersebut.
__ADS_1
“Bangunlah, Nak,” serunya.
Namun, Malcolm masih saja tak mau beranjak dan dia tetap tertunduk. Melihat hal itu, Hemachandra menarik nafas dalam dan menghelanya sekaligus.
“Nak, bukan kau yang seharusnya melakukan hal ini. Bukan kau yang bersalah. Kau tidak berhak di salahkan atas apa yang sudah ayahmu lakukan. Kau anak yang baik dan tulus. Paman bisa melihat itu dari mu. Bangunlah,” ucapnya.
Mendengar ucapan yang begitu lembut dan terdengar hangat dari orang yang sudah banyak disakiti sang ayah, Malcolm tak bisa lagi menahan diri.
Pundaknya perlahan berguncang, diikuti suara isak yang tertahan. Tetes demi tetes air mata pun berjatuhan menimpa lantai di bawahnya.
Hemachandra menyadari hal itu, dan dia memilih diam dan membiarkan sang dokter muda melepaskan beban yang selama ini dipikulnya.
Dengan lembut, pria paruh baya itu menepuk-nepuk pundak Malcolm, mencoba menenangkan pria tersebut.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi ada sepasang mata yang menyaksikan pengakuan Malcolm, dari balik pintu ruangan Evangeline.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih