A Love To Killer

A Love To Killer
BABAK 2 : Pencarian Malcolm


__ADS_3

FLASHBACK


Beberapa hari yang lalu, setelah Malcolm mengetahui rahasia tentang sang ayah, dia pun mencoba menyewa seorang detektif swasta yang ia kenal dari situs terbatas.


Dia meminta tolong orang tersebut untuk mencari ketiga pria kenalannya yang saat itu menjadi buronan Lucifer.


Seolah begitu mengenal salah satunya, detektif swasta itu langsung mengenali salah satu pria di foto yang ditunjukkan  oleh Malcolm.


“Aku mengenalnya. Dia adalah seorang bos di salah satu klub malam besar di kota ini. Dia di kenal dengan nama ‘Mike'," ungkap si detektif swasta.


Dari orang itu, Malcolm pun mengetahui informasi tentang pria bernama Mike yang tak lain adalah Mac duff, atau yang biasa mereka sebut sebagai Delta, salah satu Duke terganas di tubuh Lucifer.


Dia bahkan dengan mudah memberikan sebuah nomor ponsel yang ditulisnya di secarik kertas, dan menyerahkannya kepada sang dokter.


Awalnya, Malcolm curiga dengan kecepatan informasi yang didapat oleh si detektif tersebut.


Pasalnya, belum ada sehari, bahkan setengah hari pun belum terlewat, akan tetapi dia sudah bisa mengumpulkan informasi penting mengenai Mac duff.


“Aku tak akan meminta bayaran dari mu, jika nomer yang ku berikan salah,” ucap si detektif.


Akhirnya dengan ragu-ragu, Malcolm pun mengambil kertas tersebut, dan mengeluarkan segepok uang dari saku jasnya.


Namun, si detektif menolak dan justru meminta Malcolm untuk lebih dulu mengkonfirmasi nomor tersebut.

__ADS_1


Dokter muda itu pun menurut dan mulai memasukkan angka demi angka ke dalam layar monitor.


Dia lalu menekan tombol hijau dan membiarkan ponselnya memanggil nomor tersebut.


Tak berapa lama, panggilan itu pun diangkat.


“Alphabet apa yang kau tahu?” ucap orang di seberang.


Malcolm terlihat membelalak dengan pupil mata yang melebar, saat mendengar kalimat pertanyaan yang tak asing tersebut.


Tangannya bahkan seolah meremas ponsel di tangannya, karena terkejut dengan apa yang di dengarnya.


Dengan susah payah, dia menelan ludah dan tergagap menjawab pertanyaan tadi.


“Kau?” sahut suara di seberang yang sudah pasti itu adalah Mac duff.


“Ya, ini aku. Aku ingin bertemu kalian. Tidak... salah satu dari kalian pun tak apa,” ucap Malcolm.


Setelah mendengar perkataan dokter muda itu, Mac duff pun terdiam sejenak. Malcolm lagi-lagi bersuara dan meminta untuk bertemu dengan mantan bos sky night tersebut.


“Delta, aku harus bertemu dengan mu. Kalian punya hutang penjelasan padaku,” bujuk Mac duff.


“Aku tak ada waktu mengurusi dirimu lagi. Sebaiknya kau hidup normal dengan orang normal lainnya saja,” ucap Mac duff.

__ADS_1


“Kenapa? Apa karena masa lalu ayahku yang membuat kalian jijik pada ku?” terka Malcolm.


Mac duff kembali membelalak mendengar perkataan itu dari mulut anak Morgan Andara, pria yang menjadi target buruan mereka selama ini.


Menyadari Mac duff diam, Malcolm kembali berbicara.


“Jika kau harus melapor pada dia terlebih dulu, maka lakukanlah. Aku akan menunggu kabar dari mu. Hubungi aku kapan pun, atau aku yang akan mendatangi kalian tanpa diundang,” ucap Malcolm.


Dokter itu pun menutup panggilan. Dia sudah yakin bahwa nomor dari si detektif adalah benar.


Dia pun lalu memberikan bayaran, yang kali ini langsung diterima oleh si detektif tersebut, dan pergi dari tempat pertemuan rahasia mereka.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2